Minadzulumati ilan Nur

Di usiaku yang ke-17 tahun, aku mendapatkan kado teristimewa dari ibuku. Sepasang pakaian seragam lengan panjang lengkap dengan kerudungnya. Itu artinya, kelas XI nanti aku mulai mengenakan kerudung ke sekolah.

Di hari pertamaku masuk sekolah dengan mengenakan kerudung, temanku mengajakku untuk mengikuti sebuah pengajian sepulang sekolah. Aku langsung mengiyakan karena aku merasa sangat membutuhkan ilmu agama. Aku tak mau hanya sekedar berkerudung tanpa memahami ilmu agama. Dan hari itu sepulang sekolah, setelah aku menelepon ibuku untuk meminta ijin, aku dan beberapa temanku berangkat ke pengajian. Tempatnya di sebuah musholla di depan sekolahku. Kami berjalan bersama-sama. Sampai di musholla, kami sholat Dzuhur terlebih dahulu. Kemudian kajian pun dimulai.

Awalnya aku mengira kajian ini akan membahas tentang sabar, shalat, puasa, atau hal-hal seputar Islam yang sering aku dapatkan di pengajian umum maupun pelajaran agama di sekolah. Namun, dugaanku meleset. Kajian ini ternyata tidak membahas itu. Materi yang disampaikan di dalam kajian ini sangat di luar dugaanku. Baca lebih lanjut

Jangan Takut Jatuh Cinta

kata-kata jatuh cintaGirls, kalian pasti pernah merasakan jatuh cinta kan? Itu loh, perasaan suka sama seseorang, pengennya dekeeet terus sama si dia. Dia dia dia… Ngaku aja, pasti pernah kan? Ngga usah takut, jatuh cinta itu ngga dosa kok, girls. Beneran!

Cinta itu fitrah yang pasti dimiliki oleh setiap insan yang bernyawa. Termasuk kita. Jadi, selama kita masih bernyawa, wajar kalau kita bisa merasakan cinta. Nah, tau ngga girls? Sebenarnya perasaan cinta itu sendiri adalah wujud dari salah satu naluri (gharizah) yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu naluri berkasih sayang kepada makhluk (gharizah nau’). Naluri ini diciptakan oleh Allah sudah satu paket dengan penciptaan manusia. Jadi, semua manusia pasti punya gharizah nau’ ini, girls. Baik dia itu muslim ataupun non-muslim, laki-laki maupun perempuan. Baca lebih lanjut

Dauroh Dirosah Islamiyah MHTI Malang Raya

IMG_0482Malang – Ahad (19/4), Lajnah Khas Ustadzah dan Mubalighah (LKUM) Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya mengadakan acara Dauroh Dirosah Islamiyah. Acara yang bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah Kepanjen ini mengangkat tema “Feminisme Menghancurkan Perempuan dan Keluarga”.

Sebagaimana disampaikan oleh ustadzah Irsyada dalam sambutannya, bahwa saat ini kaum feminis begitu gencar menyerukan kesetaraan gender antara kaum perempuan dan laki-laki. Menurutnya, ide kesetaraan gender ini sangat berbahaya dan dapat mengancam perempuan dan keluarga.

“Kaum muslimin haruslah memahami bagaimana posisi perempuan yang sesungguhnya di dalam Islam agar tidak terjebak oleh ide feminisme tersebut”, ungkapnya. Baca lebih lanjut

Aksi Kampanye Darat Perempuan dan Syariah

Malang- Ahad (8/3), Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya menggelar aksi Kampanye Darat Perempuan dan Syariah, dengan tema “Akhiri Tuduhan Palsu terhadap Syariah”. Kampanye ini dilakukan di Velodrom, Car Free Day Ijen, dan Pasar Kepanjen.

Sebagaimana tema yang diusung, kampanye ini dilakukan dalam rangka meluruskan tuduhan-tuduhan miring terhadap syariah Islam, khususnya yang berkaitan dengan kedudukan, hak, serta peran perempuan. Melalui kampanye ini, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya berusaha menjelaskan kepada masyarakat tentang bagaimana syariah Islam memuliakan perempuan. Yaitu tentang status, hak, peran, serta kehidupan perempuan secara umum yang diatur dalam syariah Islam.

Kampanye ini diwarnai dengan aksi sebar leaflet (selebaran) dan memajang poster yang berisi seruan untuk kembali pada syariah dan khilafah. Selebaran yang disebarkan dalam kampanye ini diantaranya berisi penjelasan tentang peran perempuan, khilafah memuliakan perempuan, serta profil Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

Tidak hanya menyebarkan opini melalui leaflet, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya juga melakukan wawancara singkat kepada beberapa perempuan yang berada di sekitar tempat berlangsungnya aksi. []

Antara Kemiskinan dan ‘Khilaf’ Orang Tua

Beberapa waktu lalu, Kabupaten Malang khususnya daerah Wagir dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang anak oleh ayahnya sendiri. Anak yang masih berusia 7 tahun dipukul oleh ayahnya sendiri dengan menggunakan bambu hingga meninggal dunia. Sang ayah yang baru pulang dari sawah rupanya tak kuasa mengendalikan emosinya saat melihat kedua anaknya bertengkar rebutan baju. Ia pun segera mengambil bambu yang kemudian digunakannya untuk memukuli anak-anaknya. Salah satu dari kedua anaknya dipukuli hingga berdarah dan hilang nyawa. Ketika sang ayah dimintai keterangan oleh polisi, ia mengaku telah khilaf.

Fenomena orang tua yang membunuh anaknya ini bukanlah hal baru. Banyak kasus serupa yang terjadi di negeri ini. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang emosi, ada juga yang terpaksa karena tak mampu membiayai anak-anak mereka. Namun, satu alasan yang biasa terlontar, khilaf.

Dalam kondisi normal, rasanya tidak mungkin orang tua sampai lupa (khilaf) terhadap anaknya sendiri hingga tega membunuhnya. Namun dalam kondisi saat ini, ternyata kekhilafan tersebut bisa saja terjadi, bahkan telah menjadi fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat. Sonia Wibisono, dokter yang aktif dalam kegiatan penyuluhan pencegahan kasus KDRT di Indonesia, pernah mengungkapkan bahwa kemiskinan dan minimnya pendidikan yang dimiliki oleh orang tua diindikasikan sebagai salah satu penyebab munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Baca lebih lanjut

Remaja, Tanggungjawab Keluarga Hingga Negara

Pengajian Akbar MalangMalang – Puluhan ibu-ibu menghadiri acara Pengajian Akbar Bersama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Malang, pada Ahad (22/2). Acara yang bertempat di Aula Kecamatan Blimbing Malang ini mengangkat tema “Remaja Kita dalam Ancaman Liberalisme”. Dalam acara ini hadir dua orang pembicara dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang, yaitu ustadzah Muthi’ah dan ustadzah Kholishoh Dzikri.

Materi pertama tentang generasi dalam ancaman liberalisme disampaikan oleh ustadzah Muthi’ah. Dalam penjelasannya, ustadzah Muthi’ah menggambarkan fakta-fakta kondisi generasi saat ini yang sangat memprihatinkan. Di mana para remaja banyak disuguhi program ataupun bacaan-bacaan yang mengarah pada kebebasan bertingkah laku (liberalisme). Misalnya, adanya pekan kondom nasional yang justru melegalkan seks bebas. Selain itu, adanya bacaan yang mengajarkan remaja untuk mesum, seperti buku yang berjudul ‘Saatnya Aku Belajar Pacaran’, yang dibiarkan beredar di pasaran dan dijual secara umum.

“Bahkan, sekolah yang seharusnya menjadi tempat pendidikan bagi remaja, justru diajarkan pacaran sehat”, ungkapnya miris. Baca lebih lanjut

Selamatkan Ibu dan Anak dari Ancaman Globalisasi

11001909_602626856539650_3335294087601889118_nMalang- Dalam rangka mencari solusi atas permasalahan perempuan, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPC Lowokwaru Malang mengundang puluhan perempuan untuk berdiskusi bersama dalam acara Dauroh Akbar. Acara yang diselenggarakan di Omah Katzhen Waroeng and Café pada Ahad (15/2) ini mengambil tema Selamatkan Ibu dan Anak dari Globalisasi. Sekitar 60 orang perempuan dari kalangan masyarakat umum dan mahasiswa turut hadir dalam acara.

Dauroh Akbar ini diawali dengan talkshow yang dipandu oleh ustadzah Badriyah, serta menghadirkan dua pembicara yaitu ustadzah Najmah Millah dan ustadzah Netty Susilowati. Dalam pemaparannya, kedua pembicara ini menyampaikan tentang dampak globalisasi terhadap perempuan. Globalisasi yang menjadikan perempuan tersibukkan dengan dunia kerja hingga melupakan peran utamanya sebagai al-umm wa rabbatul bait. Bahkan, dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan yang dapat mengurangi kemiskinan, perempuan akhirnya berbondong-bondong mencari penghasilan dengan bekerja. Baca lebih lanjut