Pesan dari seorang Ibu, yang Kutemui di Samping Sakri


Aku ingin bercerita,
Tentang pertemuanku dengan seorang ibu, orang tua dari mahasiswa baru (maba) Universitas Brawijaya (UB),
Aku bertemu dengannya saat sambut maba hari Selasa (12/6) lalu.
Penampilannya sederhana, layaknya seorang ibu rumah tangga biasa.
Memakai kerudung, baju lengan panjang, dan celana.
Ia rela ijin tak masuk kerja, dan jauh-jauh datang dari Surabaya ke Malang,
Demi mengantarkan putri bungsunya daftar ulang di UB.

Kami pun bercengkrama.
Awalnya, kuajukan pertanyaan basa-basi kepadanya,
Tentang ungkapan hati, dan harapan dari pendidikan tinggi sang putri.
Ibu itu tak sedikitpun keberatan untuk menjawabnya,
Membuatku semakin bersemangat untuk menambah pertanyaan.
Hingga obrolan itupun berkembang menjadi diskusi hangat seputar problematika bangsa.

Menurutnya, kesalahan bangsa ini bersumber dari sistem dan orang-orangnya.
Para wakil rakyat lebih bangga menggunakan hukum buatan manusia,
Yang mengukur kebenaran dari suara mayoritas,
Padahal suara tersebut mudah saja direkayasa dengan uang.
Ibu itu mulai mengungkapkan kekecewaannya.
Indonesia ini dihuni oleh mayoritas umat Islam,
Tapi mereka tak lagi memegang teguh agamanya,
Islam KTP, begitu ia mengibaratkan.
Orang-orang sekarang hanya berpikir pragmatis,
Maunya enak tapi tak mau berusaha dengan benar.

Aku tercengang sejenak,
Mengagumi keluasan wawasan dari seorang ibu yang duduk di sampingku ini.
Aku menduga ia seorang dosen,
Segera kubuktikan dugaanku tersebut dengan menanyainya tentang pekerjaan,
Pegawai bagian pajak di sebuah dealer.
Ah, rupanya dugaanku salah!

Hampir satu jam kami berdiskusi panjang lebar,
Tentang pendidikan, lumpur Lapindo, korupsi partai politik, agenda setting media, hingga Lady Gaga.
Benar-benar, taraf berpikir ibu ini melebihi mahasiswa jaman sekarang,
Yang apatis, tak peduli dengan lingkungan,
Pragmatis, dan individualis.

Bahkan, jika aku boleh mengatakan, ibu ini jauh lebih pantas menjadi seorang dosen, ataupun pejabat pemerintahan.
Tentu saja jika dibandingkan dengan para dosen atau pejabat yang kerjaannya hanya mengejar sertifikasi, proyek, plesiran, atau apapun yang dapat menghasilkan uang baginya,
Tanpa sedikitpun merasa terusik dengan kerusakan sistem yang diterapkan di tengah-tengah mereka.

Ibu ini berbeda,
Walaupun tak ada BlackberryiPhone, atau tablet PC dalam genggamannya,
Tapi ia menyadari sepenuhnya kerusakan sistem di negeri ini,
Juga tak malu mengakui kesempurnaan sistem Islam.
Ia pun mengatakan,
Islam pasti mampu menyelesaikan permasalahan di negeri ini,
Tapi umat Islam sendiri yang tidak mau memperjuangkannya.

Ibu itu juga berpesan padaku,
Untuk tetap sabar dalam berjuang,
Kegagalan tak boleh menjadikan kita lemah dan putus asa.
Mataku menerawang ke langit,
Kata-kata itu seakan menusuk relung hatiku yang paling dalam.

Terakhir, kusodorkan brosur Islam padanya,
Kemudian dibacanya bagian artikel yang berjudul “Generasi Cemerlang dari Peradaban Gemilang”.
Ia pun mengangguk sepakat, dan berkata:

“Jika Kapitalisme yang sudah jelas rusaknya saja bisa diterima oleh masyarakat, maka Islam yang jelas-jelas kebenarannya harusnya lebih bisa diterima. Persoalannya hanya terletak pada kemasan dan promosinya. Kapitalisme, isinya rusak tapi dikemas dan dipromosikan secara apik lewat media massa. Sedangkan Islam, isinya bagus tapi dikemas dan dipromosikan dengan kekerasan. Sehingga malah menimbulkan ketakutan. Maka yang harus kita lakukan adalah tawarkan Islam dengan kemasan dakwah yang baik, agar dapat diterima oleh masyarakat.”

2 thoughts on “Pesan dari seorang Ibu, yang Kutemui di Samping Sakri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s