Perempuan dan Perubahan


Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi (Ketua Gempita)

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa, “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila perempuannya buruk, maka buruk pulalah negara itu.” Hadits tersebut menggambarkan betapa peran perempuan sangat penting, bahkan dalam kehidupan bernegara. Perempuan dijadikan tolok ukur baik buruknya suatu negara. Kenapa bisa demikian?

Secara kuantitas, ternyata dari 6,5 milyar penduduk dunia 3,23 milyar-nya adalah perempuan. Itu berarti 49 persen penduduk dunia adalah perempuan. Hal ini menunjukkan betapa signifikannya peran perempuan, sekaligus semakin mengukuhkan bahwa perempuan adalah salah satu pilar kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa. Secara kualitas, perempuan juga menempati posisi paling strategis sebagai pencetak generasi bangsa. Suatu generasi unggul pasti terlahir dari rahim perempuan unggul. Maka kualitas generasi suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas para perempuannya.

Jika perempuan menjadi penentu kondisi suatu bangsa, maka bagaimanakah kondisi perempuan di Indonesia saat ini? Ternyata perempuan Indonesia masih mengalami keterpurukan dalam segala bidang kehidupan. Dalam hal ekonomi, perempuan masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok yang harganya semakin melangit. Tercatat sebanyak 22,77 juta jiwa perempuan Indonesia miskin, masih banyak perempuan yang tinggal di rumah kumuh, atau bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Belum lagi ditambah biaya kesehatan yang semakin meningkat, yang menyebabkan masyarakat miskin tidak bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Kesempatan mengenyam pendidikan juga sama sulitnya karena biaya pendidikan yang melambung tinggi. Dampaknya sebanyak 5,3 juta perempuan Indonesia masih buta huruf. Perempuan Indonesia juga masih belum terjamin keamanannya di ruang publik. Hal itu bisa dilihat dari masih maraknya pelecehan seksual, penyiksaan, serta perdagangan perempuan.

Permasalahan perempuan ini bukanlah hal baru. Ini sudah pernah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Dalam upaya perubahan terhadap keterpurukan perempuan, para pejuang perempuan telah membentuk gerakan perempuan melalui Kongres Perempuan Indonesia tingkat nasional yang pertama kali diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres ini melahirkan gerakan-gerakan perempuan dengan maksud memperjuangkan hak-hak perempuan. Gerakan perempuan ini juga pernah mengangkat isu perjuangan melawan perdagangan perempuan. Gerakan perempuan terus berkembang, bahkan hingga kini pun muncul berbagai macam gerakan perempuan dengan tujuan yang sama. Namun, dari sekian banyak gerakan perempuan yang pernah ada, ternyata belum mampu menjadikan perempuan termuliakan.

Kenapa gerakan-gerakan perempuan tersebut gagal dalam menyejahterakan perempuan? Hal itu tidak lain disebabkan karena solusi yang mereka tawarkan hanyalah bersifat pragmatis. Gerakan-gerakan perempuan yang ada tidak mampu melihat pada akar penyebab permasalahan perempuan yang sebenarnya, yaitu sistem Sekuler Kapitalis. Sistem inilah yang sejatinya menjadikan perempuan terpuruk. Sekuler Kapitalis telah menempatkan perempuan dan aktivitas yang dilakukan perempuan pada sudut pandang ekonomis dan tidak ekonomis. Kapitalisme mengukur kesejahteraan perempuan dari banyaknya materi (uang) yang dihasilkan. Maka wajar ketika seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga, dipandang sebelah mata karena dianggap tidak menghasilkan uang. Akibat sistem ini pulalah, banyak perempuan yang akhirnya berlomba-lomba mencari uang dengan bekerja. Perempuan lebih memilih untuk menjadi wanita karir daripada mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya. Sehingga tidak jarang rumah tangga yang berujung pada perceraian, dan anak-anak yang terabaikan.

Sejak 2005, terjadi 2 juta pernikahan setiap tahun, dan 12 – 15 persen-nya berakhir dengan perceraian. 80 persen diantaranya terjadi pada perkawinan di bawah 5 tahun. (http://publikasi.umy.ac.id). Akibat kerapuhan keluarga tersebut juga berimbas pada nasib anak. Data menunjukkan sebanyak 62,7 persen siswi SMP sudah tidak perawan lagi, 93,7 persen pernah melakukan ciuman, 70 persen dari 4 juta pengguna narkoba adalah anak sekolah, dan 1258 kasus kriminal dilakukan oleh anak. (dari berbagai sumber).

Islam memandang permasalahan perempuan sebagai permasalahan manusia yang satu (bukan kasuistik didasarkan pada kultur bangsa atau yang lainnya). Maka Islam menyelesaikannya dengan menuntaskan atau memenuhi kebutuhan (hajah) dan naluri (gharaiz) manusia (perempuan) tanpa ada bias gender. Dalam Islam, posisi perempuan adalah sebagai umm wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Sebagai seorang ibu, perempuan memegang kewenangan utama dalam pembentukan karakter generasi sebagai calon-calon pemimpin bangsa. Sedangkan sebagai pengatur rumah tangga, perempuan memegang kewenangan utama sebagai pembentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, yang akan berefek pada terbentuknya kondisi sosial negara yang ideal sebagai modal utama tangguhnya kekuatan politik dalam suatu negara. Dari dua posisi tersebut, sesungguhnya Islam sangat memuliakan perempuan dan menempatkan perempuan pada posisi kunci bangkit atau runtuhnya sebuah negara.

Namun, bagaimanapun juga solusi Islam tersebut tidak akan bisa solutif jika tidak diemban oleh negara. Maka di sinilah pentingnya keberadaan negara Khilafah Islamiyah yang menjalankan sistem politik dan ekonomi Islam sebagai pilar sistem atas semua sub sistem kehidupan yang lainnya. Untuk mewujudkan negara Khilafah Islamiyah ini, diperlukan juga partisipasi aktif dari kaum perempuan, dengan bergabung dalam gerakan yang shahih untuk menerapkan solusi Islam menyeluruh (kaaffah) pada kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s