Generasi Cemerlang dari Peradaban Gemilang


Bocah kecil itu sedang meminta-minta di bawah terik matahari. Ia dan beberapa temannya mulai mendatangi satu per satu kendaraan yang berhenti di lampu merah. Wajahnya sumringah, seperti tak ada beban. Semua itu ia lakukan demi terpenuhinya uang receh di kantongnya yang sudah usang. Uang yang jumlahnya tak seberapa itulah yang menjadi penentu hidupnya hari ini.

Plat merah pun datang. Dengan penuh harap bocah kecil itu menghampiri sedan hitam mengkilap yang terhenti di sampingnya. Berharap kan mendapatkan tambahan rezeki untuk makan siang adik. Namun, apa yang terjadi? Kaca gelap mobil itu tak sedikitpun bergeser. Sang bocah terus menunggu dengan sabar. Berharap ada yang membukakan kaca untuk menyodorkan kepingan uang. Bocah itu terus berdiri hingga lampu hijau menyala, dan plat merah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sekeping uang pun untuk sang bocah.

Begitulah ironi yang terjadi di negara ini. Bocah kecil yang tak mampu mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi, terpaksa menjadi pengemis di jalanan. Ia harus berpanas-panasan membanting tulang demi mendapatkan recehan uang. Di saat yang sama, ada seorang pejabat pemerintahan bermobil mengkilap, yang telah merasakan nikmatnya pendidikan hingga yang sangat tinggi sekalipun. Rentetan gelar pun tersemat di antara namanya.

Namun siapa sangka, ketika dihadapkan pada anak-anak jalanan, si pejabat hanya bisa berkata, ”Dasar anak-anak malas! Bisanya cuma minta-minta, tidak mau bekerja!”. Dan ucapan itu ternyata tak pernah diiringi dengan upaya serta langkah nyata untuk memperbaiki nasib anak bangsa yang dikatakan ‘malas’ tersebut. Sekali lagi, padahal si pejabat adalah orang yang berpendidikan tinggi. Lalu apa gunanya gelar sarjana Ilmu Sosial, sarjana Ekonomi, sarjana Hukum, sarjana Politik, sarjana Kedokteran, jika ternyata tak sedikitpun berguna bagi perbaikan bangsa?

Pendidikan saat ini bukan lagi ditujukan untuk membentuk orang-orang kritis yang mampu menjadi agen perubah bangsa, melainkan lebih banyak ditujukan untuk mencetak orang-orang apatis yang selalu berpikir pragmatis. Pendidikan hanya ditujukan untuk mencari kerja. Apalagi dengan biaya pendidikan yang melangit, semakin menambah kuat obsesi masyarakat untuk mampu menghasilkan uang sebanyak-banyaknya setelah menamatkan pendidikan nantinya. Balik modal katanya.

Pendidikan tidak lagi ditujukan untuk menghasilkan ilmuwan, tapi untuk mencetak pekerja. Sehingga pelajar tidak lagi berpikir bagaimana agar ilmunya berguna bagi kemajuan bangsa, tapi lebih berpikir bagaimana agar ilmunya berguna bagi dirinya sendiri dan menghasilkan banyak uang. Kenapa orientasi pendidikan bisa sedemikian menyimpang? Hal ini tidak lain karena dampak dari diterapkannya sistem Kapitalisme.

Peter McLaren mengatakan, dalam dunia Kapitalisme, sekolah adalah bagian dari industri, sebab sekolah adalah penyedia tenaga kerja atau buruh bagi industri.

Maka jelaslah bahwa pendidikan dalam sistem Kapitalisme bukanlah berorientasi pada ilmu, melainkan hanya berorientasi pada materi (uang) semata. Output pendidikan dari Kapitalisme ini bisa kita lihat pada perilaku-perilaku anak bangsa yang mengaku berpendidikan tapi sangat tidak bermoral. Korupsi, narkoba, pembunuhan, penculikan, tawuran massa dan perilaku kriminal lainnya, seolah-olah telah menjadi wajah bangsa ini.

Lalu, bagaimanakah dengan Islam? Orientasi pendidikan dalam sistem Islam jelas berbeda dari Kapitalisme. Pendidikan Islam hanya ditujukan untuk mendapatkan ilmu dan ridha Allah. Pendidikan dalam Islam bukanlah ditujukan untuk mencetak para pekerja, melainkan mencetak para ilmuwan dengan kecerdasan dan keimanan yang tidak diragukan. Maka output dari pendidikan Islam pun berbeda dari Kapitalisme. Output pendidikan Islam tersebut dapat kita lihat pada sosok ilmuwan-ilmuwan Islam yang lahir dari peradaban Islam, seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Haitham, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Biruni, Jabir ibn Hayyan, dan lain sebagainya. Bagaimana Islam mampu menghasilkan orang-orang cerdas seperti mereka?

Dalam sistem pendidikan Islam, pendidikan dipandang sebagai suatu kebutuhan dasar atas tiap muslim. Hal itu didasarkan pada perintah Allah yang mewajibkan bagi tiap-tiap muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu, untuk dapat menyelesaikan permasalahan dirinya, keluarga, masyarakat, dan negara. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw., “Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim. (HR Ibnu Majah).

Pendidikan merupakan tanggung jawab negara (Khilafah), sehingga dalam hal ini, negara diwajibkan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan atas seluruh rakyatnya. Negara melakukan pengelolaan dalam sistem pendidikan melalui empat hal, yakni biaya pendidikan yang dibebaskan (gratis), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, penyediaan guru yang berkualitas, dan penyiapan orang tua yang berkualitas. Karena pendidikan merupakan suatu kewajiban, maka negara pun wajib memberikan kemudahan bagi rakyatnya untuk memperoleh pendidikan. Diantaranya dengan menggratiskan biaya pendidikan, sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik kaya maupun miskin. Biaya penggratisan pendidikan tersebut salah satunya diperoleh dari hasil pengelolaan sumber daya alam (SDA) oleh negara.

Negara juga memfasilitasi pendidikan dengan menyediakan sarana yang memadai serta tenaga pengajar (guru) yang berkualitas. Selain itu, negara juga menyiapkan orang tua yang berkualitas untuk memberikan pendidikan di luar sekolah. Pengelolaan pendidikan tersebut tidak lain ditujukan untuk membangun kepribadian Islami, yaitu pola pikir (aqliyah) dan pola jiwa (nafsiyah) yang berlandaskan Islam. Mempersiapkan anak-anak kaum Muslim agar di antara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fikih, peradilan dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain).

Dari tujuan pendidikan tersebut, peradaban Islam mampu melahirkan individu-individu terbaik yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam serta jiwa kepemimpinan, baik pada skala individu, komunitas bahkan skala negara. Khilafah wajib menyiapkan generasi terbaik (khayru ummah), yang memiliki kepribadian Islam, faqih fi ad-Din (faqih dalam ilmu agama), terdepan dalam sains dan teknologi, serta memiliki jiwa pemimpin. Generasi tersebut disiapkan melalui pemberian kurikulum pendidikan yang berlandaskan akidah Islam. Kurikulum tersebut melingkupi kurikulum dasar, seperti tahfizh al-Quran dan bahasa (Arab, lokal, internasional); kurikulum inti, seperti tsaqafah Islam (ilmu-ilmu keislaman, al-Quran, hadits, fiqih, dan lain-lain); dan kurikulum penunjang, seperti ilmu-ilmu terapan, matematika, dan lain-lain.

Hal ini membuktikan bahwa kurikulum pendidikan dalam Islam tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu yang bersifat umum. Kedua ilmu tersebut diseimbangkan, sehingga mampu mencetak generasi cemerlang yang menguasai bidang ilmu secara luas, tidak hanya satu bidang keilmuan saja. Dari sistem pendidikan Islam inilah lahir para ilmuwan Islam, seperti  Ibnu al Haytham yang mampu menciptakan lensa kamera, Abbas ibnu Firnas yang menciptakan alat terbang (seribu tahun sebelum Wright bersaudara), Abu Qasim al Zahwari yang menemukan ilmu pembedahan, Maryam al Asturlabi yang ahli dalam bidang astrolabe, Ibnu Sina yang ahli dalam bidang kedokteran, dan lain sebagainya.

Inilah gambaran kecemerlangan pendidikan dalam sistem Islam, yang tidak pernah kita jumpai pada sistem Kapitalisme saat ini. Sistem pendidikan Islam ini hanya dapat dijalankan secara sempurna ketika didukung oleh sistem negara, karena pendidikan merupakan salah satu pilar dari sistem negara. Sistem pendidikan Islam tidak akan mungkin bisa diterapkan dengan sempurna selama sistem negara kita masih menganut Kapitalisme. Sehingga untuk mewujudkan kecemerlangan generasi melalui pendidikan Islam, mutlak dibutuhkan adanya sistem Islam dalam wadah Daulah Khilafah Islamiyyah. Maka tidak ada pilihan lain kecuali mengganti sistem Kapitalisme dengan sistem Islam rahmatan lil ‘alamin.

Wallahua’lam bish showab.

One thought on “Generasi Cemerlang dari Peradaban Gemilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s