Menjadi Mahasiswa Cemerlang


siswa-sma1Salam Mahasiswa!

“Masa yang paling indah” baru saja kalian lewati, kawan. Ya, masa “abu-abu putih” yang katanya Bang Chrisye itulah masa paling indah. Kalau di sekolah dulu kalian ‘malu pada semut merah yang berbaris di dinding’, maka sekarang bukan semut merah lagi yang akan membuat kalian malu, tapi kalian akan ‘malu pada mobil merah yang berbaris di kampus’. Pasalnya, mobil-mobil itu ‘menatap curiga’, seakan penuh tanya ‘sedang apa di sini?’. ‘Menunggu angkot’ jawabku.

Haha, tidak usah terlalu dianggap serius lah. Cerita tersebut hanya fiktif belaka kok. Tapi semua itu bisa menjadi non-fiktif alias kenyataan dalam kondisi saat ini. Maksudnya? Oke, ini mau saya jelasin ya…

Mahasiswa dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

Pada suatu hari, di sebuah kota nan sejuk, ada sekelompok manusia yang bernama MAHASISWA, yang sedang berkumpul di sebuah ruangan kecil di kampusnya. Mahasiswa-mahasiswa ini bukan sedang mengerjakan laporan atau tugas kuliah. Bukan pula sedang merencanakan untuk kongkow-kongkow di warkop langganan. Bukan untuk nggosip, dan bukan untuk arisan.Mahasiswa-mahasiswa ini rupanya sedang menggagas PERUBAHAN MASA DEPAN BANGSA. Wuuuiihh, berat rek! Memang terlihat berat, bagi anak SMA. Tapi bagi yang sudah merasa menjadi anak kuliahan, tentu tidak akan menganggap berat. Kenapa? Karena mahasiswa bukan lagi siswa.

Mahasiswa sebagai kaum terpelajar yang paling tinggi posisinya di tengah masyarakat. Makanya disebutnya pake awalan ‘maha’, yang berarti ‘paling’. Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa punya peran mulia, salah satunya adalah sebagai agen perubah (agent of change). Nah, tuntutan peran inilah yang mengharuskan mahasiswa peka terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Peran ini juga yang menjadikan mahasiswa tergerak untuk memikirkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Inilah mahasiswa.

Namun, ternyata gelombang sistem kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini telah menggerus idealisme mahasiswa hari ini. Mahasiswa seakan lupa dengan jati dirinya sebagai agen perubah bangsa. Ia secara tak sadar justru menjadi benih-benih perusak bangsa. Mahasiswa mesum, mahasiswa mencuri, mahasiswa membunuh, mahasiswa mengonsumsi narkoba, mahasiswa mabuk-mabukan, dan lain sebagainya. Silakan kalian googling sendiri berita selengkapnya.

Inilah realita mahasiswa dalam sistem kapitalisme liberal. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang individualis dan berperilaku serba bebas. Kapitalisme berorientasi pada materi, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya ketika beraktivitas hanya berorientasi mencari keuntungan materi semata. Liberalisme berorientasi pada kebebasan, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya bertingkah laku serba bebas. Dampak dari sistem kapitalisme liberal ini pun akhirnya turut dirasakan oleh mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa yang akhirnya memiliki pemikiran: saya kuliah sudah mahal, jadi setelah lulus harus dapat kerja yang gajinya gede biar bisa balik modal. Akhirnya yang ada di benak mahasiswa hanyalah uang, uang, dan uang. Tak jarang juga mahasiswa yang akhirnya terjebak pada gaya hidup serba bebas, bahkan sampai mengantarkan pada seks bebas. Na’udzubillah.

Jika sudah begini, maka kesenjangan antara si kaya dan si miskin pun semakin tampak jelas. Mahasiswa yang kaya bisa naik mobil merah saat ke kampus, sedangkan mahasiswa yang pas-pasan hanya bisa naik mobil biru alias angkot. Kalau sudah begini, maka cerita fiktif di awal tulisan ini pun bisa menjadi kenyataan.

Generasi Cemerlang dalam Naungan Khilafah

Sebelum generasi terbaik negeri ini benar-benar mengalami kerusakan yang parah, maka mahasiswa harus segera menyadari perannya. Mahasiswa harus berusaha mengembalikan idealismenya sebagai agent of change. Namun, hal ini akan sangat sulit terwujud selama negeri ini masih ‘dicengkeram’ oleh sistem kapitalisme liberal. Maka, kita butuh sistem yang lebih baik bahkan terbaik, yang mampu mencetak generasi penerus bangsa yang cemerlang. Generasi cemerlang itu hanya akan terlahir dari sistem yang cemerlang pula, yaitu sistem khilafah.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan aturan Islam (syariat) secara menyeluruh (kaaffah). Karena pada faktanya, Islam yang diturunkan oleh Allah telah begitu sempurna mengatur kehidupan ini. Mulai dari sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem hukum, sampai sistem politik dan pemerintahan, semuanya ada di dalam Islam. Dalam sistem khilafah, khalifah (pemimpin) akan menerapkan semua sistem berdasarkan aturan Islam.

Dalam bidang pendidikan, khalifah akan menerapkan sistem pendidikan Islam, yang mampu membentuk individu-individu berkepribadian Islam. Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan atas seluruh rakyatnya. Negara melakukan pengelolaan dalam sistem pendidikan melalui empat hal, yakni biaya pendidikan yang dibebaskan (gratis), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, penyediaan guru yang berkualitas, dan penyiapan orangtua yang berkualitas.

Dalam bidang ekonomi, khalifah akan menerapkan sistem ekonomi Islam, yang mampu menjamin kesejaheraan seluruh rakyat. Negara akan menjamin terdistribusikannya harta secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. Sistem ekonomi Islam juga mampu menjauhkan masyarakat dari segala bentuk kemaksiatan seperti kecurangan dalam timbangan, penipuan, dan sebagainya.

Dalam bidang sosial, khalifah akan menerapkan sistem pergaulan Islam, yang mampu membersihkan masyarakat dari seks bebas dan akhlak yang rendah. Selain itu, khalifah juga akan menerapkan sistem sanksi (uqubat) yang tegas sehingga mampu menjadikan masyarakat takut dan berhati-hati dari melanggar aturan Allah. Jadi, pencegahan kemaksiatan dalam sistem khilafah tidak sekedar memberi sanksi berat  tapi juga memberangus sarana dan media-media penyedia pornografi-pornoaksi yang ada di masyarakat.

Inilah solusi tuntas yang diberikan Islam untuk mengatur kehidupan umat manusia. Solusi ini akan mampu terimplementasikan dengan sempurna melalui institusi negara yang menerapkannya. Dengan adanya ketakwaan individu, yang bersinergi dengan kontrol dari masyarakat, serta penerapan komprehensif yang dilakukan oleh negara.  Pilar-pilar inilah yang menjadi jaminan bahwa pendidikan akan benar-benar mampu menghasilkan generasi cemerlang, agen perubah yang bertakwa.

Maka, saatnya kita terapkan aturan Islam yang sempurna dalam naungan khilafah. Karena sejatinya manusia adalah hamba Allah. Sedangkan alam semesta dan segala isinya adalah milik-Nya. Sungguh tak layak jika kita masih tetap berhukum dengan sistem buatan selain Allah. []

 

Rizki Amelia Kurniadewi

*Artikel ini ditulis untuk selebaran Sambut Maba UB 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s