Fenomena Hijrah Kaum Milenial

Oleh: Rizki Amelia Kurnia Dewi, S.I.Kom. (Anggota Komunitas Sahabat Shalihah Bojonegoro)

Gelombang Hijrah dan Respon Masyarakat

Di tengah situasi tahun politik yang panas akhir-akhir ini, muncul fenomena arus hijrah yang luar biasa dari kalangan generasi milenial. Puluhan komunitas hijrah mulai bermunculan dan disambut antusiasme para pemuda pemudi milenial. Mulai dari komunitas yang berlevel nasional hingga yang berlevel lokal. Bahkan, ada juga komunitas hijrah yang dibentuk oleh para artis dan selebritis. Komunitas tersebut beranggotakan banyak artis tenar yang telah berhijrah. Selain banyaknya komunitas, fenomena hijrah kaum milenial ini juga didukung oleh banyaknya event-event hijrah yang diselenggarakan.

Baca lebih lanjut

Generasi Muda dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

Pemuda adalah tonggak perubahan bangsa. Di pundak-pundak mereka lah masa depan bangsa digantungkan. Pemuda sejatinya punya peran mulia, salah satunya adalah sebagai agen perubah. Tuntutan peran inilah yang mengharuskan para pemuda peka terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Peran ini juga, yang menjadikan pemuda-pemuda di masa kemerdekaan dulu, tergerak untuk memikirkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Hingga mereka pun berhasil menyusun sebuah ikrar, sumpah pemuda.

Namun, ternyata gelombang sistem kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini rupanya telah menggerus idealisme pemuda hari ini. Pemuda seakan lupa dengan jati dirinya sebagai agen perubah bangsa. Ia secara tak sadar justru menjadi benih-benih perusak bangsa. Sering kita saksikan berita tentang kerusakan moral pemuda. Berbuat mesum, mencuri, membunuh, mengonsumsi narkoba, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.

Baca lebih lanjut

Dzulhijjah Ceria SDI Luqman Al-Hakim

DSCF4038.JPGKamis pagi di bulan Dzulhijjah. Tidak seperti sekolah-sekolah lainnya yang telah kembali aktif setelah libur Idul Adha, SDI Luqman Al-Hakim Bojonegoro justru menggelar acara Dzulhijjah Ceria hari ini, Kamis (23/8). Setelah melaksanakan shalat Dhuha berjamaah, siswa siswi SDI Luqman Al-Hakim berbondong-bondong menyaksikan penyembelihan hewan kurban di halaman sekolah.

Sebanyak 1 ekor sapi dan beberapa ekor kambing berhasil disembelih oleh pihak sekolah. Para siswa tampak antusias berkumpul mengelilingi hewan kurban yang akan disembelih, sambil berulang kali meneriakkan takbir Idul Adha bersama-sama.

Setelah selesai menyembelih hewan kurban, para siswa pun bersemangat untuk ikut memasak daging tersebut. Ada yang ikut menusuk sate, ada yang ikut membakar sate. Selain dimasak, sebagian daging hasil sembelihan kurban tersebut juga dibagikan kepada para siswa, guru, serta masyarakat sekitar. Baca lebih lanjut

Semarak Kemerdekaan di SDI Luqman Al-Hakim

SDISUARABOJONEGORO.COM – Dari tahun ke tahun, momen kemerdekaan selalu menghadirkan suasana ceria. Bulan Agustus selalu diwarnai oleh kerlap-kerlip lampu, kibaran bendera, serta aneka macam perlombaan. Tidak hanya warga di masyarakat desa maupun kota, para pelajar di sekolah pun tidak mau ketinggalan untuk turut merayakan momen bersejarah ini. Seperti yang dilakukan oleh siswa siswi SDI Luqman Al-Hakim Bojonegoro, Rabu (15/8).

Seusai menunaikan shalat Dhuha berjamaah, para pelajar SD Integral ini berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti lomba Agustusan. Berbagai macam perlombaan diselenggarakan oleh sekolah dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ke-73.

Lomba-lomba yang diadakan antara lain adalah lomba membaca puisi, menggambar poster, lomba kelereng, estafet karet, memindahkan balon, dan tarik tambang. Selain itu, ada juga lomba kebersihan kelas. Baca lebih lanjut

Guru yang Tak Pernah Marah itu Bernama Buku

Saat duduk di bangku sekolah, mungkin kita pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran tertentu. Sudah lah pelajarannya sulit, guru yang mengajarkannya pun galak. Berkali-kali dijelaskan masih belum paham juga. Inginnya menerapkan pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, namun apa daya baru mau bertanya sudah kena ‘semprot’ duluan. Nasib nasib. Lengkaplah sudah penderitaan. Pupus sudah harapan awak untuk menjadi ilmuwan terkenal.

Cerita tersebut hanyalah salah satu ilustrasi yang mungkin sebagian orang pernah mengalaminya. Ketika seorang pelajar kesulitan dalam memahami suatu pelajaran, sedangkan ia takut untuk bertanya kepada gurunya. Maka, sampai kapanpun ia tak akan pernah paham jika ia hanya diam membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Bahkan, bisa jadi ia akan menganggap pelajaran tersebut sebagai ‘momok’ yang menyeramkan. Yang setiap kali ia jumpai di dalam soal ujian, ia pun akan beristighfar sambil menghembuskan napas dalam-dalam. Lalu berkata dalam hati, “Inilah saatnya menghitung kancing dan tengok kanan kiri.”. Baca lebih lanjut

Kartini, Tak Sekadar Kebaya dan Konde

Bulan April selalu identik dengan Hari Kartini. Tepatnya tiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati hari kelahiran pahlawan yang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita, yaitu RA Kartini. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari anak TK sampai orang dewasa bersuka cita menyambut Hari Kartini ini dengan mengadakan berbagai lomba serta kegiatan sosial. Dari seluruh perayaan yang diselenggarakan, ada satu kesamaan yang menjadi ciri khas dari momen Kartini ini, yakni kebaya dan konde.

Ibarat sebuah tradisi, budaya ber-kebaya dan ber-konde selalu dilekatkan pada wanita Indonesia, termasuk sosok ibu kita Kartini. Tak sedikit masyarakat Indonesia, terutama kaum wanita, yang sangat bangga ketika mengenakan kebaya dan konde. Seolah mereka telah menjelma menjadi sosok yang anggun, bermartabat, serta menjunjung tinggi nasionalisme. Hingga salah satu tokoh di negeri ini pun menciptakan sebuah puisi yang begitu mengagungkan konde sebagai warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Baca lebih lanjut

Memaknai Perjuangan Kartini

Kartini selalu dilekatkan dengan sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita. Mengangkat harkat dan derajat kaum wanita yang dahulu dianggap sebagai pihak yang lemah dan tak diperhitungkan, menjadi kaum yang tegas, mandiri, serta berpendidikan. Kisah-kisah Kartini yang selalu dikenang adalah tentang perjuangannya menjadikan para wanita dapat mengenyam bangku sekolah. Kartini seolah ingin menjelaskan kepada dunia, bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin laki-laki maupun wanita.
Namun, sangat disayangkan, perjuangan mulia Kartini itu kini justru disalah artikan oleh para pengemban ide feminisme. Atas nama emansipasi wanita, kaum feminis berkoar-koar meneriakkan kesetaraan gender. Menuntut agar para wanita diberikan posisi yang setara dengan laki-laki. Tidak hanya dalam hal pendidikan, kaum feminis juga menuntut kesetaraan dengan kaum adam dalam segala hal, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga gaya berpakaian. Bahkan, mereka rela melakukan aksi ‘telanjang dada’ hanya demi sebuah protes ‘kenapa hanya laki-laki yang boleh bertelanjang dada, sedangkan kami tidak?’. Sungguh, ini adalah hal bodoh yang sangat memalukan dan tidak masuk akal.

Baca lebih lanjut