Cita Cinta Ramadhan


shining_in_the_dark_by_crowmaru-d407ecqJalanan ini kembali mengingatkanku. Tentang sebuah pertemuan yang tak disengaja dengan seorang sahabat masa kecilku. Alvin. Dia adalah orang yang pertama kali kukenal saat aku menjalani masa orientasi siswa (MOS) di SMP Negeri 1 Metro. Ketika itu, aku sedang dijemur di bawah terik matahari oleh kakak senior, akibat kelalaianku melengkapi atribut yang ditugaskan. Namun, aku tak sendiri. Ada tiga orang lainnya yang juga mendapat hukuman yang sama denganku. Salah satu dari ketiganya adalah Alvin. Dia berdiri di sampingku. Sambil terus mengangkat tangan kanannya ke pelipis dengan posisi hormat pada bendera.

Satu jam telah berlalu. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhku. Raut wajahku pucat pasi. Rasanya sekujur tubuhku menggigil, dan penglihatanku berubah menjadi putih. Entah, apa yang terjadi setelah itu. Aku pun jatuh pingsan.

Beberapa saat kemudian, aku mulai tersadar. Samar kudengar suara orang yang sedang bercakap. Kupaksa untuk membuka kedua mataku. Dan aku pun melihat seorang laki-laki yang telah berdiri di dekatku sambil meletakkan ponsel di telinga kanannya.

“Ma…ma…af,” ujarku lirih. Laki-laki itu pun kaget dan langsung menoleh kepadaku. Ia segera mengakhiri teleponnya dan mendekatiku.

“Ah, syukurlah kamu sudah sadar,” ucapnya sambil tersenyum.

“Apa yang terjadi?,” tanyaku sambil berusaha bangkit dari tidur. Ia pun mulai menceritakan peristiwa saat aku jatuh pingsan.

“…..Dan aku sangat berterimakasih kepadamu. Karena kamu pingsan, akhirnya kakak senior membebaskanku dari hukuman, dan menugaskanku untuk menjagamu. Sedangkan kau tau? Dua orang teman kita masih harus menjalani hukuman selanjutnya,” ungkapnya sambil tertawa.

“Kenapa kakak senior mempercayakan kepadamu?” tanyaku penasaran.

“Oh itu? Haha, aku telah membohongi mereka. Saat kamu pingsan, aku berpura-pura terlihat bingung. Lalu aku mengaku sebagai kakakmu, dan aku katakan kepada mereka bahwa aku bertanggung jawab untuk menjagamu. Tak kusangka, rencanaku berhasil. Mereka membebaskanku dari hukuman dan mempercayakanku untuk menemanimu di ruang UKS ini,” tawanya semakin mengembang. Aku hanya mengernyitkan dahi sambil melihatnya tertawa.

Karena merasa kondisiku sudah membaik, aku pun segera turun dari tempat tidur, dan bersiap untuk kembali mengikuti MOS. Namun, laki-laki itu kembali mencegahku.

“Eh, kamu mau ke mana?” tanyanya.

“Aku sudah pulih, jadi aku mau kembali ke lapangan,” jawabku sedikit ketus sambil mengenakan sepatu.

“Kita belum kenalan, namaku Alvin,” ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

“Rista,” balasku sambil memaksakan senyum.

Itulah awal perkenalanku dengan Alvin. Dan sejak kejadian itu, seluruh anak di sekolahku mengira bahwa Alvin adalah kakakku. Kondisi inilah yang akhirnya mengantarkan kami menjadi sahabat.

*****

Waktu berjalan sangat cepat. Hingga saat kelulusan pun tiba. Ketika itu Alvin berhasil meraih nilai tertinggi di sekolah. Kami pun berpisah. Alvin melanjutkan ke SMA Negeri favorit di Jakarta. Sedangkan aku, atas permintaan kedua orang tuaku, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ke sebuah sekolah berbasis agama di daerah Bogor.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Alvin. Bahkan sekedar mencari kabarnya saja sudah tidak terpikir olehku. Apalagi setelah ponselku hilang, aku tak lagi menyimpan nomor kontaknya. Lagipula sekolahku yang baru ini tidak mengijinkan siswanya membawa alat komunikasi di asrama. Sehingga aku benar-benar tidak pernah berhubungan lagi dengan teman-temanku SMP.

Sekolah Islam tempatku belajar telah mengubah hidupku. Aku yang dulunya tak terlalu tertarik dengan Islam, kini telah menjadi sosok yang hidup membaur bersama Islam. Dan sejak diterima di sekolah ini, aku mulai memakai kerudung. Awalnya, aku tak yakin dengan kerudungku. Aku meniatkannya hanya sebagai formalitas belaka, karena memang di sekolah tersebut mewajibkan semua siswi perempuan untuk mengenakan kerudung. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai paham dan berusaha meluruskan niatku.

Selama tiga tahun aku menuntut ilmu di sekolah ini. Banyak hal yang kudapatkan, terutama tentang agama. Hingga aku pun tumbuh menjadi sosok muslimah yang taat. Apalagi ketika tiba pengumuman kelulusan, aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik. Ayah dan ibuku sangat bangga denganku. Kemudian aku melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Jakarta dan mengambil jurusan Kedokteran.

Di sinilah kisahku berawal. Saat itu liburan semester genap tingkat kedua. Tak seperti biasanya, liburan kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Aku yang tercatat sebagai anggota organisasi kerohanian Islam (rohis) kampus, akhirnya harus rela tak menikmati liburan karena harus mengikuti agenda Ramadhan. Salah satu agenda dari rohis yang kuikuti ini adalah pesantren kilat yang diadakan di daerah lokalisasi dekat kampus. Awalnya sedikit ngeri. Tapi setelah memahami tujuan mulia dari program tersebut, aku pun bersemangat mengikutinya.

Malam itu, setelah shalat tarawih sekitar pukul 20.00 WIB, aku dan teman-teman rohis mulai berangkat ke tempat penginapan di dekat lokalisasi. Aku berangkat bersama Nay, Silvi, dan Azizah, dengan menaiki mobil milik Nay. Ketika melewati perempatan di daerah sekitar lokalisasi tersebut, kami dikejutkan pemandangan yang cukup mengerikan. Perempatan tersebut dipenuhi oleh banci. Bahkan beberapa dari mereka mendatangi mobil-mobil yang berhenti saat lampu merah, untuk menawarkan dirinya kepada lelaki hidung belang.

“Astaghfirullahal’adzim, ini benar-benar kemaksiatan yang nyata di depan mata!” ujar Silvi bernada emosi.

“Padahal kan ini bulan Ramadhan, kok mereka berani keluar sih? Gak takut apa ketangkap sama satpol PP?”, ungkap Nay.

“Harusnya takutnya bukan sama satpol PP tapi sama Allah. Memang realita sekarang banyak orang yang justru takut sama makhluk daripada sama Khaliq. Agama bahkan sudah dijauhkan dari kehidupan. Beginilah kalau aturan Allah tidak diterapkan. Jadinya rusak!” tuturku sambil terus mengamati sekitar.

“Kasian juga sih sebenarnya. Bisa jadi mereka terpaksa melakukan itu karena tuntutan ekonomi yang semakin sulit. Menurutku seharusnya negara punya kewajiban untuk mengurusi mereka,” timpal Azizah.

Saat sibuk mengamati sekitar, mataku tertuju pada seorang banci yang sedang berdiri di trotoar di samping mobil yang kutumpangi. Aku berusaha mengamati sosok di balik kaca tersebut. Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Aku mencoba mengingat-ingatnya. Hingga akhirnya aku semakin kaget ketika telah mengingatnya.

“Alvin?”, teriakku sambil membuka kaca mobil. Sosok itu pun kaget dan terdiam menatapku, kemudian segera memalingkan wajahnya dan menjauh dari mobil. Lampu hijau telah menyala, dan Nay pun melajukan mobilnya.

*****

“Kring… Kring… Kring…”, ponselku berbunyi. Rupanya sebuah pesan singkat dari Azizah.

“Assalamu’alaikum. Ris, sore ini kita kumpul di aula jam 16.00. Ada agenda penutupan yang akan di-handle langsung oleh tim ikhwan,” isi pesan singkat dari Azizah. Aku pun segera beranjak dari musholla setelah berpamitan dengan adik-adik pengajian.

Sesampainya di penginapan, Nay menghampiriku.

“Ris, kamu masih ingat kejadian sepuluh hari yang lalu?” tanya Nay.

“Kejadian apa? Aku sudah lupa,” jawabku singkat sambil membereskan mukena.

“Saat kita ketemu banci di perempatan,” sambung Nay dengan sedikit berbisik. Aku terdiam sejenak.

“Oh, itu. Iya aku ingat. Memangnya kenapa?” aku pun melanjutkan pertanyaan.

“Mmm… Ga apa-apa sih, aku sebenarnya penasaran aja, siapa laki-laki banci itu? Bukankah dulu kamu memanggilnya ya? Kamu mengenalnya, Ris?” wajah Nay semakin penasaran.

“Mungkin dia sedang main teater,” jawabku asal sambil berlalu meninggalkan Nay.

“Subuh tadi aku melihatnya sedang tadarus di musholla,” Nay mulai berteriak. Langkahku pun terhenti.

“Jangan bilang dia pake mukena, dan tadarus bersama ibu-ibu,” aku berbalik ke arah Nay.

“Rista… Rista… Kamu ini kenapa sih? Sejak kapan laki-laki pake mukena? Di mana-mana tuh namanya laki-laki ya pake sarung,” jawab Nay sambil tertawa dan menepuk pundakku.

*****

“Jadi kamu hanya pura-pura jadi banci untuk melakukan penelitian tentang penyimpangan sosial?” tanya Nay kepada Alvin.

“Iya lah, apa kalian pikir aku benar-benar banci? Na’udzubillah. Aku ini laki-laki normal. Aku masih punya rasa suka pada perempuan,” jawabnya sambil tersenyum dan melirikku. Tingkah laku Alvin ternyata tak banyak berubah dari pertama kali aku mengenalnya dulu. Ia masih suka bergurau. Aku hanya bisa menyembunyikan senyum sambil menjaga pandangan dari Alvin.

Aku tak habis pikir, ternyata Alvin satu kampus denganku. Namun, kami berbeda fakultas. Alvin mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi. Sedangkan aku di Fakultas Kedokteran. Sudah dua tahun kami kuliah di kampus yang sama, tapi baru kali ini kami bertemu dan menyadarinya. Sungguh kebetulan yang tak terduga.

Acara di aula pun dimulai. Ini adalah acara penutupan pesantren kilat. Banyak para perempuan dan laki-laki tuna susila yang hadir di acara ini. Sekitar seratus orang. Mereka sudah mengikuti program pembinaan selama sepuluh hari berturut-turut di bulan Ramadhan. Tampak para perempuan yang hadir di aula semuanya menutup aurat. Aku ikut senang dan terharu melihatnya. Apalagi setelah mendengar pernyataan beberapa orang dari mereka.

“Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan adik-adik mahasiswa di sini. Setelah mengikuti pesantren kilat ini, saya akhirnya menyadari bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah dosa besar. Namun, seperti yang disampaikan oleh nak Rista, Allah itu Maha Pengampun. Maka mulai hari ini saya memutuskan untuk berhenti dari dunia malam, dan saya ingin melakukan taubatan nasuha agar dosa-dosa saya diampuni oleh Allah,” ungkap salah seorang perempuan paruh baya dari deretan tempat duduknya. Acara ini pun diakhiri dengan bersalam-salaman, buka puasa dan shalat tarawih bersama.

Hari ini adalah hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Setelah acara selesai, kami segera kembali ke penginapan untuk berkemas. Malam ini juga kami akan pulang ke rumah.

“Kring… Kring… Kring…”, ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.

“Assalamu’alaikum. Rista, insyaallah 1 Syawal nanti aku akan datang ke rumahmu untuk menemui orang tuamu dan melamarmu. Wassalam. -Alvin-”.

*****

 

*Maaf, ini cerpen terkonyol yang pernah saya tulis*

One thought on “Cita Cinta Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s