Menjadi Orang Baik


Suatu hari aku pernah ikut duduk-duduk di emperan gedung Kabupaten. Bukan dalam rangka berteduh dari panas atau hujan, melainkan menunggu narasumber yang belum kunjung datang. Ya, saat itu aku duduk di antara para kuli tinta yang siap berburu berita. Namun, berbeda dari mereka, aku datang tanpa kamera SLR, tanpa tape recorder, dan tentu saja tanpa kartu pers. Saat itu, aku hanya membawa perlengkapan tas ransel hitam, kamera digital, dan alat tulis. Sederhana bukan? Hehe.

Awalnya kami berhamburan masuk ke dalam gedung. Namun, beberapa ruangan terlihat masih tutup. Kemudian ada seorang petugas yang mendatangi kami dan meminta kami menunggu di luar. Maka, kami pun mulai bergerombol di teras gedung. Setelah kuamati lagi, ternyata hanya aku dan mbak Uut yang berjenis kelamin perempuan. Selebihnya, wartawan yang ada di sana adalah dari golongan laki-laki. Hmmm…

Tiba-tiba mbak Uut melontarkan pertanyaan padaku, “Kamu nanti setelah lulus mau jadi apa, Ki’?”. Aku segera menjawab dengan bersemangat dan tersenyum mantap, “Jurnalis, mbak!”. Mbak Uut terlihat sangat kaget dan tertawa mendengar jawabanku, lalu berkata, “Jurnalis? Beneran? Kenapa ga jadi diplomat atau apa gitu?”. Aku pun mengernyitkan dahi sambil menanggapi, “Ngga mbak, aku pengen jadi jurnalis. Memangnya ada yang salah ya mbak?”. Wartawati jebolan salah satu kampus di Malang itu pun bertanya lagi padaku, “Kenapa kamu pengen jadi jurnalis?”. “Aku suka menulis, mbak”, jawabku singkat. Mbak Uut pun mulai berteriak memberi tahu teman-temannya sambil tertawa, “Hei, anak ini pengen jadi jurnalis!”. Aku semakin bingung dan mencoba mengingat-ingat barangkali ada yang salah dengan jawabanku. Tak lama kemudian, wanita yang tengah hamil muda itu pun menyampaikan sebuah nasehat padaku. “Kamu itu anak baik-baik, Ki’. Jangan jadi jurnalis. Jurnalis itu kerjaannya berat. Ya gini ini sehari-harinya, duduk-duduk di emperan nunggu narasumber datang”. Aku hanya terdiam sambil berusaha mencerna pesan tersebut.

Sebenarnya aku masih penasaran dengan nasehat mbak Uut. Maksudnya anak baik-baik itu bagaimana sih? Kenapa anak baik-baik tidak boleh menjadi jurnalis? Apakah berarti yang boleh menjadi jurnalis itu hanya anak yang tidak baik? Kayaknya ngga juga deh. Lalu?

Teringat saat awal masuk magang di salah satu media massa lokal dulu. Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya aku bisa bertemu dengan Pimpinan Redaksi media tersebut. Setelah meminta maaf, bapak yang berwajah ‘cerah’ itu mulai menyampaikan padaku tentang aturan-aturan magang. Aku pun memperhatikan penjelasannya dengan seksama agar tak salah langkah. Beberapa saat kemudian aku baru menyadari bahwa selama pembicaraan berlangsung, beliau jarang melihat ke arahku. Aku mulai bertanya-tanya. Hingga sampai pada pernyataan bahwa setiap wartawan yang baru masuk akan ditugaskan meliput berita kriminal. Kemudian beliau bertanya padaku, “Kamu apa bersedia kalau saya tugaskan meliput berita kriminal bareng wartawan laki-laki?”. Aku berpikir sejenak. Kenapa bapak ini bertanya dulu tentang kesanggupanku? Bukankah ketika ditugaskan aku pasti akan mengupayakannya? Toh aku kan naik motor sendiri? Namun, belum sampai aku menjawabnya, bapak itu sudah memutuskan, “Ngga usah deh, nanti saya pasangkan dengan wartawan perempuan saja”. Subhanallah. Sepertinya aku telah menemukan jawaban kenapa beliau jarang melihat ke arahku selama perbincangan kami. Mungkin ini alasannya.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (TQS. An-Nur: 30)

Ini orang baik pertama yang kutemui di kantor media tersebut. Profesinya tidak lain adalah sebagai jurnalis, tepatnya Pimpinan Redaksi. Pemimpin dari para jurnalis yang bekerja di media massa tersebut. Orang baik ternyata bisa jadi jurnalis kan?

Tapi, ah sudahlah! Sepertinya aku memang tidak berjodoh dengan profesi itu. Dua kali lamaranku hangus hanya karena hal-hal sepele. Pertama, telepon dari redaksi sebanyak tujuh kali tak pernah terangkat olehku. Entah itu saat aku sedang perjalanan dan tak mendengar dering ponsel, ataupun saat aku sedang ujian dan ponselku terpaksa kudiamkan. Kedua, panggilan untuk tes terpaksa kuabaikan hanya karena tidak mendapat restu orang tua. Alasannya pun terdengar sangat sepele. “Jakarta sering banjir, nduk!” Rupanya ibuku khawatir jika tubuh ringanku ini terbawa arus air bah Ibukota yang sangat deras. Ini alasan sepele kedua yang kudengar dari ibuku. Dulu aku juga pernah mendengarnya ketika ibu melarangku naik bus ke Malang saat jembatan Pujon nyaris ambruk. Ibu memintaku naik travel saja. Alasannya, karena travel ukurannya lebih kecil dan lebih ringan dari pada bus, sehingga ketika melintas di atas jembatan bisa lebih gesit dan mampu melewatinya dengan selamat sebelum jembatan itu benar-benar ambruk. Aku sama sekali tidak menyalahkan, justru aku bangga dengan ibuku. Beliau benar-benar sayang kepada anak-anaknya. Ibu guru yang satu ini memang tiada duanya. Alhamdulillah.

Aku ingin melanjutkan ceritaku di teras Kabupaten tadi. Tak lama kemudian, narasumber yang kami tunggu siap menerima para wartawan. Kami pun dipersilakan memasuki sebuah ruangan untuk mendengarkan penjelasan dari narasumber. Jumpa pers itu dilakukan dalam rangka memberikan sosialisasi terkait kebijakan pemerintah Kabupaten terhadap tempat remang-remang selama bulan Ramadhan. Lokalisasi akan ditutup dan tempat karaoke-an hanya diijinkan buka setengah hari. Di dalam benakku mulai bergemuruh pertanyaan. Mantap sekali narasumber itu menyampaikan kebijakannya. Seakan-akan ia telah memberikan solusi terbaik. Aku mulai mengamati wajah para wartawan yang duduk di hadapanku satu per satu. Ada yang sibuk membenarkan kameranya menyorot wajah narasumber, ada yang sibuk menuliskan kata-kata di buku catatannya, ada yang sedang merekam suaranya untuk disalurkan melalui gelombang radio, dan ada pula yang berusaha melontarkan pertanyaan kepada narasumber. Saat itu aku memilih hanya menjadi pengamat, walaupun sesungguhnya ada satu pertanyaan besar yang ingin kuajukan.

Setelah selesai urusan di Kabupaten, mbak Uut mengajakku untuk meliput berita di Pengadilan Negeri. Kami pun segera menuju TKP yang tak jauh dari posisi awal kami. Sesampainya di pengadilan, mbak Uut mengarahkanku untuk memarkir motor di tempat yang tidak biasa. “Ini parkir khusus wartawan, Ki’. Kalau ditaruh sini ga perlu bayar uang parkir”. Oh, jadi itu alasannya.

Begitu masuk gedung pengadilan, mbak Uut tampak sudah akrab dengan para petugas di sana. Kami pun melewati kerumunan orang yang sedang duduk-duduk. Aku sempat melihat seorang bapak yang memakai baju takwa berwarna putih dan berpeci, yang sedang berdiri di balik jeruji penjara dan dikerumuni keluarganya. Aku baru tahu, ternyata di dalam pengadilan itu ada penjaranya. Lalu kami duduk di depan kantin, sambil menunggu sidang dimulai. Masih sama dengan pemandangan yang kusaksikan sebelumnya, kumpulan wartawan yang ada di hadapanku hampir semuanya berjenis laki-laki.

Mbak Uut mulai mengatakan sesuatu padaku. “Kamu lihat bapak yang berbaju putih di dalam penjara tadi? Dia itu tersangka kasus pembunuhan”. Glekk!!! Aku kaget bukan main. Bulu kudukku langsung berdiri. Sangat tidak kusangka, seorang bapak berwajah memelas yang terlihat alim tadi ternyata seorang pembunuh. Aku pun segera menengok ke kanan kiriku. Memastikan tak ada pisau atau senjata tajam di sekitarku.

Sepertinya mbak Uut tak menyadari kegelisahanku. Ia kemudian berbisik padaku, “Kamu lihat orang di depan kita itu? Dia wartawan bodrex”. Aku tak paham dengan perkataan mbak Uut. “Wartawan bodrex itu apa mbak?”, tanyaku. “Wartawan yang tidak punya surat kabar, biasanya disebut juga WTS, wartawan tanpa surat kabar”, jelas mbak Uut. “Mereka mencari berita dengan cara memeras narasumber. Dari situlah mereka memperoleh penghasilan,” lanjutnya. Aku terus mengamati orang-orang di hadapanku. Mereka hampir tak bisa kubedakan antara wartawan yang asli dan palsu.

Jam sidang pun dimulai. Para wartawan segera memasuki ruang sidang. Aku ikut duduk di kursi belakang persidangan. Ini pengalaman pertamaku mengikuti sidang di pengadilan. Beberapa wartawan terlihat aktif ‘menjeprat-jepret’ tersangka. Akibatnya, keluarga tersangka tampak marah kepada wartawan karena merasa dipermalukan dengan foto-foto yang akan dimuat di media massa. Mbak Uut berpamitan meninggalkanku untuk memotret dari sisi depan. Ia kembali berbisik padaku, “Hanya wartawan media kita yang diberikan ijin khusus untuk memotret dari depan”. Aku tersenyum padanya sambil mengacungkan jempol tanganku.

Ah, pengalaman saat itu sungguh luar biasa! Dan aku baru menyadari, mbak Uut adalah orang baik kedua yang kutemui di kantor media tempatku magang. Semoga sekarang ibu ‘Bumi’ itu sudah menutup auratnya.

[Zakiya El Karima]

4 thoughts on “Menjadi Orang Baik

  1. Its not easy to be gud journalist, ki.. Hehehe. Media massa pd umumnya Чªªª bgtulah, u know what I mean, right?.. Mngkin klo jd journalist d media yg bhas dunia female ga akan sgarang itu kali ya.. Gmn? Msh mw lanjut?

    • yup, I know that. aku baru benar2 menyadari saat magang itu. entahlah, kadang msh terobsesi utk bisa menjadi jurnalis. tapi sekarang aku punya impian lain. tunggu saja kisahnya. suatu saat akan kutuliskan di blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s