Dauroh Dirosah Islamiyah MHTI Malang Raya


IMG_0482Malang – Ahad (19/4), Lajnah Khas Ustadzah dan Mubalighah (LKUM) Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya mengadakan acara Dauroh Dirosah Islamiyah. Acara yang bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah Kepanjen ini mengangkat tema “Feminisme Menghancurkan Perempuan dan Keluarga”.

Sebagaimana disampaikan oleh ustadzah Irsyada dalam sambutannya, bahwa saat ini kaum feminis begitu gencar menyerukan kesetaraan gender antara kaum perempuan dan laki-laki. Menurutnya, ide kesetaraan gender ini sangat berbahaya dan dapat mengancam perempuan dan keluarga.

“Kaum muslimin haruslah memahami bagaimana posisi perempuan yang sesungguhnya di dalam Islam agar tidak terjebak oleh ide feminisme tersebut”, ungkapnya.

Acara ini dipandu oleh ustadzah Isni sebagai moderator dan ustadzah Siti Fatimah sebagai pembicara. Ustadzah Isni mengaku miris dengan kondisi perempuan saat ini. Ia mengungkapkan beberapa fakta yang terjadi di Kabupaten Malang. Diantaranya, banyaknya perempuan yang rela meninggalkan keluarganya karena harus bekerja sebagai TKW di luar negeri. Hal ini berdampak pada terabaikannya keluarga hingga berujung pada perceraian.

Ustadzah Siti Fatimah kemudian menjelaskan bahwa ketika banyak permasalahan yang dialami oleh kaum perempuan, para feminis melihat hal tersebut disebabkan oleh adanya diskriminasi yang dialami perempuan. Kaum feminis juga mengkritik syariat Islam yang dinilai terlalu mengekang dan menindas perempuan. Seperti misalnya, pengaturan Islam terkait jilbab, safar, waris, dan lain sebagainya. Maka, kaum feminis pun menawarkan solusi untuk menyamakan posisi perempuan dan laki-laki.

Dalam penjelasannya, ustadzah Siti Fatimah juga menyampaikan sejarah munculnya feminisme. Bahwasanya ide feminisme muncul dari Eropa, di mana pada saat itu banyak ayat-ayat di dalam Bibel yang menyebutkan kehinaan bagi perempuan. Perempuan dipandang sebagai sosok yang penuh dosa sehingga Tuhan menghukumnya dengan penderitaan berupa hamil, melahirkan, dan menyusui. Ayat-ayat yang merendahkan kaum perempuan ini kemudian ditafsirkan ulang dengan tafsir Hermeneutik, sehingga tercipta Bibel khusus perempuan. Inilah cikal bakal lahirnya ide feminisme.

“Feminisme mulai masuk ke dunia Islam sejak abad ke-19, yaitu pada masa-masa akhir kekhalifahan. Feminisme Barat memandang perempuan muslimah terkekang oleh aturan-aturan syariat Islam yang diskriminatif,” paparnya.

Ustadzah Siti Fatimah kemudian menjelaskan bagaimana posisi perempuan dalam Islam. Di mana Islam menempatkan perempuan sebagai tiang negara, yang menentukan baik buruknya suatu negara. Selain itu, Islam juga menjadikan perempuan sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, yaitu sebagai ummu wa rabbatul bait.

“Inilah yang harus dipahami oleh kaum muslimin, agar tidak terjebak pada ide feminisme yang sejatinya justru tidak memuliakan perempuan,” tegasnya.

Ustadzah Siti Fatimah juga mengajak seluruh peserta dan kaum muslimin untuk menegakkan kembali sistem Islam khilafah. Karena hanya dengan khilafah lah, kaum muslimin bisa terbebas dari ide-ide yang bertentangan dengan Islam, seperti ide feminisme.

Hal ini juga diaminkan oleh Bu Nyai Nadhofah, perwakilan dari Pondok Pesantren Darul Falah. Ia menyampaikan harapannya agar seluruh kaum muslimin bisa bersatu.

“Saya orang NU, harusnya juga bersatu dengan Hizbut Tahrir, serta kelompok-kelompok Islam yang lain. Indonesia ini tidak akan bisa maju kalau umat Islamnya masih terpecah-pecah,” ungkapnya. [LI MHTI Malang]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s