Mengembalikan Arah Pendidikan Bangsa


2-pendidikan-yang-mendidik2 Mei 2014. Untuk ke sekian kalinya momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) telah kita lalui bersama. Berbagai aktivitas rutin kita lakukan demi memperingati hari yang istimewa ini. Dari upacara hingga demonstrasi mahasiswa. Semua dilakukan dengan satu harapan yang sama, perbaikan sistem pendidikan bangsa. Namun, sudahkah harapan ini terwujudkan?

Di setiap negeri, pendidikan selalu ditujukan untuk mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dicita-citakan. Sumber daya manusia ini, selanjutnya, akan menentukan nasib masa depan bangsa. Inilah yang menjadikan pendidikan sebagai aspek penting dalam pembangunan bangsa. Sehingga untuk menuju pada kesejahteraan bangsa, jaminan atas pendidikan setiap warga negaranya menjadi hal yang harus diperhatikan.

Jika kita mengamati negeri kita, Indonesia, maka akan kita temukan bahwa ada gap antara tujuan yang dicita-citakan dengan metode meraihnya. Bercita-cita mencerdaskan bangsa, tetapi justru melakukan otonomi dan liberalisasi lembaga pendidikan sehingga menjadi jalan bagi komersialisasi pendidikan, yang pada akhirnya justru membuat warga negaranya kesulitan untuk mengakses pendidikan itu sendiri. Mencita-citakan menjadi bangsa yang mandiri dengan melahirkan sumber daya manusia yang berdaya saing global, tetapi kurikulum yang ada, bahkan indikator keberhasilan pendidikan yang dilakukan, lebih banyak diarahkan hanya untuk mencetak pekerja yang siap direkrut oleh pasar atau dunia industri. Jika demikian, maka wajar jika pendidikan hingga hari ini masih belum mampu mengantarkan pada tujuan hakikinya.

Realitanya, pemerintah negeri ini juga belum benar-benar mampu menjamin hak setiap warga negaranya untuk mengenyam pendidikan. Masih tingginya angka putus sekolah, menjadi bukti yang cukup menguatkan. Dari 31,05 juta anak sekolah dasar di negeri ini, sebesar 527.850 anak atau 1,7 persen putus sekolah setiap tahunnya. Mahalnya biaya pendidikan masih menjadi salah satu faktor penyebab ketimpangan pendidikan di negeri ini.

Akar penyebab carut-marutnya pendidikan saat ini, tidak lain adalah karena landasan politik pendidikannya (metode untuk meraih output pendidikan yang dicita-citakan) adalah sekulerisme, kapitalisme, dan liberalisme. Sekulerisme menyebabkan lembaga pendidikan kehilangan orientasi untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Outputnya adalah orang-orang yang tidak lagi mengindahkan ajaran agama dan tipis akhlaknya. Ditambah dengan ditanamkannya ide liberalisme, yang melahirkan kaum terpelajar yang bertingkah laku dan bergaya hidup bebas dan cenderung sulit diatur. Sehingga memunculkan berbagai problem seperti gaya hidup bebas, seks bebas, narkoba, tingkah laku brutal, tawuran, dan sebagainya. Selain itu, ideologi kapitalisme yang diterapkan di negeri ini juga mengharuskan minimnya peran negara dalam melayani masyarakat, termasuk dalam hal pendidikan. Sektor pendidikan akhirnya banyak yang diprivatisasi. Akibatnya, biaya pendidikan dari hari ke hari kian melangit.

Penerapan kapitalisme ini juga menjadikan seluruh aspek kehidupan dikapitalisasi. Pendidikan pun berubah menjadi komoditas bisnis. Sehingga menjadikan pendidikan bermutu hanya dapat dirasakan oleh warga negara yang mampu membayar saja. Sementara warga negara yang tak mampu, harus puas dengan pendidikan rendah dan tak bermutu, bahkan tak sedikit yang terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Undang-Undang Perguruan Tinggi (UU PT) yang telah disahkan pada 2012 lalu, merupakan gambaran politik pendidikan tinggi Indonesia yang terbukti menjadi alat bagi kapitalis untuk menyetir pendidikan tinggi Indonesia. Hal itu merupakan konsekuensi logis atas keterlibatan Indonesia sebagai salah satu anggota World Trade Organization (WTO). Sebagai anggota WTO, Indonesia tidak bisa mengelak dari seluruh kesepakatan yang dibuat dan ditandatangani, termasuk kesepakatan meliberalisasi sektor pendidikan. Sebagai anggota WTO, Indonesia juga harus menandatangani General Agreement on Trade in Services (GATS), yang mengatur liberalisasi perdagangan pada 12 sektor jasa, di mana pendidikan tinggi adalah salah satu di dalamnya. Berbicara perdagangan bebas, maka salah satu prinsipnya adalah proses perdagangan yang berorientasi pada profit dan sangat tergantung pada kekuatan pasar. Maka wajar jika kita jumpai bahwa pendidikan kita hari ini cenderung profit oriented, dengan memasang harga yang mahal. Sehingga hanya warga negara berduit saja yang benar-benar mampu ‘membeli’ pendidikan.

Kapitalisme ini pula yang akhirnya menjadikan sektor pendidikan kerap menjadi sasaran empuk manipulasi, demi kepentingan segelintir orang yang punya modal (kapital). Penguapan dana bantuan operasional sekolah (BOS) menjadi salah satu contoh yang tak asing di telinga kita. Selain itu, soal ujian akhir nasional (UAN) yang diperuntukkan bagi siswa juga telah diwarnai dengan kepentingan politik dari berbagai pihak yang memiliki kekuasaan. Bahkan, media massa yang seharusnya mampu menjadi sarana edukasi bagi anak, justru menjadi alat yang berkontribusi dalam menanamkan pengetahuan negatif kepada anak. Televisi misalnya, banyak menayangkan adegan yang kurang atau bahkan tidak mendidik, yang menjadikan semakin banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para generasi penerus bangsa. Semua ini tidak lain adalah karena ‘orientasi materi’ yang ditanamkan oleh sistem kapitalisme yang mencengkeram negeri ini.

Permasalahan pendidikan ini tak boleh terus kita pelihara. Maka, sudah saatnya kita mengembalikan peran dan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin pendidikan atas setiap warga negaranya. Sehingga pendidikan tak lagi berorientasi pada keuntungan semata, tetapi mampu mewujudkan tujuan hakikinya, yaitu mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dicita-citakan, yang mampu membangun bangsa Indonesia ke arah lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s