Sikap Bijaksana


Senin, 19 Agustus 2013 at 22:17

Semoga kebijaksanaan masih bisa dipertahankan oleh mereka yang bijaksana.

Dulu, saya selalu mengidentikkan sikap bijaksana dengan kedudukan yang disandang oleh seseorang. Semakin tinggi posisinya, maka ia pun akan semakin bijaksana. Generalisasi ini saya dapatkan dari beberapa pengalaman selama berinteraksi dengan orang-orang yang dulu sempat menjadi atasan saya saat magang maupun bekerja.

Seperti pemimpin redaksi sebuah media cetak tempat saya magang dulu. Beliau saya anggap bijaksana karena mampu memahami prinsip saya tanpa harus saya sampaikan sedikitpun. Hingga dipilihkannya beberapa wartawan wanita untuk partner magang saya, tanpa saya memintanya. Sekali lagi ini adalah kebijakan yang sangat tepat untuk seorang muslimah yang ingin menjaga iffahnya.

Kemudian seorang kepala bagian Humas Rektorat tempat saya magang dulu yang juga saya anggap bijaksana. Pasalnya, beliau mampu memberikan solusi cepat atas masalah dalam peliputan berita yang saya lakukan, saat saya ditugaskan untuk meliput sebuah workshop di kampus. Karena saya tidak dibekali kartu pers, akhirnya panitia workshop tersebut tidak menerima. Setelah saya sampaikan kepada pimpinan tempat saya magang, beliau langsung menuliskan memo untuk diberikan kepada panitia workshop. Setelah membaca memo tersebut, pihak panitia langsung mempersilakan saya dengan sangat sopan sekaligus meminta maaf kepada saya.

Terakhir, seorang dekan fakultas tempat saya sempat bekerja dulu. Saat itu, beliau sendiri yang menginterview saya dalam penerimaan kerja. Seperti ingin memastikan kualitas orang-orang yang bekerja di instansinya. Dari awal saya sampaikan bahwa saya masih berstatus mahasiswa dan berasal dari fakultas lain (di luar fakultas yang beliau pimpin), agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Awalnya saya menebak beliau akan kecewa dengan pengakuan saya, namun saya sudah siap dengan apapun keputusan yang diberikan. Tapi ternyata yang terjadi justru kebalikannya, beliau terlihat sangat senang, karena memang selama ini yang beliau cari adalah orang dari jurusan Ilmu Komunikasi. Sehingga akhirnya saya pun diterima tanpa syarat di bagian humas untuk mengelola web fakultas yang tergolong elit tersebut. Inilah yang saya katakan bijaksana dalam menempatkan orang sesuai dengan kemampuannya.

Namun, generalisasi saya tersebut kini telah berubah. Ketika suatu hari saya pernah menemui seorang sekretaris jurusan (sekjur) salah satu fakultas eksak, untuk menawarkan wawancara. Tanpa mempersilakan duduk, beliau langsung menolak tawaran saya. Bahkan hal itu juga pernah saya temukan di fakultas saya sendiri. Ketika saya datang kepada seorang pimpinan salah satu prodi untuk menawarkan diskusi. Saat itu saya benar-benar tidak melihat sosok pemimpin yang bijaksana pada beliau. Ketika saya datang, beliau tetap asyik bersosial media dengan tabletnya. Dan ketika mendengar tawaran saya, beliau menolaknya dengan alasan tidak ada waktu karena mau liburan. Saat saya tawarkan setelah liburan, beliau tetap mengatakan sibuk dan tidak ada waktu. Bagi saya, itu adalah penolakan yang kurang elegan sebagai seorang pimpinan.

Inilah yang menjadikan saya berpikir ulang, bahwa ternyata tak selamanya orang dengan kedudukan tinggi itu mampu bersikap bijaksana. Sebaliknya, kadang seorang yang tak menempati posisi tinggi pun bisa bijaksana. Seperti pengalaman yang pernah saya temukan pada salah satu dosen yang sekarang menjadi ketua jurusan. Suatu hari saya pernah meminta izin untuk kemungkinan terlambat hadir dalam perkuliahan beliau karena saya masih mengikuti konferensi mahasiswa di Jakarta. Setelah mendengar penjelasan saya terkait acara yang saya ikuti, beliau justru mengizinkan saya untuk absen dari perkuliahan karena memperhitungkan perjalanan yang pasti melelahkan dan jeda waktu yang sangat mepet. Yang perlu dicatat adalah saya melakukan pelobian ini tanpa menyembunyikan bahwa kegiatan yang saya ikuti adalah dari organisasi ekstra kampus (omek). Hal ini menurut saya adalah bentuk kebijaksanaan dalam mengambil sisi positif dari suatu aktivitas.

Pengalaman lain yang pernah saya temukan yaitu pada salah satu dosen saya yang sekarang menjadi sekjur. Dulu saya pernah mendapat cerita, bahwa ada teman saya yang datang kepada beliau untuk menawarkan diskusi, beliau menyambutnya dengan baik. Saat itu ada dua orang yang datang sedangkan kursinya hanya satu. Beliau kemudian meminjamkan satu kursi lagi dari salah satu rekan dosen di ruangan tersebut. Awalnya rekan dosen tersebut nampak keberatan untuk meminjamkan kursinya. Namun kemudian dosen saya tadi menjelaskan dengan bijaksana bahwa beliau butuh meminjam sebentar untuk duduk tamunya, karena pada saat itu rekan dosen tersebut sedang tidak ada tamu.

Masih dengan dosen yang sama. Suatu saat pernah saya merasa sangat bersalah kepada beliau. Lalu saya mengirimkan sms untuk meminta maaf. Saya pikir beliau tidak akan membalas sms saya, atau jikapun membalas pasti membenarkan kesalahan saya dan memarahi saya. Tapi ternyata tidak demikian. Beliau justru membalasnya dengan cepat dan dengan balasan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya. Beliau membalas dengan kalimat motivasi, seakan bisa membaca pikiran saya yang sedang kacau saat itu.

Itulah gambaran sikap bijaksana dari beberapa orang dosen sebelum mereka menempati posisi tinggi sebagai pimpinan.

Dari pengalaman-pengalaman ini saya menyimpulkan bahwa sikap bijaksana sejatinya bisa dilakukan oleh semua orang. Tinggal seberapa kuat kesadaran dan kemauannya untuk mengupayakan terbentuknya sikap ini dalam dirinya.

[Zakiya El Karima]

Shared with Memoires for Android
http://market.android.com/details?id=net.nakvic.dromoris
http://sites.google.com/site/drodiary/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s