Minadzulumati ilan Nur


Di usiaku yang ke-17 tahun, aku mendapatkan kado teristimewa dari ibuku. Sepasang pakaian seragam lengan panjang lengkap dengan kerudungnya. Itu artinya, kelas XI nanti aku mulai mengenakan kerudung ke sekolah.

Di hari pertamaku masuk sekolah dengan mengenakan kerudung, temanku mengajakku untuk mengikuti sebuah pengajian sepulang sekolah. Aku langsung mengiyakan karena aku merasa sangat membutuhkan ilmu agama. Aku tak mau hanya sekedar berkerudung tanpa memahami ilmu agama. Dan hari itu sepulang sekolah, setelah aku menelepon ibuku untuk meminta ijin, aku dan beberapa temanku berangkat ke pengajian. Tempatnya di sebuah musholla di depan sekolahku. Kami berjalan bersama-sama. Sampai di musholla, kami sholat Dzuhur terlebih dahulu. Kemudian kajian pun dimulai.

Awalnya aku mengira kajian ini akan membahas tentang sabar, shalat, puasa, atau hal-hal seputar Islam yang sering aku dapatkan di pengajian umum maupun pelajaran agama di sekolah. Namun, dugaanku meleset. Kajian ini ternyata tidak membahas itu. Materi yang disampaikan di dalam kajian ini sangat di luar dugaanku.

Ustadzah pengisi kajian mengawali kajian ini dengan sebuah ilustrasi yang menggetarkan jiwa. Dia mengatakan bahwa hidup di dunia itu ibarat berada di tengah hutan belantara, yang di dalamnya ada pohon-pohon besar, binatang-binatang buas, semak belukar, serta jurang. Dan kita berada di tengahnya dalam kondisi sangat gelap. Kita tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan. Kita tidak tahu apa yang ada di sekeliling kita. Apakah binatang buas yang siap menerkam kita, batu besar yang membuat kita terjatuh, atau jurang yang membuat kita terperosok ke dalamnya. Lalu, bagaimana agar kita bisa selamat melewati hutan belantara tersebut? Maka kita butuh sebuah cahaya yang mampu menunjukkan dan membimbing kita melewati hutan belantara itu. Sehingga kita tidak terperosok ke dalam jurang, atau termakan oleh binatang buas. Cahaya itulah yang disebut iman.

Masya Allah, aku belum pernah mendapatkan penjelasan yang luar biasa seperti itu sebelumnya. Akalku benar-benar diajak untuk berpikir. Aku membayangkan bagaimana seandainya aku benar-benar berada pada kondisi yang digambarkan dalam ilustrasi tersebut? Aku merasa ketakutan, hingga akhirnya aku pun menangis. Inilah pengantar yang mengagumkan dari sebuah materi yang berjudul Thariqul Iman, jalan menuju iman.

Selanjutnya, di dalam kajian ini kami juga diajak berpikir tentang hidup. Tentang siapa aku, dari mana aku berasal, untuk apa aku hidup, dan akan ke mana aku setelah mati. Maka, berawal dari kajian inilah aku mulai berpikir tentang pertanyaan besar, uqdhatul kubro. Dari pemikiran itu akhirnya aku telah menemukan jawaban, bahwa aku adalah makhluk yang berasal dari Allah. Dan Allah menciptakanku tidak lain agar aku beribadah kepada-Nya, sebagaimana yang telah Dia sampaikan dalam firman-Nya QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Maka jika kita ingin menjadi makhluk yang baik, kita harus menjalani hidup ini sesuai tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah kepada Allah.

Ibadah tidak hanya sebatas sholat, puasa, haji, mengaji, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ritual agama. Semua aktivitas yang kita lakukan sehari-hari juga bisa bernilai ibadah, jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan showwab. Inilah yang dinamakan ihsanul amal. Ikhlas berarti meniatkan aktivitas hanya karena Allah semata, sedangkan showwab berarti melakukan aktivitas dengan disesuaikan pada aturan (syariat) Allah. Sehingga aktivitas makan, minum, tidur, jual beli, belajar, bekerja, dan lain-lain, semua itu bisa bernilai ibadah.

Maka, setiap akan melakukan suatu perbuatan kita harus berpikir terlebih dahulu dengan akal kita, apakah perbuatan tersebut sesuai dengan aturan Allah atau tidak. Karena setiap pilihan perbuatan kita nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di hari kiamat. Di sana lah kehidupan kita yang kekal. Di sana lah masa depan kita yang sesungguhnya.

Inilah jawaban dari tiga pertanyaan besar uqdhatul kubro :

Dari mana kita berasal? kita berasal dari Allah.
Untuk apa kita hidup di dunia? untuk beribadah kepada Allah.
Akan ke mana kita setelah mati? akan kembali kepada Allah.

Jawaban inilah yang akan mengantarkan kita pada keimanan yang hakiki. Jika kita telah memahami tujuan hidup kita, maka kita akan lebih berhati-hati dalam melakukan perbuatan. Kita tidak akan merelakan sedikit pun waktu kita untuk bermaksiat kepada Allah. Dan tentunya kita tidak akan lagi sempat memikirkan aktivitas pacaran, nonton film porno, atau kemaksiatan yang lain. Sebaliknya, kita akan lebih tersibukkan pada aktivitas yang diridhai oleh Allah. [Zakiya El Karima]

DSC_2849-1024x681

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s