[Untittle]


Aku tak tahu tempat apa itu. Tapi seingatku, tempat itu mirip rumah pengungsian. Ada sebuah keluarga yang menumpang tidur di salah satu ruangan di sana. Seingatku, aku bahkan sempat mengobrol dengan mereka. Namun, aku tak mampu lagi mengingat secara utuh percakapan kami. Aku tak sendirian saat itu. Berdua, bertiga, atau lebih. Sayang, aku tak mampu mengingatnya. Hanya satu kejadian yang kuingat. Tentang pertemuan kami dengan seorang anak.

Saat kami berjalan meninggalkan rumah itu, tiba-tiba seorang anak menghampiriku dan memberikan sebuah amplop, lalu ia pergi begitu saja. Pikirku, ini pasti pengemis yang meminta sumbangan. Kuamati amplop itu dan aku mulai menemukan sesuatu yang menarik. Tulisan di balik amplop itu menggiring kedua mataku untuk membacanya. Ah, lagi-lagi aku lupa teks lengkapnya. Tapi aku telah menangkap maksudnya. Anak itu menuliskan pertanyaan dan harapannya di balik amplop, yang intinya begini, “Kakak punya buku? Maukah kakak menyumbangkan buku-buku kakak yang sudah tak terpakai untukku? Aku ingin belajar. Aku ingin sekolah”.

Tak kusangka. Amplop yang kupikir ditujukan untuk meminta sumbangan belas kasihan itu, ternyata berisi tulisan yang mempesona. Segera kupanggil anak tadi, dan ia pun berlari mendekatiku. Sambil tersenyum kukatakan padanya, “Kakak punya banyak buku untukmu”. Ia pun berbinar dan tertawa riang. Namun, sebelum benar-benar kuberikan buku-bukuku padanya, waktu terlalu cepat memisahkan kami. Rumah, anak, dan segala kejadian itu telah terhapus seketika. Aku tak tahu kapan kami bisa bertemu lagi. Setidaknya, aku hanya ingin membuktikan, bahwa aku punya buku bacaan untuknya.

Setelah sadar, pikiranku segera tertuju pada lemari meja belajar di kamar rumahku. Deret pertama dan kedua memang kupenuhi dengan koleksi Disney dan kumpulan hadiah ulang tahun dari teman-teman sekolahku dulu. Tapi aku ingat jelas, di deret paling bawah aku masih menyimpan beberapa buku bacaan favoritku saat masih kecil dulu. Buku-buku itu dibawakan oleh ibuku dari perpustakaan sekolah tempat ibu mengajar. Aku rindu buku-buku itu. Aku rindu kisah Amanda masuk sekolah baru.

Sekolah? Kenapa mendadak pikiranku menyorot ke bawah jembatan? Ya, di bawah jembatan di salah satu sudut Kota Malang. Saat beberapa tahun lalu kami mengendap-endap masuk ke bawah jembatan untuk mencari seorang anak jalanan. Aku tak pernah menyangka ternyata kolong jembatan yang hanya berjarak beberapa meter dari kuburan itu, menjadi tempat tinggal bagi anak-anak manusia. Namun, keherananku tak berlangsung lama. Aku dan kawanku segera berlari naik ke atas, karena ada beberapa anak laki-laki yang bergerombol di kolong jembatan itu. Teringat pesan seorang pengamen yang kami temui di pinggir jalan beberapa menit sebelumnya, “Hati-hati mbak, di sana banyak premannya!”. Belum sampai guncangan detak jantung ini mereda, aku dikagetkan oleh seorang penjaga kuburan di seberang jalan tempat kami berdiri. Ia menatap ke arah kami sambil melotot. Aku segera mengalihkan pandanganku. Dan sedikit demi sedikit aku mulai meliriknya kembali. Kosong. Tak ada siapapun di kuburan itu. Hanya asap sampah yang mengepul pudar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s