Antara Kemiskinan dan ‘Khilaf’ Orang Tua


Beberapa waktu lalu, Kabupaten Malang khususnya daerah Wagir dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang anak oleh ayahnya sendiri. Anak yang masih berusia 7 tahun dipukul oleh ayahnya sendiri dengan menggunakan bambu hingga meninggal dunia. Sang ayah yang baru pulang dari sawah rupanya tak kuasa mengendalikan emosinya saat melihat kedua anaknya bertengkar rebutan baju. Ia pun segera mengambil bambu yang kemudian digunakannya untuk memukuli anak-anaknya. Salah satu dari kedua anaknya dipukuli hingga berdarah dan hilang nyawa. Ketika sang ayah dimintai keterangan oleh polisi, ia mengaku telah khilaf.

Fenomena orang tua yang membunuh anaknya ini bukanlah hal baru. Banyak kasus serupa yang terjadi di negeri ini. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang emosi, ada juga yang terpaksa karena tak mampu membiayai anak-anak mereka. Namun, satu alasan yang biasa terlontar, khilaf.

Dalam kondisi normal, rasanya tidak mungkin orang tua sampai lupa (khilaf) terhadap anaknya sendiri hingga tega membunuhnya. Namun dalam kondisi saat ini, ternyata kekhilafan tersebut bisa saja terjadi, bahkan telah menjadi fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat. Sonia Wibisono, dokter yang aktif dalam kegiatan penyuluhan pencegahan kasus KDRT di Indonesia, pernah mengungkapkan bahwa kemiskinan dan minimnya pendidikan yang dimiliki oleh orang tua diindikasikan sebagai salah satu penyebab munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Hal ini tentu sesuai jika dikaitkan dengan sampel fakta kasus pembunuhan anak yang terjadi di Wagir, Kabupaten Malang, Sabtu (21/2) lalu. Dari informasi yang dihimpun, Deni, ayah korban, ternyata hanyalah lulusan SMP. Sebelumnya, ia dan (mantan) istrinya berprofesi sebagai pedagang mainan anak-anak di Kalimantan. Namun, rumah tangganya tidak bertahan lama, hingga ia pun harus bercerai dari istrinya. Usai bercerai, Deni dan kedua anaknya kembali ke kampung halamannya di Malang. Ia pun memilih untuk bekerja sebagai petani. Sebagai single parent, Deni harus mengurusi dua anak perempuannya seorang diri, tanpa istri.

Maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi Deni. Ijasah SMP tidak mampu membantunya untuk mencari pekerjaan yang layak, hingga ia pun memilih untuk menjadi petani. Penghasilan dari bertani ini rupanya juga belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua anaknya. Faktor desakan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu kekhilafan Deni hingga tega membunuh anak gadis bungsunya.

Pertanyaannya adalah kenapa Deni bisa miskin? Tentu ijasah SMP lah yang dituduh sebagai akar masalah. Karena ijasah SMP tidak mampu mengantarkan Deni pada pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang cukup. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Pertanyaan selanjutnya, kenapa Deni hanya berijasah SMP? Ini tentu berkaitan erat dengan biaya pendidikan yang melambung tinggi, yang menjadikan tidak semua orang mampu menjangkaunya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa fenomena orang tua yang membunuh anaknya ini ternyata tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sonia Wibisono, tentang kemiskinan dan minimnya pendidikan orang tua yang diindikasikan sebagai pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Maka, negara seharusnya mampu menjadikan masyarakatnya hidup berkecukupan, memiliki pekerjaan yang layak, serta mampu mengenyam pendidikan yang tinggi. Inilah tugas sebenarnya dari negara, yaitu mengurusi rakyatnya.

Selain itu, fenomena orang tua bunuh anak ini juga tidak bisa dilepaskan dari pemahaman agama yang dimiliki oleh orang tua. Kurangnya pemahaman terhadap agama menjadikan masyarakat mudah tergoda untuk melakukan tindak kriminal. Apalagi ditambah dengan beban ekonomi yang mencekik, yang menjadikan masyarakat, khususnya orang tua, seringkali pendek akal. Inilah yang akhirnya menjadikan orang tua mudah ‘khilaf’ dan melakukan tindak kriminal, termasuk membunuh anaknya sendiri.

Permasalahan ini haruslah segera diselesaikan, sebelum semakin banyak lagi anak-anak tak berdosa yang mati di tangan orang tuanya sendiri. Sedangkan penyelesaian atas hal ini membutuhkan peran dari seluruh pihak, baik dari orang tua, anak, masyarakat, maupun negara. Dan peran paling penting yang harus diwujudkan adalah peran negara. Karena negara lah yang memiliki kekuasaan untuk mengatur kehidupan masyarakatnya. Ketika peran negara ini telah dilaksanakan dengan baik, maka hal ini akan memudahkan terjalankannya peran dari pihak-pihak yang lain.

Misal, ketika negara mampu memberikan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat, maka tidak akan ada masyarakat yang kesulitan di dalam mengenyam pendidikan. Masyarakat pun akan menjadi masyarakat yang berpendidikan. Dengan itulah masyarakat akhirnya mampu untuk mencari pekerjaan yang layak. Sehingga ekonomi keluarga pun menjadi tercukupi. Tetapi tidak cukup hanya dengan pendidikan dan pekerjaan yang layak saja, melainkan harus diimbangi dengan pemahaman agama yang baik. Kenapa harus agama? Karena agama merupakan pegangan hidup manusia yang berasal dari Tuhan.

Permasalahan hari ini, agama tidak lagi dipandang sebagai pedoman hidup. Agama hanya ditempatkan di rumah-rumah ibadah dan dimanfaatkan sebagai penyelesai masalah kerohanian semata. Padahal, lebih dari itu, agama sesungguhnya mampu memberikan penyelesaian di dalam segala aspek kehidupan manusia. Misalnya, agama mengajarkan anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Agama juga mengarahkan orang tua untuk menafkahi anak-anaknya, dengan mewajibkan ayah -sebagai kepala rumah tangga- untuk bekerja. Agama pun mengatur tata cara orang tua dalam mendidik anaknya, yaitu dengan memberikan pukulan yang tidak menyakitkan. Sehingga, jika masyarakat benar-benar berpegang pada ajaran agama, niscaya tidak akan ada kasus orang tua yang membunuh anaknya.

Namun, aturan agama ini tidak bisa berdiri sendiri. Ia akan bisa diterapkan secara sempurna ketika didukung oleh peran negara. Maka, ini menjadi tugas kita bersama sebagai bagian dari masyarakat untuk mewujudkan sistem aturan yang berpedoman pada ajaran agama, yang mampu membentuk pribadi masyarakat yang bermoral tinggi, serta menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s