MEWUJUDKAN KEMERDEKAAN HAKIKI

Dilema Kemerdekaan Negeriku

Jumat pagi di bulan Ramadhan 72 tahun silam, tepatnya pada 17 Agustus 1945, presiden pertama Republik Indonesia Ir.Soekarno membacakan teks proklamasi di hadapan sejumlah rakyatnya. Pembacaan teks proklamasi tersebut menandakan awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Merdeka dari penjajahan fisik yang selama bertahun-tahun dilakukan oleh negara-negara kolonialis. Sejak saat itulah, 17 Agustus menjadi tanggal bersejarah bagi segenap bangsa Indonesia. Maka tak heran jika tiap tahunnya, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia. Berbagai ragam acara pun diselenggarakan untuk menyambut momen kemerdekaan ini. Mulai dari upacara, doa bersama, karnaval, hingga berbagai macam perlombaan khas 17-an. Hampir di setiap sudut desa dan kota terpasang bendera merah putih serta baliho-baliho yang bertuliskan ‘merdeka’. Namun, kemudian muncul pertanyaan di dalam benak kita, “Benarkah bangsa ini sudah merdeka?”.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna sesungguhnya dari kata ‘merdeka’ itu sendiri. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki arti sebagai berikut: 1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya) berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. (kbbi.co.id). Dengan memahami arti kata ‘merdeka’ tersebut, maka kita dapat melihat dan menganalisis secara lebih mendalam, sudahkah negeri kita ini layak menyandang status sebagai negeri yang benar-benar merdeka.

Jika merdeka diartikan sebagai bebas dari penjajahan, maka apakah negeri kita sudah sepenuhnya merdeka? Secara fisik mungkin kita telah merdeka dari penjajah, karena kita tidak lagi berhadapan dengan tentara Jepang yang membawa laras panjang. Akan tetapi perlu kita ketahui bahwa penjajahan ternyata tidak hanya berwujud fisik semata, tetapi juga dapat berwujud yang lain, seperti penjajahan ekonomi, penjajahan sumber daya alam, penjajahan pemikiran, dan lain sebagainya. Disadari atau tidak, saat ini negara kita Indonesia pun sedang dijajah perekonomiannya oleh Cina. (www.konfrontasi.com). Hal ini dapat kita lihat dari kependudukan warga negara Cina yang secara aktif dan masif memainkan bisnis di dalam negeri, seperti sekumpulan pengusaha Taipan yang sering dijuluki 9 naga. Kumpulan pengusaha beretnis Cina tersebut memiliki berbagai bisnis yang berkembang di Indonesia. Mulai dari bisnis korporasi media, real estate, dan lain-lain, termasuk di dalamnya proyek reklamasi Teluk Jakarta dan Meikarta juga tidak lepas dari peran serta mereka. Menurut pengamat komunikasi politik, Anang Sujoko, penjajahan ekonomi di Indonesia juga terlihat dari banyaknya produk-produk luar negeri yang membanjiri negara Indonesia. (m.inilah.com). Hal ini sebagaimana yang kita saksikan bersama, betapa banyaknya produk-produk impor yang dimasukkan ke negara kita hingga menggantikan bahkan mematikan produk-produk lokal Indonesia. Seperti garam, beras, buah, sayuran, hingga cangkul pun juga diimpor.

Tidak hanya dijajah secara ekonomi, Indonesia ternyata juga masih dijajah dari sisi sumber daya alamnya. Banyak kita jumpai eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh negara-negara asing terhadap sumber daya alam Indonesia. Salah satu contohnya adalah perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia, PT Freeport. Perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) ini ternyata telah menguasai gunung emas di Papua sejak tahun 1967. (ekbis.sindonews.com). Itu artinya, PT Freeport telah menjajah sumber daya alam negeri kita ini selama setengah abad. Bagaimana tidak dikatakan menjajah, jika dengan keuntungan PT Freeport yang bisa mencapai Rp 70 triliun per tahun, ternyata keuntungan yang diberikan kepada pemerintah Indonesia hanya sebesar Rp 8 triliun per tahun. (mediaharapan.com). Walaupun sudah jelas merugikan negara, namun pemerintah Indonesia justru memberikan sinyal perpanjangan kontrak kepada PT Freeport hingga tahun 2031. (m.republika.co.id). 

Bentuk dari penjajahan lainnya adalah berupa pemikiran. Penjajahan yang satu ini memang tidak tampak oleh mata atau bisa dikatakan penjajahan laten (terselubung). Walaupun tidak kasatmata, namun penjajahan secara pemikiran ini sangat berbahaya dampaknya. Mantan Jenderal Polisi, Brigjen Pol (Purn) Dr. Anton Tabah mengatakan, penjajahan pemikiran berupa paham sekuler saat ini sedang menerpa masyarakat Indonesia. Sekulerisasi berupaya menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai agama, dan ini memang upaya Barat menghancurkan tatanan masyarakat Indonesia. Akibatnya, masyarakat banyak yang mengambil rujukan dari Barat. (mirajnews.com). Hasilnya bisa kita lihat sendiri bagaimana generasi bangsa ini selalu mengekor pada budaya Barat. Diantara contohnya adalah freesex yang merajalela, LGBT yang menjadi tren, narkoba yang semakin diminati. Semua ini merupakan dampak dari berkembangnya paham sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kehancuran generasi penerus bangsa tinggal menunggu waktu.

Selanjutnya, jika merdeka diartikan sebagai kebebasan berserikat dan menyampaikan pendapat, maka tentu sudah menjadi rahasia umum bagi kita bahwa negeri ini belum merdeka. Pasalnya, akhir-akhir ini justru pemerintah telah merampas hak-hak warga negaranya sendiri dalam hal berserikat dan menyampaikan pendapat. Ormas Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia yang berperan aktif membina masyarakat malah dibubarkan begitu saja dengan alasan yang terlalu diada-adakan. Sedangkan perkumpulan yang aktif merusak masyarakat justru dibiarkan berkembang. Organisasi-organisasi Islam yang menuntut keadilan atas pelecehan kitab sucinya malah diperkarakan terkait dana yang digunakan. Padahal dana tersebut berasal dari sumbangsih umat Islam itu sendiri. Sedangkan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat yang jelas-jelas merugikan negara tidak diusut secara tuntas. 

Jika merdeka diidentikkan dengan kebebasan beragama dan beribadah, maka bagaimana bisa dikatakan merdeka jika ternyata untuk melakukan salat Jumat saja masih dihalangi. Hal inilah yang dialami oleh sejumlah karyawan PT Indonesia Tshing Shang Stainless Steel (PT ITSS) yang dilarang melakukan salat Jumat oleh atasannya. Bagaimana bisa dikatakan merdeka jika masih ada muslimah yang dilarang mengenakan hijab. Seperti kasus pelarangan hijab di sekolah yang terjadi beberapa waktu lalu di Bali. (m.republika.co.id). Bagaimana bisa dikatakan merdeka jika umat Islam yang berdakwah dianggap menebar kebencian, pembuat makar, teroris, lalu dilaporkan dengan tuduhan-tuduhan miring. Para ulama dikriminalisasi, tapi penjahat berdasi tetap dilindungi. 

Belum lagi penderitaan yang terus-menerus ditanggung oleh rakyat atas kebijakan-kebijakan yang ditelurkan pemerintah. Berbagai kebutuhan pokok rakyat justru dinaikkan harganya. Listrik, BBM, hingga garam, harganya semakin melambung tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah 6.900 orang sejak September 2016 hingga Maret 2017 menjadi 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk Indonesia). (m.tempo.co). Tingginya biaya pendidikan juga menjadikan tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Data UNICEF tahun 2016 mencatat sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan. Yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia SMP. (student.cnnindonesia.com). 

Beginilah potret kelamnya bangsa Indonesia. Bangsa yang dikatakan telah 72 tahun merdeka, ternyata masih jauh dari gambaran kemerdekaan yang hakiki. Bangsa ini hanya merdeka dari sisi fisik saja, sedangkan dari sisi ekonomi, politik, budaya, pemikiran, masih terbelenggu oleh penjajahan asing. Lalu, bagaimana gambaran kemerdekaan hakiki yang seharusnya kita wujudkan?

Kemerdekaan Hakiki dalam Islam

Sekitar 1400 tahun yang lalu, Rasulullah Muhammad SAW. telah memberikan contoh dan teladan kepada kaum muslimin tentang bagaimana mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Di saat kondisi bangsa Arab saat itu masih jahiliyah dan kelam. Kebiasaan-kebiasaan menyembah berhala, mabuk-mabukan, berzina, hingga membunuh anak-anak perempuan mereka. Dan Rasul kita yang mulia, Muhammad SAW., tinggal di tengah-tengah lingkungan yang jahiliyah tersebut. Namun, Rasulullah SAW. tidak hanya berdiam diri, pasrah ataupun meratapi kondisi yang ada. Sebagai seorang Rasul, Beliau SAW. berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat dengan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru Arab. Ada yang menerima, banyak yang menolak. Rasul dikatakan gila, disebut sebagai tukang sihir yang memisahkan manusia dari keluarganya. Rasul juga pernah diludahi, berusaha dibunuh, bahkan diboikot selama bertahun-tahun. Tetapi Rasul dan para sahabat Beliau yang setia tetap bersabar dan terus melakukan dakwah. 

Rasulullah SAW. bersabda, “Ucapkanlah satu kata, jika kalian memberikannya maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan orang non-Arab akan membayar jizyah kepada kalian.” Rasul melanjutkan, “Katakanlah, Laa illaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah).” (HR. Tirmidzi).

Setelah berdakwah selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah SAW. berhasil mewujudkan masyarakat Islam di Madinah. Rasulullah memimpin dan mengatur masyarakat Madinah dengan syariat Allah, dan menyebarkan Islam ke seluruh wilayah di sekitarnya. Maka tak lama kemudian, pada tahun delapan hijriyah, Rasulullah SAW. akhirnya berhasil mengubah bangsa Arab jahiliyah menjadi bangsa yang sangat mulia. Melalui peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), Allah menyelamatkan kota Mekkah dari belenggu kesyirikan dan kedzaliman menjadi kota yang bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Melalui peristiwa ini pula, Allah mengubah kota Mekkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala. (muslim.or.id). 

Tidak hanya membebaskan kota Mekkah, dengan dakwah, Rasulullah SAW. juga mampu menjadikan Islam berjaya menjadi peradaban besar yang memimpin dunia. Bahkan, peradaban Islam mampu menutup dua imperium besar yang sangat dzalim pada masa itu, yakni Kekaisaran Persia di Timur dan Imperium Romawi di Barat. (bkim.lk.ipb.ac.id). Sahabat Rabi’ bin Amir ra. dalam dialognya dengan Raja Kisra, ketika ditanya tentang motif pembebasan yang dilakukan kaum muslimin pada saat itu. Beliau menyatakan, “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan manusia pada manusia lain kepada penyembahan semata-mata pada Tuhannya manusia, dan dari sempitnya dunia pada luasnya kehidupan akhirat, dari ketidakadilan keyakinan-keyakinan (agama-agama) pada keadilan Islam…”. (banuasyariah.com). Inilah makna kemerdekaan hakiki dalam Islam, yaitu terbebas dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah semata.

 Maka semakin jelaslah perbedaan dorongan pembebasan yang dilakukan oleh orang-orang Barat dengan pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Barat berusaha menguasai daerah baru untuk dijajah dan dieksploitasi hasil buminya tanpa sisa. Inilah semangat Gold, Glory and Gospel (emas, kekuasaan, dan agama). Hal ini terbukti dengan tidak adanya satupun daerah bekas jajahan mereka –termasuk Indonesia– sepeninggal penjajah yang berubah menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, yang tersisa adalah derita, duka, dan nestapa. (al-azharpress.com). Maka kemerdekaan yang didapatkan pun hanyalah kemerdekaan semu. 

 Hal ini tentu berbeda dengan pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Misi pembebasan kaum muslimin ketika memperluas kekuasaannya adalah misi dakwah menyerukan tauhid. Semangat membebaskan manusia dari perbudakan menuju penghambaan kepada Allah semata. Mengubah manusia dari pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang sesat dan kufur menjadi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tinggi dan mulia, yang diatur dengan syariat Allah. Maka sudah terbukti dan tidak diragukan lagi bahwa kemerdekaan yang dihasilkan dari pembebasan Islam bukanlah kemerdekaan semu. 

Sebagaimana kisah Sultan Abdul Hamid II yang berusaha menjaga tanah Palestina dari kaum Yahudi. Saat tanah Palestina masih menjadi bagian dari wilayah kekhalifahan Turki Utsmani, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan izin untuk tinggal di Palestina. Permohonan tersebut dijawab oleh Sultan Abdul Hamid II dengan ucapan, “Pemerintah Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina.”. Usaha Yahudi untuk menguasai tanah Palestina tidak cukup sampai di situ. Selanjutnya, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi dunia yang sekaligus penggagas negara Yahudi, pada 1896 memberanikan diri menemui Sultan untuk meminta izin mendirikan gedung di al-Quds. Permohonan itu dijawab Sultan, “Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri.”.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan untuk menyogok dengan memberikan uang 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan, membayar semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling, membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank, memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga, dan membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina. Namun semua tawaran tersebut ditolak oleh Sultan. Melalui perdana menterinya, Sultan pun mengirimkan pesan, “Nasihat Mr. Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah ini adalah tanah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”. (m.republika.co.id).

Mewujudkan Kembali Kemerdekaan Hakiki

Demikianlah gambaran kemerdekaan hakiki yang dirasakan umat Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Kondisi di mana negara tidak bergantung kepada pihak asing. Khalifah juga memiliki ketegasan menolak keinginan asing untuk menginjakkan kakinya di wilayah kekuasaan khilafah, sekalipun disogok dengan uang. Maka rakyat pun merasa terlindungi dan tidak terampas hak-haknya. Rakyat juga dapat menjalankan semua aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam. Karena hanya syariat Islam saja yang diterapkan oleh negara untuk dijalankan oleh seluruh rakyatnya.

Tentunya kita menginginkan kondisi yang dirasakan pada masa kekhilafahan Islam tersebut bisa kita rasakan kembali pada kehidupan kita saat ini. Hal itu bukanlah suatu yang mustahil. Karena Allah telah menjanjikan kemenangan bagi kaum muslimin melalui firman-Nya di dalam QS. An-Nur: 55:

“…dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Maka tidak ada cara lain untuk mewujudkan kembali kemerdekaan hakiki tersebut selain dengan cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW., yaitu dengan sabar dan tulus ikhlas berdakwah menyerukan penerapan syariat Islam secara menyeluruh di dalam berbagai sendi kehidupan. Insyaallah kemenangan itu nyata bagi orang-orang yang yakin. 

Wallahua’lam bish showab.[]

Iklan

Minadzulumati ilan Nur

Di usiaku yang ke-17 tahun, aku mendapatkan kado teristimewa dari ibuku. Sepasang pakaian seragam lengan panjang lengkap dengan kerudungnya. Itu artinya, kelas XI nanti aku mulai mengenakan kerudung ke sekolah.

Di hari pertamaku masuk sekolah dengan mengenakan kerudung, temanku mengajakku untuk mengikuti sebuah pengajian sepulang sekolah. Aku langsung mengiyakan karena aku merasa sangat membutuhkan ilmu agama. Aku tak mau hanya sekedar berkerudung tanpa memahami ilmu agama. Dan hari itu sepulang sekolah, setelah aku menelepon ibuku untuk meminta ijin, aku dan beberapa temanku berangkat ke pengajian. Tempatnya di sebuah musholla di depan sekolahku. Kami berjalan bersama-sama. Sampai di musholla, kami sholat Dzuhur terlebih dahulu. Kemudian kajian pun dimulai.

Awalnya aku mengira kajian ini akan membahas tentang sabar, shalat, puasa, atau hal-hal seputar Islam yang sering aku dapatkan di pengajian umum maupun pelajaran agama di sekolah. Namun, dugaanku meleset. Kajian ini ternyata tidak membahas itu. Materi yang disampaikan di dalam kajian ini sangat di luar dugaanku. Baca lebih lanjut

Jangan Takut Jatuh Cinta

kata-kata jatuh cintaGirls, kalian pasti pernah merasakan jatuh cinta kan? Itu loh, perasaan suka sama seseorang, pengennya dekeeet terus sama si dia. Dia dia dia… Ngaku aja, pasti pernah kan? Ngga usah takut, jatuh cinta itu ngga dosa kok, girls. Beneran!

Cinta itu fitrah yang pasti dimiliki oleh setiap insan yang bernyawa. Termasuk kita. Jadi, selama kita masih bernyawa, wajar kalau kita bisa merasakan cinta. Nah, tau ngga girls? Sebenarnya perasaan cinta itu sendiri adalah wujud dari salah satu naluri (gharizah) yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu naluri berkasih sayang kepada makhluk (gharizah nau’). Naluri ini diciptakan oleh Allah sudah satu paket dengan penciptaan manusia. Jadi, semua manusia pasti punya gharizah nau’ ini, girls. Baik dia itu muslim ataupun non-muslim, laki-laki maupun perempuan. Baca lebih lanjut

Dauroh Dirosah Islamiyah MHTI Malang Raya

IMG_0482Malang – Ahad (19/4), Lajnah Khas Ustadzah dan Mubalighah (LKUM) Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya mengadakan acara Dauroh Dirosah Islamiyah. Acara yang bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah Kepanjen ini mengangkat tema “Feminisme Menghancurkan Perempuan dan Keluarga”.

Sebagaimana disampaikan oleh ustadzah Irsyada dalam sambutannya, bahwa saat ini kaum feminis begitu gencar menyerukan kesetaraan gender antara kaum perempuan dan laki-laki. Menurutnya, ide kesetaraan gender ini sangat berbahaya dan dapat mengancam perempuan dan keluarga.

“Kaum muslimin haruslah memahami bagaimana posisi perempuan yang sesungguhnya di dalam Islam agar tidak terjebak oleh ide feminisme tersebut”, ungkapnya. Baca lebih lanjut

Aksi Kampanye Darat Perempuan dan Syariah

Malang- Ahad (8/3), Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya menggelar aksi Kampanye Darat Perempuan dan Syariah, dengan tema “Akhiri Tuduhan Palsu terhadap Syariah”. Kampanye ini dilakukan di Velodrom, Car Free Day Ijen, dan Pasar Kepanjen.

Sebagaimana tema yang diusung, kampanye ini dilakukan dalam rangka meluruskan tuduhan-tuduhan miring terhadap syariah Islam, khususnya yang berkaitan dengan kedudukan, hak, serta peran perempuan. Melalui kampanye ini, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya berusaha menjelaskan kepada masyarakat tentang bagaimana syariah Islam memuliakan perempuan. Yaitu tentang status, hak, peran, serta kehidupan perempuan secara umum yang diatur dalam syariah Islam.

Kampanye ini diwarnai dengan aksi sebar leaflet (selebaran) dan memajang poster yang berisi seruan untuk kembali pada syariah dan khilafah. Selebaran yang disebarkan dalam kampanye ini diantaranya berisi penjelasan tentang peran perempuan, khilafah memuliakan perempuan, serta profil Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Tidak hanya menyebarkan opini melalui leaflet, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya juga melakukan wawancara singkat kepada beberapa perempuan yang berada di sekitar tempat berlangsungnya aksi. []

Antara Kemiskinan dan ‘Khilaf’ Orang Tua

Beberapa waktu lalu, Kabupaten Malang khususnya daerah Wagir dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang anak oleh ayahnya sendiri. Anak yang masih berusia 7 tahun dipukul oleh ayahnya sendiri dengan menggunakan bambu hingga meninggal dunia. Sang ayah yang baru pulang dari sawah rupanya tak kuasa mengendalikan emosinya saat melihat kedua anaknya bertengkar rebutan baju. Ia pun segera mengambil bambu yang kemudian digunakannya untuk memukuli anak-anaknya. Salah satu dari kedua anaknya dipukuli hingga berdarah dan hilang nyawa. Ketika sang ayah dimintai keterangan oleh polisi, ia mengaku telah khilaf.

Fenomena orang tua yang membunuh anaknya ini bukanlah hal baru. Banyak kasus serupa yang terjadi di negeri ini. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang emosi, ada juga yang terpaksa karena tak mampu membiayai anak-anak mereka. Namun, satu alasan yang biasa terlontar, khilaf.

Dalam kondisi normal, rasanya tidak mungkin orang tua sampai lupa (khilaf) terhadap anaknya sendiri hingga tega membunuhnya. Namun dalam kondisi saat ini, ternyata kekhilafan tersebut bisa saja terjadi, bahkan telah menjadi fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat. Sonia Wibisono, dokter yang aktif dalam kegiatan penyuluhan pencegahan kasus KDRT di Indonesia, pernah mengungkapkan bahwa kemiskinan dan minimnya pendidikan yang dimiliki oleh orang tua diindikasikan sebagai salah satu penyebab munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Baca lebih lanjut

Remaja, Tanggungjawab Keluarga Hingga Negara

Pengajian Akbar MalangMalang – Puluhan ibu-ibu menghadiri acara Pengajian Akbar Bersama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Malang, pada Ahad (22/2). Acara yang bertempat di Aula Kecamatan Blimbing Malang ini mengangkat tema “Remaja Kita dalam Ancaman Liberalisme”. Dalam acara ini hadir dua orang pembicara dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang, yaitu ustadzah Muthi’ah dan ustadzah Kholishoh Dzikri.

Materi pertama tentang generasi dalam ancaman liberalisme disampaikan oleh ustadzah Muthi’ah. Dalam penjelasannya, ustadzah Muthi’ah menggambarkan fakta-fakta kondisi generasi saat ini yang sangat memprihatinkan. Di mana para remaja banyak disuguhi program ataupun bacaan-bacaan yang mengarah pada kebebasan bertingkah laku (liberalisme). Misalnya, adanya pekan kondom nasional yang justru melegalkan seks bebas. Selain itu, adanya bacaan yang mengajarkan remaja untuk mesum, seperti buku yang berjudul ‘Saatnya Aku Belajar Pacaran’, yang dibiarkan beredar di pasaran dan dijual secara umum.

“Bahkan, sekolah yang seharusnya menjadi tempat pendidikan bagi remaja, justru diajarkan pacaran sehat”, ungkapnya miris. Baca lebih lanjut