Guru yang Tak Pernah Marah itu Bernama Buku

Saat duduk di bangku sekolah, mungkin kita pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran tertentu. Sudah lah pelajarannya sulit, guru yang mengajarkannya pun galak. Berkali-kali dijelaskan masih belum paham juga. Inginnya menerapkan pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, namun apa daya baru mau bertanya sudah kena ‘semprot’ duluan. Nasib nasib. Lengkaplah sudah penderitaan. Pupus sudah harapan awak untuk menjadi ilmuwan terkenal.

Cerita tersebut hanyalah salah satu ilustrasi yang mungkin sebagian orang pernah mengalaminya. Ketika seorang pelajar kesulitan dalam memahami suatu pelajaran, sedangkan ia takut untuk bertanya kepada gurunya. Maka, sampai kapanpun ia tak akan pernah paham jika ia hanya diam membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Bahkan, bisa jadi ia akan menganggap pelajaran tersebut sebagai ‘momok’ yang menyeramkan. Yang setiap kali ia jumpai di dalam soal ujian, ia pun akan beristighfar sambil menghembuskan napas dalam-dalam. Lalu berkata dalam hati, “Inilah saatnya menghitung kancing dan tengok kanan kiri.”. Baca lebih lanjut

Kartini, Tak Sekadar Kebaya dan Konde

Bulan April selalu identik dengan Hari Kartini. Tepatnya tiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati hari kelahiran pahlawan yang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita, yaitu RA Kartini. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari anak TK sampai orang dewasa bersuka cita menyambut Hari Kartini ini dengan mengadakan berbagai lomba serta kegiatan sosial. Dari seluruh perayaan yang diselenggarakan, ada satu kesamaan yang menjadi ciri khas dari momen Kartini ini, yakni kebaya dan konde.

Ibarat sebuah tradisi, budaya ber-kebaya dan ber-konde selalu dilekatkan pada wanita Indonesia, termasuk sosok ibu kita Kartini. Tak sedikit masyarakat Indonesia, terutama kaum wanita, yang sangat bangga ketika mengenakan kebaya dan konde. Seolah mereka telah menjelma menjadi sosok yang anggun, bermartabat, serta menjunjung tinggi nasionalisme. Hingga salah satu tokoh di negeri ini pun menciptakan sebuah puisi yang begitu mengagungkan konde sebagai warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Baca lebih lanjut

Memaknai Perjuangan Kartini

Kartini selalu dilekatkan dengan sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita. Mengangkat harkat dan derajat kaum wanita yang dahulu dianggap sebagai pihak yang lemah dan tak diperhitungkan, menjadi kaum yang tegas, mandiri, serta berpendidikan. Kisah-kisah Kartini yang selalu dikenang adalah tentang perjuangannya menjadikan para wanita dapat mengenyam bangku sekolah. Kartini seolah ingin menjelaskan kepada dunia, bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin laki-laki maupun wanita.
Namun, sangat disayangkan, perjuangan mulia Kartini itu kini justru disalah artikan oleh para pengemban ide feminisme. Atas nama emansipasi wanita, kaum feminis berkoar-koar meneriakkan kesetaraan gender. Menuntut agar para wanita diberikan posisi yang setara dengan laki-laki. Tidak hanya dalam hal pendidikan, kaum feminis juga menuntut kesetaraan dengan kaum adam dalam segala hal, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga gaya berpakaian. Bahkan, mereka rela melakukan aksi ‘telanjang dada’ hanya demi sebuah protes ‘kenapa hanya laki-laki yang boleh bertelanjang dada, sedangkan kami tidak?’. Sungguh, ini adalah hal bodoh yang sangat memalukan dan tidak masuk akal.

Baca lebih lanjut