Remaja, Tanggungjawab Keluarga Hingga Negara


Pengajian Akbar MalangMalang – Puluhan ibu-ibu menghadiri acara Pengajian Akbar Bersama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Malang, pada Ahad (22/2). Acara yang bertempat di Aula Kecamatan Blimbing Malang ini mengangkat tema “Remaja Kita dalam Ancaman Liberalisme”. Dalam acara ini hadir dua orang pembicara dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang, yaitu ustadzah Muthi’ah dan ustadzah Kholishoh Dzikri.

Materi pertama tentang generasi dalam ancaman liberalisme disampaikan oleh ustadzah Muthi’ah. Dalam penjelasannya, ustadzah Muthi’ah menggambarkan fakta-fakta kondisi generasi saat ini yang sangat memprihatinkan. Di mana para remaja banyak disuguhi program ataupun bacaan-bacaan yang mengarah pada kebebasan bertingkah laku (liberalisme). Misalnya, adanya pekan kondom nasional yang justru melegalkan seks bebas. Selain itu, adanya bacaan yang mengajarkan remaja untuk mesum, seperti buku yang berjudul ‘Saatnya Aku Belajar Pacaran’, yang dibiarkan beredar di pasaran dan dijual secara umum.

“Bahkan, sekolah yang seharusnya menjadi tempat pendidikan bagi remaja, justru diajarkan pacaran sehat”, ungkapnya miris.

Berbagai tayangan yang melegalkan seks bebas secara gencar terus disuguhkan kepada remaja. Akibatnya, muncul keinginan dari remaja untuk menirunya. Sehingga remaja mulai berani melakukan seks bebas. Dari seks bebas tersebut, maka banyak remaja yang hamil di luar nikah. Hal ini menjadikan mereka merasa malu sehingga berusaha menutupinya dengan melakukan aborsi. Seks bebas juga menjadikan remaja tertulari virus HIV/AIDS.

“Dari sini bisa kita lihat bahwa dampak dan bahaya dari seks bebas ini begitu luas. Semua ini menunjukkan bahwa  liberalisme telah menghancurkan remaja kita,” jelasnya.

Ibu dua anak ini juga menjelaskan bahwa dampak dari seks bebas tidak hanya menimpa remaja, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan juga negara.

“Masa depan remaja jelas akan rusak, keluarga juga akan hancur karena orang tua gagal mendidik anak-anaknya. Maraknya seks bebas juga menjadikan masyarakat senantiasa diliputi rasa khawatir dan tidak aman. Bahkan, negara juga terancam memiliki generasi muda yang rusak,” paparnya.

Ia juga membacakan salah satu hadits yang berbunyi, “Jika zina dan riba telah marak di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan sendiri azab Allah”.

“Jika kita diam atas kerusakan ini dan tidak berusaha memperbaikinya, maka sama saja kita menghalalkan datangnya azab Allah,” ujarnya.

Pemaparan materi pertama tersebut kemudian dilanjutkan oleh ustadzah Kholishoh Dzikri yang memberikan gambaran tentang generasi unggul dalam naungan khilafah. Ustadzah Kholishoh memulai penjelasannya dengan menyampaikan potensi remaja.

“Betapa besarnya potensi remaja, hingga Soekarno mengatakan hanya butuh satu pemuda untuk bisa mengguncang dunia,” ujarnya.

Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang ini juga menggambarkan kondisi pemuda pada masa Rasulullah dulu. Di mana pemuda menjadi orang yang pertama kali menyambut seruan dakwah Rasulullah, seperti yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. Bahkan, setiap kali menghadapi masalah besar, Khalifah Umar bin Khaththab juga selalu memanggil pemuda untuk dimintai pendapat.

Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan hari ini, di mana para pemuda atau remaja justru menjadi salah satu biang kerusakan. Ustadzah Kholishoh pun mengingatkan kembali bahwa remaja menjadi tanggung jawab bersama, baik keluarga, masyarakat, maupun negara. Keluarga sebagai teladan dan kontrol bagi anak-anaknya. Namun, tanggung jawab mendidik anak itu tidak hanya terbebankan pada orang tua saja, tetapi juga pada masyarakat. Jika tidak ada kontrol dari masyarakat, maka akan terjadi kerusakan. Seperti kasus cokelat bonus kondom, ataupun baliho hotel yang menawarkan diskon bagi pasangan kekasih yang menginap. Jika tidak ada koreksi dan teguran dari masyarakat maka hal ini akan terus berlanjut dan semakin merusak. Masyarakat itu sendiri ternyata berada dalam tatanan negara. Jadi, tanggung jawab mendidik anak atau remaja juga terbebankan pada negara.

“Tanggung jawab negara dalam hal ini adalah membuat kebijakan yang dapat mendidik remaja. Misalnya, membuat kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, yang tidak mengajarkan pelajaran yang bertentangan dengan Islam”, ungkapnya.

Ustadzah Kholishoh juga menggambarkan fungsi negara dalam Islam, yaitu sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung rakyat). Sebagai pelindung, maka sudah seharusnya negara ini melindungi generasinya dari virus liberalisme yang merusak. [LI MHTI Malang]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s