Memaknai Perjuangan Kartini

Kartini selalu dilekatkan dengan sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita. Mengangkat harkat dan derajat kaum wanita yang dahulu dianggap sebagai pihak yang lemah dan tak diperhitungkan, menjadi kaum yang tegas, mandiri, serta berpendidikan. Kisah-kisah Kartini yang selalu dikenang adalah tentang perjuangannya menjadikan para wanita dapat mengenyam bangku sekolah. Kartini seolah ingin menjelaskan kepada dunia, bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin laki-laki maupun wanita.
Namun, sangat disayangkan, perjuangan mulia Kartini itu kini justru disalah artikan oleh para pengemban ide feminisme. Atas nama emansipasi wanita, kaum feminis berkoar-koar meneriakkan kesetaraan gender. Menuntut agar para wanita diberikan posisi yang setara dengan laki-laki. Tidak hanya dalam hal pendidikan, kaum feminis juga menuntut kesetaraan dengan kaum adam dalam segala hal, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga gaya berpakaian. Bahkan, mereka rela melakukan aksi ‘telanjang dada’ hanya demi sebuah protes ‘kenapa hanya laki-laki yang boleh bertelanjang dada, sedangkan kami tidak?’. Sungguh, ini adalah hal bodoh yang sangat memalukan dan tidak masuk akal.

Baca lebih lanjut