Revolusi Pendidikan Indonesia di Tangan Mahasiswa


Bulan Mei selalu menarik untuk membahas tentang pendidikan. Setiap setahun sekali bangsa ini rutin menyelenggarakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), yang jatuh bertepatan pada tanggal 2 Mei. Namun, sungguh keterlaluan jika pendidikan hanya kita bicarakan tiap peringatan Hardiknas saja. Karena, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan salah satu elemen penting yang akan menentukan masa depan generasi bangsa ini selanjutnya. Maka sudah seharusnya kita membawa tema pendidikan ini dalam setiap kesempatan, tentunya tidak hanya pada 2 Mei saja.

Ketika berbicara terkait pendidikan, ada dua hal yang layak untuk dikritisi, yaitu sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan. Dilihat dari sarana dan prasarana, pendidikan di Indonesia hingga saat ini dapat dikatakan masih jauh dari adanya sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gedung-gedung sekolah yang rusak dan tidak layak pakai. Bahkan yang sangat memprihatinkan, ada sekolah yang terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kandang kambing, karena keterbatasan sarana gedung yang dimiliki.

Dari segi kualitas pun ternyata tidak jauh berbeda. Kualitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari predikat unggul. Ini dapat dilihat dari banyaknya lulusan pendidikan tinggi yang ternyata tidak mampu menyelesaikan permasalahan bangsa. Para sarjana di negeri ini banyak yang justru menampakkan polah yang sama sekali tidak mencerminkan kaum terdidik, seperti korupsi, tawuran, narkoba, dan kriminal lainnya. Bukannya mencetak generasi unggul yang kritis, pendidikan di negeri ini malah melahirkan generasi pragmatis yang hanya ingin berpikir serba praktis. Sehingga dapat dikatakan pendidikan saat ini telah menyimpang dari tujuan awal yang seharusnya sebagai pencetak generasi bermoral dan berakhlak mulia.

Problematika pendidikan yang terjadi di negeri ini merupakan dampak dari sistem Kapitalisme.
Sistem inilah yang menjadikan manusia hanya berorientasi pada materi. Para capital (pemilik modal) telah memanfaatkan pendidikan sebagai lahan bisnis untuk menghasilkan uang. Persis dengan apa yang dikatakan oleh Peter McLaren bahwa dalam dunia Kapitalisme, sekolah adalah bagian dari industri, sebab sekolah adalah penyedia tenaga kerja atau buruh bagi industri. Maka wajar jika dalam Kapitalisme, pendidikan hanya ditujukan untuk memperoleh gelar, ijasah, dan pekerjaan, tanpa berorientasi pada ilmu.

Melihat permasalahan kompleks pendidikan di negeri ini, seharusnya mahasiswa menjadi pihak yang tergerak pertama kali untuk melakukan perubahan. Karena hal ini adalah konsekuensi dari gelar agen perubah (agent of change) yang tersematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa merupakan kaum intelektual (orang berpendidikan) dengan derajat paling tinggi (maha), yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sehingga sangat diharapkan mampu memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa, salah satunya di bidang pendidikan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon, bahwa pemuda adalah produktivitas yang akan mampu menciptakan perubahan dan kesejahteraan di jagat raya. Maka mahasiswa pun diharapkan mampu menjadi penggerak utama arus perubahan bangsa. Namun, tidak boleh dilupakan pula, bahwa tanggung jawab pendidikan tetap berada di pundak negara. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s