Akhiri Derita Ibu dan Anak dengan Khilafah


Malang- Dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Malang Raya menggelar acara Kongres Ibu Nusantara ke-2 pada Ahad (21/12) di Aula Universitas Gajayana Malang. Tema yang diangkat dalam kongres ini adalah “Derita Ibu dan Anak Karena Matinya Fungsi Negara dalam Rezim Neolib”. Kongres ini dihadiri oleh sekitar 800 orang perempuan yang berasal dari berbagai daerah, yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Bangil, dan Pasuruan.

Dalam sambutannya, Salma Sulastri, ST., mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pemerintah yang dinilai lalai dalam mengurusi rakyat.

“Negeri kita adalah negeri yang kaya, namun tidak mampu menjamin kesejahteraan para ibu dan anak,” ungkapnya.

Kondisi inilah yang mendorong MHTI DPD II Malang Raya, sebagai salah satu organisasi yang peduli terhadap nasib perempuan, untuk menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara. Tujuan dari acara ini adalah untuk memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.

Hadir sebagai pembicara dalam kongres ini, Ana Putri Kanti, A.Md., dr. Nurul Muzayyanah, dan Kholishoh Dzikri, S.Pd. Ketiga pembicara ini menyampaikan orasi politik seputar tema kongres. Orasi pertama yang berjudul “Indonesia dalam Cengkeraman Neoliberalisme dan Neoimperialisme”, mengupas tentang fakta-fakta ketundukan pemerintah Indonesia pada kebijakan asing. Bukti dari ketundukan tersebut adalah adanya kebijakan pemerintah untuk menghapuskan subsidi bagi rakyat, serta membuka peluang masuknya investor asing untuk mengelola kebutuhan rakyat.

“Negeri ini telah kehilangan jati dirinya sebagai negeri yang berdaulat dan bertanggungjawab bagi rakyatnya,” ungkap Ana Putri Kanti.

Selain itu, dalam orasi kedua yang berjudul “Matinya Fungsi Negara Akibat Neoliberalisme dan Neoimperialisme”, juga dipaparkan tentang hilangnya fungsi negara sebagai dampak dari diterapkannya neoliberalisme dan neoimperialisme. dr. Nurul Muzayyanah mengungkapkan bahwa sejak awal diterapkan hingga saat ini, demokrasi neolib tidak pernah mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemuliaan hidup umat manusia. Sebaliknya, yang terjadi hanyalah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan dan kesejahteraanpun tinggal ilusi.

“Bentuk penjajahan gaya baru neoimperialisme yang diberlakukan di Indonesia membuat negara kehilangan fungsi. Negara kehilangan kekuasaan untuk mengatur rakyatnya sendiri.  Sebab, berbagai kebijakan bukan hanya bersifat liberal namun juga sarat kepentingan asing,” jelasnya.

Orasi ketiga berjudul “Khilafah Menjamin Kebutuhan Hidup Ibu dan Anak”, membahas tentang solusi khilafah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat, khususnya ibu dan anak. Kholishoh  Dzikri, sebagai pembicara ketiga, menjelaskan secara gamblang gambaran khilafah yang mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat, serta menjadi pelindung rakyat dari berbagai bentuk dan agenda penjajahan.

“Dalam hal ini, negara khilafah memiliki tanggung jawab penuh melayani dan menyediakan kebutuhan rakyat. Negara tidak boleh hanya semata-mata menjadi fasilitator dan regulator, apalagi mengomersialisasi kebutuhan rakyat,” ungkapnya.

Ketua MHTI DPD II Malang Raya ini juga menyampaikan bahwa penerapan sistem politik ekonomi yang dijalankan oleh khilafah dengan visi terjaminnya kebutuhan individu per individu setiap rakyat. Penerapan sistem politik ekonomi Islam dalam khilafah juga mampu menjadikan para ibu tidak terbebani mencari nafkah, sehingga mereka bisa sepenuhnya fokus pada tugas utamanya melahirkan dan mencetak generasi berkualitas.

Selain gambaran tentang khilafah, orasi ketiga ini juga menjelaskan tentang tata cara dalam menegakkan kembali khilafah di tengah kehidupan, yaitu dengan mengacu kepada metode yang telah terbukti pernah sukses mengantarkan pada tegaknya Daulah Islam, yaitu metode dakwah Rasulullah saw. Metode tersebut antara lain tahapan pembinaan dan pengkaderan (tatsqif wa takwin), berinteraksi dengan umat (tafa’ul ma’a al ummah), dan pengambilalihan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh (istilamal-hukm wa tathbiq ahkam al-Islam).

Dalam kongres ini juga disampaikan testimoni dari para tokoh, yaitu Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., dari pakar pendidikan, serta Hermin Setyowati, A.Md.Keb., dari praktisi Kesehatan. Dalam testimoninya, Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., mengungkapkan bahwa kondisi Indonesia yang terpuruk di segala bidang kehidupan saat ini tidak lain adalah karena jauhnya dari aturan-aturan Islam. Hermin Setyowati, A.Md.Keb., juga menyerukan kepada seluruh peserta kongres untuk kembali pada aturan Allah.

“Jika kita ingin lepas dari belenggu neoliberalisme dan neoimperialisme ini, maka marilah kita berjuang bersama Muslimah Hizbut Tahrir untuk menegakkan syariah dan khilafah,” serunya.

Kongres Ibu Nusantara ke-2 ini juga menyepakati beberapa poin rekomendasi, diantaranya seruan untuk meninggalkan sistem politik demokrasi dan ekonomi liberal, serta ajakan untuk menerapkan sistem pemerintahan yang benar yang dibuat oleh Allah. Rekomendasi kongres ini ditandatangani oleh ketiga pembicara kongres, perwakilan dari MHTI Malang dan Pasuruan, serta perwakilan dari peserta kongres.

Diantara tokoh-tokoh yang menandatangani rekomendasi kongres adalah Kholishoh Dzikri, S.Pd. (Ketua MHTI DPD II Malang Raya), Siti Siyami Sri Astuti, S.Pd. (Ketua MHTI DPD II Pasuruan), Ana Putri Kanti, A.Md.(MHTI DPD II Pasuruan), dr. Nurul Muzayyanah (Lajnah Fa’aliyah DPD II MHTI Malang Raya), Najmah Millah, S.TP. (Lajnah Fa’aliyah MHTI DPD II Malang Raya), Sukhufil R., S.Pd.I (Lajnah Khas Mubalighah MHTI Kabupaten Pasuruan), Irma Setyawati, S.Pd. (Lajnah Fa’aliyah MHTI Kota Pasuruan), Prof. Dr. Hj. Zuliati Rohmah, M.Pd. (Intelektual dari Kota Malang), Ariani Kusumaningrum., S.TP., M.MPd. (Praktisi Pendidikan dari Kota Malang), Sulik Amiati, A.Md.Keb. (Praktisi Kesehatan dari Kota Batu), Nur Eva, S.Psi., M.Psi. (Intelektual dari Kota Pasuruan), Hermin Setyowati, A.Md.Keb. (Praktisi Kesehatan dari Kota Pasuruan).

Sebagaimana yang disampaikan oleh Dianawati, S.Pd., Ketua Lajnah Fa’aliyah MHTI DPD II Malang Raya, bahwa pembahasan dalam kongres ini diharapkan dapat meningkatkan semangat juang para ibu untuk bersama-sama menuntaskan problem kronis bangsa dengan mengganti rezim neolib dan sistem demokrasi yang menjadi sumber masalah, kemudian menggantinya dengan sistem Islam dan khilafah Islamiyah yang mampu mewujudkan kesejahteraan, kemajuan dan pemberdayaan yang hakiki. [Rizki Amelia K./ LI MHTI Malang Raya]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s