Kapitalisme Melahirkan Perempuan Perkasa dan Laki-laki Kemayu


Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata perempuan? Cantik, anggun, lemah lembut, dan manja. Jika itu yang Anda bayangkan, saya khawatir Anda akan terkaget-kaget ketika melihat wujud yang ada di balik tabir. Ya, sosok dengan ciri-ciri tersebut kini tidak lagi hanya dimiliki oleh perempuan.

Suatu sore saya dan seorang teman pernah berjalan-jalan ke alun-alun kota. Kami berniat untuk menemui seorang anak jalanan untuk keperluan liputan. Namun, kami tak kunjung menemukan anak tersebut. Maka kami pun memutuskan untuk bertanya kepada orang-orang yang se-profesi di sekitar tempat tersebut. Karena kami memegang prinsip: malu bertanya sesat di jalan. Selain itu, kami juga meyakini sebuah petuah: bertanyalah kepada orang yang tepat. Dari situlah kami akhirnya memutar mata hingga menemukan orang yang tepat untuk bertanya, sesama anak jalanan. Pandangan saya mengarah kepada seorang anak jalanan. Awalnya saya ragu untuk menghampiri anak tersebut. Bukan karena tak yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk ditanya, tapi lebih pada konflik batin yang berkecamuk di dalam hati, yang mempertanyakan apakah anak tersebut laki-laki atau perempuan? Saya hampir yakin bahwa sosok anak yang berpakaian hitam tersebut adalah laki-laki. Namun, setelah saya mengamatinya secara teliti, saya baru menyadari bahwa anak tersebut adalah perempuan. Hey, saya cukup kaget! Dia benar-benar perempuan. Padahal saya hampir tak berani menatap wajahnya. Garang man… Ampun!

Pada suatu hari yang lain, saya pernah menghadiri acara besar di sebuah gedung mewah milik salah satu kampus swasta. Saat itu saya datang tidak sendirian, tetapi berjamaah bersama teman-teman se-kontrakan. Karena kami meyakini prinsip: berjamaah itu lebih baik daripada sendirian. Kami menghadiri acara tersebut dengan perasaan yang sangat gembira. Alasannya sederhana, untuk mengikuti acara tersebut kami tak perlu mengeluarkan uang tetapi justru masing-masing dari kami bisa membawa pulang sebuah tas kertas eksklusif yang berisi berbagai souvenir dan makanan. Apalagi selama ini kami hanya bisa melihat acara tersebut dari televisi, kemudian kami berkesempatan untuk menyaksikan siaran langsung dari penampilan host yang telah menggunduli rambut kribonya itu di kota kami. Saat itu, saya masih ingat, bintang tamu yang dihadirkan salah satunya adalah penulis novel yang sedang naik daun, Andrea Hirata. Ketika acara hampir selesai, ada sebuah fenomena yang kami saksikan. Ada sesosok manusia yang mencuri perhatian kami. Sosok itu memakai pakaian minim dan berjalan dengan gemulainya ke depan panggung, kemudian bersalaman dengan beberapa bintang tamu yang sedang duduk. Beberapa kali sosok cantik itu mengayunkan rambut keriting gantungnya, hingga semua mata terpesona padanya. Teman di samping saya lalu berucap dengan santainya, “Oh, itu Miss Waria”. What?? Apa saya tidak salah dengar? Miss Waria? Waria itu kepanjangannya masih tetap wanita pria kan? Na’udzubillah. Saya hampir tak percaya bahwa sosok cantik jelita itu adalah laki-laki tulen. Hiii, ngeri!

Itulah sekelumit realita di jaman yang katanya modern ini. Jaman yang menjadikan semuanya serba tertukar. Di jaman ini, seorang perempuan bernama ibu yang biasanya mengasuh anak, kini berganti profesi sebagai pengasuh penumpang busway alias sopir. Pun demikian, seorang laki-laki yang biasanya tertantang mengikuti lomba balap motor, kini lebih suka ikut lomba joget alay. Fenomena ini bukan terjadi secara tiba-tiba, namun tentu saja ada sebabnya.

[Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s