Bunuh Sejenak Sumpah Pemuda!

Tanggal 28 Oktober, para pemuda boleh berbangga. Sejarah telah mengukir hari ini sebagai hari Sumpah Pemuda. Hari dimana para pemuda berserikat menuntut kemerdekaan Indonesia atas penjajahan asing. Gebrakan yang dilakukan oleh para pemuda bangsa pada 82 tahun lalu, telah berhasil menorehkan rumusan sumpah pemuda. Tepat 28 Oktober 1928, ribuan pemuda memadati sebuah bangunan di jalan Kramat Raya 106 untuk membacakan Sumpah Pemuda.

Rumusan sumpah pemuda yang merupakan hasil Kongres Pemuda II tersebut berisi tiga poin, antara lain sebagai berikut[1] :

  1. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
  2. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  3. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikatan nasionalisme telah menggerakkan para pemuda kala itu untuk bersatu demi merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Perang fisik yang terjadi di tengah-tengah kondisi bangsa yang terjajah, rupanya mampu memberikan suntikan semangat dalam diri para pemuda. Namun sayangnya, semangat itu hanyalah semangat semu. Mereka bersatu karena terikat oleh semangat nasionalisme. Ikatan satu tanah air, satu bangsa, serta satu bahasa. Ikatan semu yang hanya muncul saat adanya serangan dari luar yang mengancam mereka. Pemuda merasa terancam dengan serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh penjajah. Hal inilah yang akhirnya menggerakkan mereka untuk melakukan perlawanan. Bersatu (hanya) saat dijajah secara fisik. Namun, ketika penjajahan fisik itu telah berakhir, semangat nasionalisme pun turut surut. Sehingga salah besar jika kita berharap pada ikatan nasionalisme. Ikatan semu, mudah hilang, dan tidak shahih (benar). Baca lebih lanjut

Hilangnya Ruang Terbuka Hijau di Kampusku

Malang- Mahasiswa jurusan Biologi Universitas Brawijaya (UB) demo menolak pembangunan gedung FIB tujuh lantai di area Ruang Terbuka HIjau (RTH), Jumat (8/10). Adanya gedung baru itu, otomatis menghilangkan RTH seluas 400 m2. Pembangunan tersebut mengancam keberadaan laboratorium biologi dasar (lab. Biodas) yang merupakan laboratorium terbuka berisi berbagai tanaman-tanaman endemik Indonesia. Dalam pembangunannya, beberapa orang pekerja proyek merusak sejumlah tanaman yang ada di lab tersebut.

Padahal selain berfungsi sebagai tempat praktikum, lab biodas juga termasuk RTH yang berfungsi untuk menyerap air hujan, penghasil oksigen, serta menjaga ekosistem. Pembangunan gedung ini dinilai telah melanggar Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mengatur bahwa setiap gedung bangunan harus memiliki RTH minimal 30 persen. Baca lebih lanjut

Agenda Terselubung Media Massa, Di Balik Isu War Of Terrorism

Akhir-akhir ini, media massa, baik televisi, surat kabar, maupun internet, gencar menayangkan ‘sinetron densus 88’. Hampir semua media tidak mau ketinggalan dengan berita tersebut. Televisi berulang kali menampilkan berita penggrebekan tersangka teroris. Surat kabar pun tak mau kalah, dengan memuat headline tentang terorisme. Mungkin kita muak, bosan, gregetan dengan hembusan berita-berita negatif yang sering menyudutkan Islam tersebut. Umat Islam dituduh sebagai teroris. Ini bukan berita baru lagi, karena sejak meletusnya tragedi pengeboman gedung WTC pada 11 September 2001 lalu, isu War Of Terrorism (WOT) mulai disebarluaskan. Islam dimunculkan dengan stereotype sebagai agama yang penuh dengan kekerasan. Ayat-ayat jihad dimaknai sebagai ayat-ayat setan.

Isu panas ini semakin berkembang ke seluruh pelosok dunia, berkat bantuan media yang mengeksplore-nya. Media massa sebagai corong informasi pun turut berperan menancapkan stereotype negatif tentang Islam ini ke dalam benak umat manusia. Bahkan, kaum Muslimin sendiri pun akhirnya banyak yang teracuni dan berkiblat pada media tersebut. Baca lebih lanjut

Menjadi Muslim Berideologi Islam

Siang itu, terlihat beberapa ikhwan dan akhwat berkumpul di dalam ruangan kecil bersekat tirai. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius. Tiba-tiba salah seorang ikhwan mengucapkan statement yang mengejutkan. “Tidak usah terlalu menonjolkan sisi Islamnya, lebih baik berikan alasan-alasan yang lebih mudah diterima, misalnya Nasionalisme, agar mereka tidak takut dengan kita,” demikian diungkapkan oleh salah satu anggota Lembaga Dakwah Kampus dari balik tirai.

Ironis, melihat realita pemikiran para aktivis dakwah kampus saat ini. Lembaga dakwah kampus yang seharusnya merupakan corong dalam penyeruan ide-ide Islam, kini telah buntu.  Dibuntu oleh pemikiran kolot para aktivisnya yang telah terjebak dalam pragmatisme dan ketakutan ditinggalkan pengikut. Bagaimana mungkin kata-kata tersebut bisa keluar dari mulut seorang da’i. Orang yang tugasnya menyampaikan Islam, namun malah melarang rekannya mengatakan kebenaran Islam. Parahnya lagi, solusi pengganti yang diberikannya adalah ide yang lebih buruk dari Islam, yaitu Nasionalisme. Baca lebih lanjut

Buah Busuk dari Penerapan Sistem Busuk

Pengadilan adalah sebuah lembaga yang diharapkan dapat menegakkan keadilan di negeri ini. Namun, sepertinya bukan merupakan rahasia umum lagi bahwa ternyata lembaga keadilan ini justru menempati angka korupsi yang cukup tinggi. Hal ini bahkan tampak pada kasus yang tergolong kecil sekalipun, misalnya sidang tilang. Seperti yang terjadi pada Rabu (15/9), saat berlangsung sidang tilang bagi para pengendara kendaraan bermotor yang terkena semprit polisi. Sejak pagi, Pengadilan Negeri Kota Kediri telah dipadati oleh para terdakwa tilang. Sidang yang dijadwalkan dimulai pukul 8.00 wib, namun hingga pukul 9.00 wib belum juga ada tanda-tanda akan dimulai.

Para korban tilang pun tampak berkerumun menunggu dimulainya sidang. “Pak, sidangnya kok belum dimulai ya?” tanya salah seorang laki-laki kepada petugas pengadilan yang berdiri di depan pintu kantor. “Belum mas, jaksanya belum datang,” ungkapnya. “Daripada nunggu lama, saya nitip aja deh pak,” ujar korban tilang tersebut sambil sedikit berbisik kepada petugas berseragam kecokelatan itu. Petugas itupun segera mengarahkan laki-laki tersebut ke pos satpam. Kemudian terlihat kompromi antara korban tilang dengan satpam, yang berlangsung di dalam pos kecil di sebelah gerbang. Beberapa lembar uang puluh ribuan pun dengan cepat berpindah tangan. Tak lama kemudian, STNK yang sudah dua minggu disita diberikan oleh satpam kepada sang empunya. Akhirnya karena tidak betah berpanas-panasan menunggu sidang yang tak kunjung mulai, sebagian besar para korban tilang pun memutuskan untuk ‘nitip pak satpam’ saja. Baca lebih lanjut