Catatan Kecil Tentang Aksi Nyata


mahasiswa-tolak-cagub-dari.xaPerjuangan dakwah Hizbut Tahrir (HT) adalah melalui pemikiran (fikriyah). Jadi, jika anda bertanya apa saja yang sudah dilakukan oleh HT untuk negeri ini? Jawabannya dapat anda lihat sendiri pada seberapa besar arus gelombang kaum Muslimin yang menginginkan diterapkannya sistem Islam. Saya masih ingat dulu ketika masih duduk di bangku SMA dan baru awal-awal mengenal HT. Saat itu masyarakat masih banyak yang tidak memahami apa itu Khilafah. Jangankan paham Khilafah, mendengar kata Khilafah saja belum pernah. Sehingga saat itu jika ada yang mengatakan Khilafah, masyarakat akan bertanya “Apa itu Khilafah?”. Namun, seiring perkembangan dakwah HT, maka sekarang jika kita menyampaikan Khilafah, jawabannya bukan lagi “Apa itu Khilafah?”, melainkan “Bagaimana cara menegakkan Khilafah?”.

Inilah bukti pengaruh dakwah pemikiran yang dilakukan HT, sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat telah merespon dakwah HT. Sehingga salah besar jika ada yang masih mengatakan bahwa HT hanya omong kosong atau ngomong doang tanpa aksi. Karena sejatinya, ngomong atau menyeru atau dakwah itu adalah aksi nyata, sebagaimana juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Begitulah HT akan terus-menerus mengedukasi masyarakat dengan pemikiran Islam. Aktivitas ini tidak hanya berlangsung di Indonesia, tapi juga di belahan bumi yang lain, karena HT adalah partai politik Internasional.

Mari coba kita bandingkan dengan ‘aksi nyata’ dari agen perubah lainnya. Pertama, partai Islam yang masuk ke dalam perlemen. Sejak kapan partai Islam tersebut berada di dalam parlemen? Apa yang sudah dihasilkan selama mereka ada di parlemen? Bisakah mewarnai parlemen dengan Islam? Bisakah mengganti sistem yang korup dengan sistem Islam? Atau malah justru partai Islam tersebut yang terwarnai oleh sistem korup? Faktanya, seks bebas masih saja merajalela, miras masih legal, korupsi semakin beranak-pinak. Bahkan dulu, untuk mengesahkan RUU APP (Anti Pornoaksi Pornografi) saja ternyata tidak sanggup, karena kalah oleh kepentingan pemilik modal. Sebaliknya, justru semakin banyak produk UU yang menyengsarakan rakyat, seperti UU PMA (Penanaman Modal Asing), UU PT (Perguruan Tinggi), dan lain sebagainya. 

Selanjutnya, mari kita lihat ‘aksi nyata’ yang dilakukan oleh ormas sosial atau lembaga kemanusiaan. Mereka memberikan solusi atas problematika bangsa ini dengan memberikan santunan untuk mengatasi kemiskinan, menyadarkan PSK untuk mencegah seks bebas, menjadi relawan pendidikan untuk mencerdaskan bangsa, dan lain sebagainya. Apakah semua upaya tersebut sudah benar-benar berhasil untuk menjadikan negeri ini lebih baik? Faktanya, dari tahun ke tahun angka kemiskinan semakin meningkat, seks bebas semakin marak, angka putus sekolah semakin parah, apalagi ditambah biaya pendidikan yang semakin melambung tinggi.

Kenapa parpol Islam atau ormas sosial yang sudah melakukan ‘aksi nyata’ selama berpuluh-puluh tahun itu belum juga berhasil mewujudkan perubahan pada bangsa ini? Satu hal, karena mereka salah dalam menempatkan ‘aksi nyata’nya. Tugas partai itu adalah mengedukasi masyarakat, menyalurkan aspirasi masyarakat kepada pemerintah, serta melakukan muhasabah (koreksi) terhadap penguasa. Sedangkan dalam urusan pendidikan, kemiskinan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain, itu merupakan tugas dari negara. Sehingga tidak akan mungkin parpol maupun ormas dalam negeri ini mampu mengatasi kemiskinan dan menyejahterakan bangsa, jika tidak didukung oleh negara. Masalahnya, apakah negara kita saat ini mendukung semua ‘aksi nyata’ tersebut? Ternyata tidak. Maka harus diwujudkan terlebih dahulu negara yang mendukung, yang akan bertanggung jawab mengayomi kebutuhan rakyatnya. Oleh karena itulah, HT menyerukan penegakan negara Khilafah.

Jika kita ingin melihat dalam lingkup yang lebih sempit, hal ini sebenarnya sama dengan keberadaan lembaga eksekutif mahasiswa (BEM) dan Birokrat. BEM ibarat parpol yang menjembatani antara mahasiswa dengan birokrat. Tugas BEM adalah menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada birokrat, serta melakukan koreksi atau memberikan masukan kepada pihak birokrat ketika ada kebijakan yang tidak sesuai dan merugikan mahasiswa. Misal, kita ambil contoh sebuah kasus, SPP Progresif. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan mahalnya SPP Progresif. Lalu, apa yang dilakukan oleh BEM? apakah mereka membantu dengan membiayai kenaikan biaya seluruh mahasiswa? Walaupun hal itu juga termasuk ‘aksi nyata’, tapi tidak akan mungkin bisa menyelesaikan masalah. Utopis. Sehingga apa langkah yang diambil oleh BEM? Yaitu dengan melakukan koreksi terhadap birokrat, misal dengan melakukan pelobian atau aksi turun ke jalan (demo). Itulah yang selama ini dilakukan oleh BEM, karena memang itulah tugasnya.

Apakah demo itu adalah tindakan yang sia-sia? Tidak, saya katakan tidak. Jika tidak ada demo maka Soeharto tidak akan lengser, jika tidak ada demo maka harga BBM akan tetap naik, jika tidak ada demo maka RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan) akan tetap disahkan. Demo merupakan salah satu bagian dari aktivitas muhasabah lil hukam (koreksi terhadap penguasa), maka tidak masalah jika dilakukan. Namun, harus tetap memperhatikan ketertiban dan tidak rusuh.

Lantas, ada yang berceletuk, “Ah, tidak perlu kita menyalahkan keadaan”, sambil mengutip sebuah kata mutiara dari seorang tokoh, “Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”.

Hal ini langsung mengingatkan saya pada kejadian yang pernah saya alami saat masih tinggal di kontrakan. Dulu, di kontrakan saya sering mati lampu. Ternyata, langkah pertama yang kami tempuh bukan menyalakan lilin, melainkan menyalakan ponsel dan menelepon petugas PLN. Dari situlah kami baru mengetahui bahwa akar permasalahan dari pemadaman listrik di kontrakan kami adalah karena kami terlambat membayar. Bayangkan, jika saat itu kami menerapkan kata mutiara di atas, walaupun menghabiskan berpuluh-puluh lilin, tetap tidak akan menjadikan listriknya menyala.

Begitu juga dengan problematika umat saat ini. Sebelum kita melakukan ‘aksi nyata’ untuk menolong umat, sebaiknya temukan dulu akar permasalahannya. Dari akar permasalahan itulah kita bisa menentukan solusi mendasar yang akan dilakukan untuk menyelesaikan. Jika ternyata akar permasalahan atas problematika bangsa ini terletak pada kesalahan sistem, maka tak perlu ragu lagi untuk mengganti sistemnya. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s