Jebakan Kemaksiatan


Artikel ini saya tulis dalam rangka untuk mengungkapkan kekecewaan diri atas fenomena kemaksiatan yang sangat sering saya saksikan di lingkungan sekitar, termasuk kampus.

Sore itu, saya dan adik-adik melakukan halqah di sebuah pelataran gedung kampus. Suasana senja yang menyejukkan membuat kami semakin bersemangat untuk mengkaji sebagian ilmu-Nya yang termaktub dalam kitab ‘Peraturan Hidup dalam Islam’. Kitab bersampul putih dengan goresan tinta hitam dan merah ini mengingatkan saya tentang satu filosofi dalam lirik lagu Thufail Al-Ghifari, “Hitam pena para ulama dan merah darah para syuhada”. Ini filosofi yang sungguh manis, yang menunjukkan bahwa Islam akan termuliakan dengan dua hal itu. Dan tampaknya kitab ini benar-benar ingin memadukan dua unsur tersebut dalam satu pembahasan yang mengguncang pemikiran. Hmm, rasanya tak perlu diragukan lagi, karya-karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani memang benar-benar mustanir.

Beberapa menit telah berlalu. Tampak raut wajah adik-adik mulai gelisah, berkerut kening. Terlihat bahwa mereka sedang berpikir keras, untuk membayangkan proses pemindahan materi ke dalam otak, atau yang dalam Sosialisme-Komunisme disebut sebagai refleksi materi atas otak, refleksi otak atas materi. Ini memang pembahasan yang luar biasa. Dan ternyata, luar biasa pula godaannya.

Di seberang dekat kami halqah, mulai datang sepasang muda-mudi yang duduk berdempetan. Tak hanya duduk bersama, mereka mulai melakukan aksi pegang-pegangan tangan. Hingga tangan si cowok pun mulai membelai si cewek. Dan akhirnya….. Ehm! “Lihat apa dek?!! Ayo fokus halqahnya ya…”

Miris. Beginilah gambaran kondisi lingkungan sistem demokrasi. Bahkan untuk sekedar fokus belajar saja susah, harus terganggu oleh pemandangan maksiat yang bertebaran di mana-mana. Seperti sore kemarin, untuk sekian kalinya saya emosi saat mengendarai motor, gara-gara disuguhi aurat gratis dan aksi teletabis berpelukan di atas motor. Beberapa kali saya bunyikan klakson dengan keras untuk memperingatkan mereka. Tapi apa daya, sepertinya setan telah menutup rapat telinga mereka.

Ah, lagi-lagi setan yang dijadikan kambing hitam. Ini mengingatkan saya pada salah satu guyonan dosen Bahasa Indonesia. Beliau mengatakan bahwa nanti yang pertama kali masuk surga itu adalah setan. Sontak semua mahasiswa di ruang kelas kaget dan terheran-heran. “Setan itu selalu teraniaya, dia selalu dikambing hitamkan, jadi doa setan itu cepat dikabulkan”. Hehe, ada-ada saja bapak dosen itu.

Terlepas dari godaan setan, sepertinya kita memang perlu berkaca. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa tugas setan dari dulu sampai sekarang tetaplah sama, yaitu menggoda manusia. Sehingga konyol sekali jika suatu maksiat selalu kita kaitkan dengan godaan setan. Kalau itu, anak kecil juga tahu. Jika memang kemaksiatan hanya disebabkan karena godaan setan, lalu apakah kemaksiatan itu bisa hilang hanya dengan kita membaca ta’awudz? Harusnya iya, tapi ternyata sama sekali tidak. Maka, seharusnya yang perlu kita pertanyakan adalah kenapa setan mudah sekali menggoda manusia-manusia jaman sekarang? Mari kita cermati ayat berikut :

“Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah.”  (TQS. An-Nahl: 99)

Ayat di atas menunjukkan dengan jelas bagaimana karakter orang yang tidak mudah diganggu oleh setan, yaitu orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Sehingga pertanyaan kita telah terjawab, kenapa setan mudah menggoda orang-orang jaman sekarang? Tidak lain adalah karena orang-orang jaman sekarang banyak yang kurang beriman dan bertawakal kepada Allah. Bagaimana bisa? Padahal mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam kan?

Memang benar, penduduk Indonesia mayoritas adalah umat Islam. Makanya tadi saya katakan mereka ‘kurang’ beriman, dan bukan saya katakan mereka ‘tidak’ beriman. Kurang beriman yang saya maksudkan di sini adalah bahwa iman mereka belum mencapai tingkatan tasdiqul jazm (pembenaran yang pasti). Sehingga keimanan mereka tidak bulat 100 persen. Mari kita buktikan dengan melihat satu per satu rukun iman yang ada.

Iman kepada Allah. Mereka yakin bahwa Allah adalah Dzat Penciptanya, tapi ternyata mereka masih enggan diatur dengan aturan-Nya. Hanya mengambil sebagian perintah-Nya yang dianggap ringan dan mengabaikan sebagian perintah lainnya yang dianggap berat. Padahal Allah Maha Tahu, Dia pasti lebih mengetahui apa-apa yang sanggup dilakukan oleh manusia. Demikian juga ketika memberikan suatu perintah, pasti Allah telah menyesuaikannya dengan kadar kemampuan manusia. Sehingga semua perintah-Nya sejatinya pasti bisa kita laksanakan.

Namun, manusia sekarang banyak yang tidak meyakini hal itu. Hingga mereka pun sombong dan menganggap bahwa mereka mampu membuat aturan sendiri dalam kehidupan dunia. Maka mulai dianutlah paham sekulerisme, yang memisahkan antara agama dari kehidupan. Muncul anggapan bahwa agama hanya dapat diterapkan dalam ibadah ritual semata, sedangkan ketika dalam kehidupan sehari-hari maka agama tidak perlu diikut sertakan. Paham ini akhirnya melahirkan orang-orang yang rajin shalat, puasa, zakat, bahkan mungkin sudah haji berkali-kali, tapi ternyata masih doyan korupsi. Kita jumpai pula orang-orang yang hafalan Al-Qur’annya banyak tapi masih mau diajak pacaran. Tak jarang pula orang-orang yang sudah mengenakan kerudung besar tapi masih suka berkhalwat dengan lawan jenis. Belum lagi orang-orang yang mengaku Islam tapi enggan menutup aurat, muslim tapi takut diajak kajian Islam. Masyaallah.

Manusia pun mulai meremehkan aturan Allah. Mereka mengatakan bahwa Islam tidak sesuai dengan jaman, atau tidak bisa diterapkan pada masyarakat modern yang plural. Padahal dari jaman Nabi SAW sampai detik ini pun Islam masih tetap sama, dan masih tetap sesuai untuk diterapkan seperti pada masa Rasulullah SAW. Hal ini karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia dengan potensi hidup (thaqatul hayawiyah) yang sama, yaitu berupa naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah). Dan dari dulu sampai sekarang pun, sesungguhnya problematika manusia itu sama, yaitu berkutat pada gharizah dan hajatul udhawiyah.

Misalnya, ketika manusia memiliki gharizah nau’, maka manusia jahiliyah dulu melampiaskannya dengan zina, dan hal itu ternyata juga dilakukan oleh manusia modern. Bedanya mungkin hanya sarana yang digunakan saat ini yang lebih canggih, ada internet, ponsel, maupun video-video porno. Tapi sejatinya semua itu dilakukan dalam rangka memenuhi gharizah nau’ manusia. Sama juga ketika manusia ingin memenuhi hajatul udhawiyah-nya, seperti makan dan minum. Manusia jaman jahiliyah dulu memenuhinya dengan makan dan minum dari yang diharamkan. Minum khamr misalnya. Maka hal itu ternyata juga dilakukan oleh manusia jaman modern. Mungkin yang berbeda hanya jenisnya yang sekarang lebih bervariasi, seperti whisky, narkoba, dan lain-lain.

Maka sampai kapanpun problematika hidup manusia pasti selalu berkutat pada dua hal itu, yakni gharizah dan hajatul udhawiyah. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan solusi yang benar atas pemenuhan potensi hidup (thaqatul hayawiyah) manusia tersebut dalam syariat Islam. Sehingga jika kita mau berpikir lebih jernih, hal ini sudah cukup membuktikan bahwa sesungguhnya Islam akan tetap sesuai untuk diterapkan pada setiap waktu dan tempat. Karena aturan ini dibuat oleh Pencipta manusia Yang Maha Tahu, Allah SWT.

Namun, dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, manusia lebih suka diatur dengan aturan yang diciptakan oleh manusia sendiri. Padahal manusia itu serba lemah dan terbatas, sehingga tidak mungkin mampu menciptakan aturan yang sempurna. Karena kesombongan manusia ini maka lahirlah sistem demokrasi sebagai jalan tengah atas pertikaian panjang kaum gerejawan dengan kaum cendekiawan. Demokrasi menjadikan sekulerisme sebagai akidahnya. Dalam demokrasi, kedaulatan dan kekuasaan diletakkan di tangan rakyat (manusia). Itu artinya, rakyat (manusia) diberi kebebasan untuk membuat aturan hidupnya sendiri.

Maka, dari sistem demokrasi inilah lahir empat macam kebebasan, yaitu kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan berkepemilikan. Dengan adanya kebebasan berakidah jelas menjadikan umat Islam tak lagi harus mengambil akidah Islam sebagai satu-satunya akidah mereka. Kebebasan ini akhirnya memberikan peluang bagi munculnya aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam, misal Ahmadiyah. Mengaku Islam, tapi akidahnya melenceng dari Islam, karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Parahnya, hal itu menjadi sah-sah saja atas nama demokrasi yang menjamin kebebasan berakidah. Tidak peduli bahwa ini jelas bertentangan dengan firman Allah SWT.

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS. Al-Ahzab: 40)

Begitu juga dengan tiga kebebasan yang lain. Atas nama kebebasan berpendapat, sah-sah saja jika dikatakan bahwa minuman keras itu halal karena penjualannya bisa menguntungkan negara. Padahal jelas sekali firman Allah SWT tentang larangan minuman keras.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”  (TQS. Al-Maidah: 90)

Demikian juga atas nama kebebasan bertingkah laku, menjadi wajar ketika ada muslimah yang berpakaian serba minim hingga memperlihatkan sebagian besar auratnya. Sedangkan Allah telah mewajibkan muslimah untuk menutup auratnya, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, …” (TQS. An-Nur: 31)

Terakhir, atas nama kebebasan berkepemilikan, maka boleh-boleh saja sumber daya alam (SDA) negeri ini dimiliki oleh pihak swasta. Akibatnya, bisa kita lihat sendiri bagaimana perusahaan-perusahaan asing secara perlahan tapi pasti berupaya untuk menguasai SDA negeri ini. Salah satu contohnya adalah gunung emas di Papua yang diserahkan kepada PT Freeport milik Amerika. Hal ini juga bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW :

“Kaum muslim berserikat dalam tiga hal : padang rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Demikianlah, demokrasi telah menjauhkan umat Islam dari ajaran Allah yang sesungguhnya. Sistem ini telah menjadikan berkurangnya keimanan umat Islam, dengan mencampakkan aturan Allah dan lebih beriman pada aturan buatan manusia. Inilah sesungguhnya yang menyebabkan setan mudah menggoda manusia jaman sekarang. Bukan semata-mata karena niat dari setan untuk menggoda manusia, tapi juga karena ada kesempatan yang terbuka lebar dalam sistem demokrasi, yang memberikan peluang bagi setan untuk menggoda manusia. Waspadalah… Waspadalah…!!!

Nah, itulah pembahasan dari rukun iman yang pertama, iman kepada Allah. Maka, terbukti bahwa masyarakat dalam sistem demokrasi saat ini sesungguhnya tidak lagi bisa sepenuhnya menjadikan Allah sebagai satu-satunya pengatur hidup mereka. Berikutnya mari kita lihat bagaimana kondisi umat Islam dari segi rukun iman selanjutnya.

Iman kepada Malaikat. Saya yakin setiap muslim yang ditanya tentang malaikat, kebanyakan dari mereka akan menyatakan percaya. Buktinya, sering kita lihat di film atau sinetron-sinetron televisi yang menampilkan wujud wanita cantik berpakaian gaun putih dan bersayap serta membawa tongkat berbentuk bintang. Atau ketika adegan seorang protagonis yang sedang galau, kemudian muncul dua sosok yang berpakaian putih dan merah yang berusaha mempengaruhi pendirian sang tokoh. Mereka menyebutnya sebagai malaikat. Namun, benarkah umat muslim saat ini benar-benar telah meyakini keberadaan malaikat?

Sebagaimana yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dasar dulu, ada 10 malaikat yang wajib kita ketahui nama-namanya. Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Raqib, Atid, Munkar, Nakir, Malik, dan Ridwan. Jika kita benar-benar beriman terhadap malaikat, maka kita pun pasti tak akan meragukan lagi bahwa di samping kanan dan kiri dari setiap insan manusia selalu didampingi oleh dua malaikat, Raqib dan Atid. Malaikat Raqib bertugas mencatat amal kebaikan, sedangkan malaikat Atid bertugas mencatat amal buruk yang dilakukan oleh manusia. Sehingga ketika manusia berada di suatu tempat tak berpenghuni sekalipun, sejatinya dia sedang bertiga, yaitu bersama malaikat Raqib dan Atid, yang senantiasa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Namun, nyatanya masih banyak umat Islam yang tak menyadari bahwa dirinya diikuti oleh malaikat. Hingga mereka tak takut lagi melakukan maksiat. Sepasang muda-mudi yang berpacaran misalnya, ketika pada suatu malam yang gelap mereka berduaan di dalam mobil yang dikunci rapat dan dimatikan semua lampunya. Mereka pikir mereka telah aman dan bebas melakukan maksiat tanpa diketahui orang lain. Padahal tanpa mereka sadari, saat itu mereka sedang disaksikan oleh empat malaikat. Bayangkan! Jika orang waras pasti malu setengah mati. Mereka juga lupa, bahwa saat mereka melakukan maksiat itu, bisa saja malaikat Izrail tiba-tiba datang menghampiri dan mencabut nyawa mereka. Na’udzubillah.

Contoh lain misalnya, seorang pejabat yang sedang sendirian di ruang kerjanya kemudian menelepon rekannya untuk merencanakan praktik korupsi. Dia pikir tidak akan ada orang yang mendengar percapakapannya. Padahal tanpa disadari, dua malaikat sedang memperhatikannya dan mencatat gerak-geriknya. Bahkan, tak bisa dipungkiri pula seorang aktivis Islam kadang lupa bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh malaikat. Ketika di hadapan banyak orang senantiasa menyerukan kebenaran beserta dalil dari Hadits dan Qur’an. Seakan-akan sangat dekat dengan surga ‘Adn. Namun, saat sendiri tak ada orang di sekitarnya, ternyata dia masih sering menonton film yang  berisi adegan porno, seperti drama Korea atau semisalnya. Masyaallah. Semoga kita terhindar dari hal-hal semacam itu.

Dari beberapa contoh tersebut, menunjukkan bahwa ternyata kaum muslimin saat ini masih banyak yang tidak benar-benar meyakini keberadaan malaikat. Bahkan mereka tak takut lagi melakukan kemaksiatan. Tidak lagi mengingat bahwa ada malaikat-malaikat yang senantiasa mengawasi perbuatan mereka.

Iman kepada Rasul Allah dan Kitab-kitab-Nya. Sebagai seorang muslim tentunya kita meyakini bahwa Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang diutus Allah dengan membawa risalah bagi umat manusia. Jika kita telah meyakini Muhammad SAW sebagai Rasulullah, maka harusnya kita pun meyakini bahwa apa-apa yang dibawa oleh Muhammad SAW berasal dari Allah yang pasti kebenarannya. Padahal Muhammad SAW sebagai seorang Rasul diutus Allah dengan membawa risalah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka kitapun menjadi yakin bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah berasal dari Allah, sehingga apa-apa yang terkandung di dalamnya merupakan kebenaran yang mutlak.

Apakah kaum muslimin saat ini telah benar-benar mengimani Rasulullah dan Kitabullah? Mari kita menengok pada sebuah jamaah yang menamakan diri mereka sebagai Ahmadiyah. Akibat diterapkannya demokrasi yang menjamin kebebasan berakidah (berkeyakinan) bagi rakyatnya, sebagian kaum muslimin akhirnya dibingungkan dengan munculnya berbagai macam aliran sesat yang mengatasnamakan Islam. Salah satunya adalah Ahmadiyah. Aliran ini pertama kali muncul di Pakistan, kemudian menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Walaupun mengatasnamakan Islam, namun sejatinya Ahmadiyah tidak mengakui Muhammad SAW, tetapi justru mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhirnya. Pun dalam hal kitab suci, sesungguhnya kitab yang dipakai Ahmadiyah berbeda dari Al-Qur’an. Dan perlu kita ketahui, di negara asalnya, Pakistan, Ahmadiyah ini telah dinyatakan sesat dan terlarang. Betapa anehnya jika negara kita ini justru seakan masih sangat berat untuk sekedar menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Hanya karena alasan jaminan kebebasan berkeyakinan.

Selain itu, ternyata umat Islam saat ini juga belum mampu untuk melaksanakan seluruh perintah Allah, utamanya perintah yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia (habluminannas). Salah satu contohnya dalam hal muamalah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan riba. Namun, umat muslim saat ini justru terjebak oleh riba. Contoh lainnya misalnya terkait hudud. Sesunguhnya Allah memerintahkan untuk menghukum dera atau rajam bagi orang yang berbuat zina. Sebagaimana firman-Nya :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nur: 2)

Akan tetapi umat Islam saat ini ternyata juga belum mampu melaksanakan perintah tersebut. Bahkan realitanya, para pelaku zina justru dilegalkan dalam suatu wadah yang dinamakan lokalisasi. Bukankah ini sama saja memelihara kemaksiatan?

Pun ketika Rasulullah SAW dulu telah mencontohkan dakwah dan menerapkan syariat Islam dalam bentuk Negara (daulah), umat muslim hari ini justru merasa sangat asing dengan istilah Negara Islam. Ketika ada kelompok yang menyerukan penerapan sistem pemerintahan Islam (khilafah), sebagian umat Islam malah menganggapnya sebagai ancaman. Hal ini semakin menunjukkan bahwa umat saat ini sangat terjauhkan dari berpegang pada Kitabullah serta tidak lagi menjadikan Muhammad SAW sebagai satu-satunya teladan hidupnya. Padahal Allah SWT berfirman :

Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (TQS An-Nisa’: 65)

Iman kepada hari kiamat. Sungguh dunia ini hanya sementara dan akhirat itu kekal adanya. Hari kiamat itu pasti datangnya, karena Allah telah mengabarkan dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya hari kiamat benar-benar akan datang tidak ada keraguan di dalamnya.” (TQS. Ghafir: 59)

Ketika hari kiamat nanti, seluruh manusia akan dikumpulkan dan dimintai pertanggungjawaban atas amalannya selama hidup di dunia. Pada saat itu manusia ketakutan dan disibukkan dengan urusan hisab masing-masing. Sampai-sampai seorang ibu lupa dengan anaknya, suami lupa dengan istrinya, dan seterusnya. Manusia benar-benar sendiri mempertanggungjawabkan amalannya. Demi menerima keputusan dari Allah tentang tempat baginya, surga atau neraka.

Dengan gambaran kiamat dan akhirat yang mengerikan tersebut, manusia saat ini ternyata masih banyak yang bersantai-santai dari melaksanakan kewajiban. Manusia kadang masih terbuai dengan dunia dan segala kenikmatannya. Seakan-akan mereka masih hidup lama di dunia ini. Sehingga kadang masih sering menunda-nunda untuk menjalankan syariat Allah. Berkerudung dan berjilbab nunggu kalau sudah menikah, setelah menikah belum juga melaksanakan karena nunggu punya anak, setelah punya anak nunggu dapat kerja, setelah dapat kerja nunggu tua. PeDe sekali. Padahal belum tentu usianya sampai pada masa tua. Bisa saja saat itu juga Allah mencabut nyawa kita. Dan kita pun belum sempat melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah.

Rupanya iman kepada hari akhir ini belum benar-benar diimplementasikan dalam perbuatan kaum muslimin. Mereka percaya bahwa hari kiamat itu pasti datang, tapi masih merasa tenang dengan kemaksiatan yang dilakukan. Mereka percaya bahwa dunia ini hanya sementara dan akhirat itu kekal adanya, tapi justru masih terbuai dengan segala kenikmatan duniawi dan tak bersegera menyiapkan bekal menghadapi hari penghisaban. Mereka percaya dengan adanya surga dan neraka, tapi masih tenang dengan dosa yang bergelimang.

Iman kepada Takdir Allah. Sebagai seorang muslim yang beriman pada takdir Allah, kita meyakini bahwa takdir yang menimpa kita, baik buruknya adalah dari Allah. Rukun iman keenam ini senantiasa akan diikuti dengan sikap tawakkal, yaitu menyerahkan segala hasil usahanya kepada Allah. Dalam menjalani perbuatan, ada wilayah yang dikuasai oleh manusia dan ada wilayah yang menguasai manusia. Wilayah yang dikuasai manusia artinya manusia masih bisa berupaya di dalamnya. Misalnya, ketika manusia ingin sukses ujian maka ia masih bisa mengupayakannya dengan belajar. Sedangkan wilayah yang menguasai manusia adalah wilayah kekuasaan Allah yang manusia tidak bisa ikut campur di dalamnya. Misalnya, ketika manusia sudah berupaya maksimal tapi ternyata ia gagal. Maka kegagalan ini termasuk wilayah yang menguasai manusia.

Karena Allah itu Maha Adil, maka Dia hanya akan menghisab perbuatan manusia yang berada pada wilayah yang dikuasainya saja. Sedangkan wilayah yang menguasai manusia tidak akan dihisab. Misalnya, seorang yang menempuh ujian dengan belajar maksimal dan jujur, namun ternyata ia dinyatakan tidak lulus. Pada kasus tersebut, maka Allah hanya akan menghisab hal-hal yang dikuasai manusia, yaitu belajar maksimal dan jujur dalam mengerjakan. Untuk hasilnya yang tidak lulus, karena itu termasuk wilayah yang tidak dikuasai oleh manusia, maka Allah tidak akan menghisabnya.

Faktanya, umat saat ini banyak yang masih salah dalam mengartikan takdir Allah. Sesuatu yang sebenarnya masih bisa diupayakan, tapi terburu-buru dilabeli sebagai takdir. Akhirnya melahirkan sikap fatalis, putus asa, dan pasrah. Misal, seorang pekerja seks komersial (PSK) yang beranggapan bahwa Allah telah menakdirkannya menjadi PSK, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini kesalahan yang fatal. Padahal sebenarnya dia masih bisa berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik daripada menjadi PSK. Sama juga dengan pengemis. Saya sangat menyayangkan orang-orang yang masih diberikan kesehatan jasmani tapi memilih untuk menjadi pengemis. Padahal jika mereka mau berupaya, mereka bisa memilih pekerjaan yang lebih baik daripada sekedar meminta-minta, misal menjadi pedagang asongan.

Contoh lain dari keimanan pada takdir Allah yang masih kurang adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam usahanya kemudian dia justru menghujat Allah, marah, ataupun berputus asa. Inilah sikap orang yang kurang tawakkal dan kurang sabar. Padahal sebenarnya dia masih bisa berusaha lebih baik lagi.

malapetakaBegitulah gambaran kaum muslimin saat ini yang ternyata masih belum bisa menyempurnakan keimanannya. Hal ini tentu bukanlah semata-mata karena kaum muslimin yang tak mau menyempurnakannya, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi yang akhirnya memaksa kaum muslimin untuk tidak menyempurnakan imannya. Ketika Allah mengharamkan riba, kaum muslimin ternyata justru tak mampu menghindari riba. Dalam sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan saat ini, riba menjadi hal pokok yang wajib ada di dalamnya. Karena kapitalisme berorientasi pada materi, sehingga riba itulah yang menjanjikan keuntungan materi dalam sistem kapitalisme. Maka kita dapati hari ini tidak ada bank yang tidak ada ribanya. Kaum muslimin pun mau tak mau akhirnya juga terjerumus pada praktik riba, karena mereka juga butuh bertransaksi melalui bank.

Ketika kaum muslimin ingin taat pada Allah, tidak bermaksiat, tapi ternyata tuntutan ekonomi yang sulit memaksa mereka untuk melakukan kemaksiatan. Hingga seorang nenek yang mencuri kakao untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, justru harus berhadapan dengan pisau hukum yang tajam ke bawah, dan berakhir dengan denda yang tak terjangkau. Begitu juga misalnya seorang laki-laki yang ingin menjaga pandangannya dari melihat maksiat, akhirnya tak bisa menghindar dari aurat yang bertebaran di hadapannya. Bayangkan saja, banyak perempuan yang memakai pakaian serba minim yang menampakkan auratnya, bebas berseliweran di jalan-jalan dan tempat umum.

Inilah dampak yang ditimbulkan akibat dicampakkannya aturan Allah dari kehidupan, dan diterapkannya aturan buatan manusia yang serba lemah, demokrasi. Inilah bukti bahwa kemaksiatan satu sesungguhnya dapat mengantarkan pada kemaksiatan yang lain. Dan kemaksiatan terbesar yang dilakukan oleh kaum muslimin hari ini adalah berhukum pada selain hukum Allah. Kemaksiatan terbesar inilah yang akhirnya melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika kaum muslimin menerapkan aturan Allah dalam kehidupannya. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (TQS. Al-A’raf: 96)

Semoga sekelumit fakta-fakta ini mampu menyadarkan dan membuka mata kita. Hingga mendorong kita untuk bersegera melaksanakan syariat-Nya dan menerapkan Islam secara sempurna di muka bumi ini, dalam naungan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Wallahua’lam bish showab.

RIZKI AMELIA KURNIADEWI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s