Kenangan Terakhir Bersamanya


3 Desember 2013. Tak terasa dua bulan telah berlalu sejak kepergian bulik kami tercinta, Endah Sri Hartati. Masih teringat jelas di benakku saat-saat yang mengharukan itu. Kadang ada sedikit rasa sesal di hati karena selama beliau sakit aku belum pernah ikut menjenguknya. Sudah lama sebenarnya aku berniat untuk berkunjung ke rumahnya di Mojokerto. Namun, selalu ada kendala yang menjadikanku belum bisa merealisasikan niatku itu.

Hingga akhirnya, pada Jumat (29 November 2013) aku memutuskan untuk pulang ke Nganjuk. Padahal rencana awal pulangku masih minggu depannya. Tetapi ternyata ada agenda yang ditunda, yang menjadikanku bisa pulang lebih awal. Aku tak tahu kenapa aku terpikir untuk pulang ke rumah saat itu. Kuanggap saja sebagai agenda rutin yang memang biasa kulakukan, birul walidain. Setelah sampai di rumah, aku baru diberi tahu oleh ibuku bahwa bulikku yang sakit sedang dirawat di rumah nenekku, yang masih satu daerah dengan tempat tinggalku. Aku benar-benar tak menyangka. Segera malam itu setelah kedatanganku di rumah, aku dan bapak ibuku berkunjung ke rumah nenek untuk menjenguk bulik.

Rupanya di rumah nenek juga sedang berkumpul keluargaku yang lain. Itulah pertama kalinya aku bertemu langsung dengan bulikku selama beliau sakit. Ibuku pernah bercerita kepadaku bahwa bulik Tik sering menanyakanku. Tapi aku baru bisa menjenguknya saat itu, pada hari kelima sebelum kepergiannya menghadap Ilahi. Ah, maafkan keponakanmu ini, bulik. Pada pertemuan malam itu, aku sedikit kaget. Aku hampir tak tega menatap bulikku yang terbaring lemah di kasur busa. Aku tak bisa berkata banyak, karena di benakku masih dipenuhi rasa penyesalan. Malam itu, bulik masih bisa menyapaku dan berbicara padaku.

Keesokan harinya, Sabtu (30 November 2013), aku kembali menjenguk bulikku. Hari itu kami bahkan sempat bercakap. Saat aku sedang memijat-mijat kaki bulikku, tiba-tiba beliau berkata kepadaku. “Mbak Ki, doakan aku ya…”, ucapnya dengan penuh harap. Ah, lagi-lagi ini sangat mengharukan. Aku ingin menangis saat itu. Sepertinya memang aku sudah menangis. Tapi aku berusaha tidak menampakkannya di depan bulikku. Beberapa saat setelah itu, bulikku berkata kepada pakdheku, meminta agar semua keluarga yang lain berkumpul di rumah nenekku untuk menemani bulikku. Beliau menyebutkan satu per satu nama saudara-saudaranya, yang diharapkan kedatangannya.

Seingatku, keesokan harinya semua saudara-saudaraku benar-benar datang. Paklik dan bulikku dari Jember, bulikku dari Sidoarjo bersama adik-adik sepupuku, mbak sepupuku dari Sidoarjo, om dan bulikku dari Banjarmasin, serta adik sepupuku yang merupakan putra pertama bulik Tik. Namun, saat kami benar-benar telah berkumpul, bulik Tik tak lagi bisa diajak bercakap. Beliau hanya tertidur, sambil sesekali menggerak-gerakkan tangannya. Semua keluarga berusaha menyemangati dan mendoakan.

Pada Senin (2 Desember 2013), kondisi bulikku mulai ada perkembangan. Kami pun berharap bulik bisa segera sembuh. Kami terus melakukan upaya untuk merawat dan mendoakan bulik Tik. Dokter pun memeriksa dan menyatakan bahwa kondisinya mulai membaik. Walaupun beliau masih tetap tak sadarkan diri. Namun, kata dokter, beliau bisa mendengar ucapan-ucapan kami. Melihat perkembangan bulik Tik, setidaknya membuat kami sedikit lega.

Senin tengah malam, sebuah pesan Line masuk di ponselku. Rupanya pesan dari adik sepupuku, Tito. Dia menanyaiku kapan kembali ke Malang, karena dia ingin ikut ke Malang bareng. Tito adalah putra pertama bulik Tik. Ia sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Di kampusnya akan ada ujian, sehingga ia harus segera kembali ke Malang. Tito menawarkan untuk berboncengan denganku ke Malang, karena ia tak membawa sepeda motor. Namun, aku teringat, bahwa sepupu itu bukan mahram, dan dalam agama Islam telah diatur batasan-batasan yang harus dijaga oleh seorang muslimah terhadap non-mahram. Salah satu diantaranya adalah tidak boleh berkhalwat, termasuk berboncengan sepeda motor. Yah, akhirnya aku menemukan jalan keluar yang terbaik, sepeda motorku dinaiki oleh adikku ke Malang, dan aku naik travel. Sepakat.

Keesokan paginya, Selasa (3 Desember 2013), ibuku menelepon agen travel untuk memesan travel ke Malang. Awalnya, aku meminta travel yang berangkat pukul 5 pagi, tapi ternyata sudah penuh. Setelah dicarikan lagi, akhirnya ada satu bangku kosong yang masih tersisa, pada pemberangkatan pukul 8.00 WIB. Akupun mengambil bangku itu. Setelah menghubungi travel, akupun bersiap-siap. Pukul 7 kurang, bapak ibuku berangkat mengajar. Tempat kerja bapak ibuku dekat dengan rumah nenekku. Aku pun ikut ke rumah nenek pagi itu untuk mengantarkan sepeda motorku kepada adikku.

Sesampainya di rumah nenek, aku kaget dengan pemandangan yang kulihat. Di rumah nenek terlihat beberapa orang yang sedang duduk dengan cemas dan mata bengkak. Selain itu, aku juga mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari kaset yang disetel nyaring di dalam rumah nenek. Aku mulai khawatir. Segera aku memasuki rumah nenek, dan kulihat bulikku sedang tak sadarkan diri. Kami berusaha menuntun beliau dengan kalimat ‘Allah’ berulang kali. Matanya tetap terpejam, tapi bibirnya seakan ingin mengikuti ucapan ‘Allah’. Beberapa di antara kami diminta membacakan surat Yassin. Kami pun mengaji bersama dan berdoa semoga Allah memberikan keputusan terbaik-Nya. Sesekali aku melihat jam dinding. Sudah lewat dari pukul 8. Aku pun membisiki ibuku untuk meminta membatalkan travel. Aku dan Tito akhirnya tidak jadi balik ke Malang hari itu.

Jarum jam dinding terus berputar. Hingga seorang Ustadz yang rumahnya berdekatan dengan rumah nenekku, meminta kami untuk mengubah posisi tidur bulikku menghadap arah Selatan, dengan posisi kepala beliau di Utara. Kami terus membacakan Al-Qur’an dan menuntun beliau dengan kalimat ‘Allah’. Kami terus berharap dan berdoa kepada Allah. Kami memasrahkan semuanya kepada Allah, karena kami yakin bahwa kami tidak mungkin bisa menyalahi kehendak-Nya.

Dan pagi itu adalah pertama kalinya aku melihat dengan mataku sendiri proses sakaratul maut. Proses pencabutan nyawa manusia oleh makhluk Allah yang bernama Malaikat Izrail. Mataku memang tak dapat menatap wujudnya. Tapi aku merasakan dan menyaksikan bahwa ruh itu telah tercabut dari kerongkongan. Bersamaan dengan hal itu, keluar banyak muntahan dari mulut bulikku. Bulik Eny dan ibuku segera mendekat dan berharap semua penyakit bulik Tik bisa dikeluarkan melalui muntahan itu. Bulik Eny memangku bulik Tik dan merasakan bahwa bulik Tik masih sempat membuka matanya, walaupun pada akhirnya menutup mata juga. Pak Ustadz kemudian mendekati kami dan mengatakan, “Sampun… sampun… sampun mboten wonten”. Seketika kami pun berucap ‘Innalillahi wainnailaihi roji’un’.

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri.” (Imam Ghazali mengutip atsar Al-Hasan).

Ya Allah, sungguh, kami telah mengikhlaskan bulik Tik untuk menghadap-Mu. Semoga Engkau menjadikan akhir hayatnya dalam kondisi yang baik, khusnul khatimah. InshaAllah beliau meninggal dalam keadaan iman. Bulikku pernah bernadzar apabila Allah memberikan kesembuhan, beliau akan belajar mengaji. Sungguh niat yang sangat mulia. Dan sungguh apabila seorang hamba telah memiliki niat untuk melakukan suatu ketaatan maka telah tercatat baginya satu kebaikan, meski amalan tersebut belum diamalkan. Inilah yang diungkapkan oleh kakak sepupuku, Mas Aris. “Masih teringat jelas raut wajahnya yang sumringah ketika mengutarakan nadzarnya. Saat itu beliau tersenyum dengan tulus di antara rasa sakit yang dirasakannya,” tuturnya. Semoga di kehidupan yang kekal nanti Engkau berkenan mempertemukan kembali kami di surga-Mu. Aamiin…

*****

Pesanku untuk adik-adikku, Tito Herlambang dan Ian Ilham Yuniar:

Orang tua hanyalah manusia biasa,
Tak akan selamanya di samping kita.
Mereka adalah titipan Ilahi,
Yang suatu saat nanti pasti akan diambil kembali.
Maka bahagiakan mereka selagi masih ada,
Dan ketika pun Rabb telah memanggilnya,
Tak usah engkau bersedih dan berputus asa.
Doakan mereka,
Sebagai wujud bakti kepada keduanya.
Jadilah anak-anak shaleh,
Yang senantiasa taat pada perintah Allah.
Semoga doa kalian mampu membalas kebaikan mereka.

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR. Muslim).

“Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Al-Qur’an, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.” (HR. Ibn Majah).

*****

Rizki Amelia Kurniadewi

Malang, 2 Februari 2014 | 17.00 WIB.
Masih diliputi suasana berduka atas meninggalnya salah satu saudari seperjuangan kami dalam dakwah Syariah Khilafah, Ustadzah Halimah. Semoga Allah menakdirkannya khusnul khatimah. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s