Segelas Air Untuk Korban Kecelakaan


Dulu, saya begitu penasaran, kenapa setiap kali ada orang kecelakaan selalu tiba-tiba muncul orang-orang baik yang menolong dan memberikan minum? Oke, kalau menolong mungkin memang wajar ya, namanya ada kecelakaan ya pasti orang akan menolong. Sudah nalurinya manusia ingin saling tolong-menolong. Tapi yang membuat saya penasaran adalah memberi minum. Kenapa setiap ada kecelakaan hampir selalu ada orang yang memberi minum? Saya pernah beberapa kali mengamati fenomena itu. Pernah ada mahasiswa yang jatuh dari motor di jalanan kampus. Awalnya suasana di sekitar TKP itu sepi-sepi aja. Setelah ada yang jatuh dari motor, mendadak banyak orang yang berkerumun menolong, dan salah seorang di antara mereka menyodorkan sebotol air mineral yang masih utuh. Saya pun bertanya-tanya, sejak kapan orang itu membawa air mineral? Padahal kantinnya juga tidak terlalu dekat dari TKP. Kalaupun harus lari dulu ke kantin untuk membeli air minum, ga bakalan secepat itu dia balik. Saat itu saya hanya berpikir, mungkin orang tersebut memang kebetulan sedang membawa air minum.

Tapi fenomena memberi minum itu tidak hanya saya jumpai sekali. Hampir setiap saya melihat kecelakaan saya selalu menemukan orang yang menyodorkan air minum kepada korban kecelakaan. Saya tidak sedang mempertanyakan tujuannya, karena saya sudah paham bahwa tujuan pemberian air minum itu adalah untuk menenangkan si korban dari shock. Namun, yang menjadi pertanyaan saya adalah dari mana orang tersebut mendapatkan air minum? Kenapa air minum selalu ‘tiba-tiba muncul’ di saat ada orang yang kecelakaan?

Ah, tapi sekarang saya telah menemukan jawabannya. Tidak tanggung-tanggung, saya akhirnya mendapatkan jawabannya langsung dari pengalaman saya sendiri. Pengalaman yang menjadikan saya berperan sebagai objek yang diberikan air minum.😦

Cerita ini berawal ketika saya hendak pulang ke Nganjuk. Saat itu tanggal 11 Dzulhijah kalender Mekkah, atau 10 Dzulhijah kalender Pemerintah Indonesia. (Bener-bener ya, pemerintah Indonesia itu ‘saking pinternya’ sampe bikin kalender Islam versi mereka sendiri). Nah, pagi itu setelah saya membersihkan maktab tercinta, saya pun segera bersiap-siap untuk pulang kampung. Perjalanan berlangsung menyenangkan. Pemandangan hutan dan pegunungan sepanjang Batu-Pujon-Ngantang-Kasembon memberikan kesejukan tersendiri di mata saya. Namun, seperti perjalanan pulang sebelum-sebelumnya, mata saya selalu ingin terpejam. Rupanya pergantian hawa dingin Malang menjadi terik matahari Kandangan-Pare-Kediri membuat saya mulai mengantuk. Tetapi rasa kantuk saya kali ini berbeda dari biasanya. Ini benar-benar tidak bisa saya tahan. Saya pun mulai tertidur beberapa detik di jalanan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk meminggirkan motor saya ke kiri jalan. Saya pun berhenti sejenak untuk beristirahat. Benar-benar hanya sebentar, kemudian saya kembali melajukan motor. Lumayan, rasa kantuk saya sedikit berkurang.

Beberapa saat kemudian saya mulai mengantuk lagi. Dalam hati saya berniat untuk berhenti sejenak. Tapi entah kenapa, motor tetap saya lajukan. Hingga saya pun kembali tertidur di jalan, di tengah mengendarai motor. Entah berapa lama saya terlelap di atas motor, tapi sepertinya ini adalah tidur terlama. Mungkin tidak lagi dalam hitungan detik, tapi sampai hitungan menit. (Parah ya!). Saya tidak tahu bagaimana model saya mengendarai motor saat saya tertidur. Mungkin banyak pengendara yang terkejut dan berusaha mengingatkan. Tapi, ah sudahlah, saya minta maaf. Yang jelas saya bersyukur karena saat itu masih diberikan petunjuk sama Allah sehingga bisa bertahan melewati jalanan penuh kendaraan sepanjang beberapa meter dalam kondisi mata terpejam.

Saya masih dalam kondisi tidak sadar ketika melewati sebuah pertigaan. Di pertigaan itu hanya ada dua belokan, ke kanan dan ke kiri. Tidak ada jalan lurus. Kalau lurus sudah pasti nabrak rumah orang. Tapi anehnya, saya bisa belok kiri mengikuti jalan yang benar sesuai arah jalan pulang. Padahal saat itu saya dalam kondisi tidur. Masyaallah, apalagi namanya kalau bukan pertolongan Allah. Namun, sesaat setelah belokan, rupanya Allah ingin membangunkan saya dari tidur.

“Brakk!!!”, suara benturan keras akhirnya benar-benar membangunkan tidur saya. Mata saya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Lah, kenapa saya malah tiduran di tengah jalan gini? Saya langsung buru-buru bangun dan melihat sekeliling saya sudah berantakan. Posisi saya tepat di tengah jalan. Di hadapan saya ada mobil silver yang terhenti. Di samping kiri saya ada motor saya yang tergeletak di aspal, dan tas-tas bawaan saya berhamburan di sekeliling saya. Orang-orang mulai berdatangan panik dan menyuruh saya segera menyingkir ke tepi jalan. Saya terdiam. Hampir ada orang yang mau menggendong saya, tetapi saya segera berdiri dan berjalan sendiri. Saya pun duduk di kios stiker di pinggir jalan. Saya mulai menyadari bahwa saya baru saja mengalami kecelakaan.

Orang-orang masih sibuk menepikan motor saya dan membereskan barang-barang saya yang jatuh di jalan raya. Saya mulai merasakan perih di tangan. Setelah saya lihat tangan kanan saya ternyata darah sudah mengucur. Saya masih terdiam di atas kursi kayu. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya baru saja mengalami musibah yang bernama kecelakaan. minumTak lama kemudian seorang bapak menghampiri saya dan menyodorkan segelas air putih. Bapak itu berusaha menenangkan saya dan menyuruh saya untuk meminum air putih di dalam gelas kaca itu. Hei, ternyata begini rasanya! Sempat sekali bapak ini mengambilkan air di dalam gelas untuk saya? Pasti bapak ini mengambil air minum dari rumah warga sekitar. Masyaallah.

Beberapa saat kemudian jalanan sudah lancar kembali. Barang-barang saya sudah diletakkan di dekat saya. Sedangkan motor saya entah diletakkan di mana. Mobil yang bertabrakan dengan motor saya juga tak terlihat lagi keberadaannya di hadapan saya. Darah dari luka di tangan saya masih terus mengucur. Beberapa orang mulai berdatangan mendekat, meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Saya terharu, hingga air mata saya pun menetes. Orang-orang semakin menenangkan saya. Beberapa saat kemudian, datang seorang bapak membawa obat merah (betadine). Tanpa dikomando, beliau langsung mengoleskan obat merah tersebut pada luka di jari tangan saya. Saya tak mengenal semua orang yang ada di hadapan saya ini. Kemudian saya mulai memberanikan diri bertanya pada mereka.

“Di mana motor saya? Bagaimana kondisinya?”

“Motornya sudah saya taruh di situ mbak. Kaca depan dan bagian kanan depan rusak”.

“Lalu bagaimana kondisi mobil yang saya tabrak?”

“Itu mobilnya,” ungkap bapak yang mengobati luka saya sambil menunjuk ke arah mobil di seberang jalan. “Bannya pecah, kaca depan dan spionnya hancur”, lanjutnya. Saya kaget dan tidak menyangka kondisi mobilnya separah itu.

Bayangan ganti rugi pun segera menggelayuti pikiran. Waduh, gawat ini, apalagi kalau sampai diperkarakan ke polisi.

“Tidak apa-apa kok mbak, nanti damai saja”. Seakan bisa membaca pikiran saya, bapak itu pun angkat bicara. Saya semakin keheranan, memangnya bapak ini siapa kok beraninya memutuskan untuk jalan damai tanpa bertanya dulu ke pihak yang punya mobil? Namun, rasa heran saya tidak berlangsung lama, karena saya pun akhirnya mengetahui bahwa bapak itu adalah pemilik mobil. Ya, bapak yang dengan sigap mengobati luka di jari-jari saya itu ternyata adalah pengemudi mobil yang saya tabrak.

*****

3 thoughts on “Segelas Air Untuk Korban Kecelakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s