Sandiwara Kebebasan di Negeri Demokrasi


Tak terasa kita telah memasuki tahun baru 2012. Mungkin sedikit mendebarkan, karena ada yang sempat meramalkan bahwa di tahun 2012 ini akan terjadi kiamat. Banyak orang yang panik. Merasa belum siap menghadapi pengadilan Allah yang Maha Adil. Para koruptor pusing memikirkan nasibnya karena belum sempat bertaubat dan meminta maaf kepada seluruh rakyat yang dirugikan. Para wakil rakyat pun gelisah karena sering tidur pulas saat sidang soal rakyat. Terlebih para penguasa juga tak bisa tidur nyenyak karena takut mendapat azab Allah atas kelalaian terhadap amanahnya dalam memimpin rakyat. Namun, tak berselang lama, ternyata si peramal yang menyebarkan ‘hot issue’ tersebut terlebih dahulu menemui kiamat sughra-nya alias mati. Maka rumor menakutkan itupun sedikit demi sedikit mulai terlupakan.

Alih-alih bertaubat, para koruptor di negeri ini justru semakin menjadi-jadi. Artalyta, Gayus Tambunan, Nunun, serta sederet nama lain, mulai bermunculan sebagai ‘artis baru’ dunia korupsi. Bahkan Nazaruddin tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mantan bendahara umum Partai Demokrat itupun juga tak mau ketinggalan dan turut berpartisipasi sebagai artis dalam dunia perkorupsian ibukota. Wajah mereka selalu bertengger di berbagai media massa. Kelakuan mereka selalu menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Kicauan mereka pun selalu menuai kontroversi panjang yang membosankan. Semua mata tertuju pada ‘artis baru’ tersebut. Banyak ‘paparazi’ yang mengikuti mereka. Seolah ingin mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Hingga saat berlibur ke Bali, si Gayus harus rela melakukan penyamaran agar tidak tertangkap kamera. Inilah resiko menjadi artis.

Tak hanya itu, Artalyta pun dengan malu-malu memamerkan ruang tahanan VIP nya. Kasur springbed, AC, hingga salon kecantikan ada di dalamnya. Bahkan, setiap saat dia dapat melakukan rapat di dalam sel. Keluarganya pun bebas berkunjung dan menginap di sana. Hal ini ternyata tak jauh berbeda dengan nasib rekannya sesama artis, Nazaruddin. Artis ini mendapat perlakuan khusus dari kepolisian, dengan diijinkan sholat Idul Fitri di luar tahanan. Padahal di saat yang sama, puluhan tahanan lain tidak diperbolehkan keluar dari area tahanan. Selain itu, ada juga artis bernama Nunun, yang mengaku hilang ingatan saat ditanya terkait tindakannya. Ah, tidak usah heran lah, namanya juga artis. Kalau masalah akting mah sudah banyak makan garam.

Begitulah, sandiwara yang sedang terjadi di negeri Demokrasi. Negeri yang (katanya) menjunjung tinggi kebebasan. Bebas korupsi, bebas suap-menyuap, bebas freesex, bebas tawuran, bebas miskin, bebas nyopet, bebas ngeruk kekayaan alam, dan lain-lain. Benar-benar bebas, tidak ada larangan. Beneran! Lihat saja berapa banyak pejabat di negeri ini yang melakukan korupsi dan suap-menyuap? Berapa banyak orang kaya yang menghambur-hamburkan uangnya?

Bahkan saking bebasnya, para wakil rakyat boleh ‘membuang’ uang rakyat sebesar 2 miliar hanya untuk membangun ‘jamban’ sebagai tempat ‘buang hajat’ mereka. Padahal di saat yang sama, banyak rakyat di negeri ini yang justru tidak memiliki sarana yang layak untuk kebutuhan tersebut. Ada lebih dari 100  juta orang miskin di negeri ini, 8,12 juta orang menganggur, serta lebih dari 200.000 penduduk yang menderita penyakit HIV/AIDS. Tidak hanya itu, di negeri ini ternyata juga terdapat 10,268 juta siswa usia wajib belajar (SD dan SMP) yang tidak mampu menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun, serta masih ada sekitar 3,8 juta siswa yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat SMA. Benar-benar bebas bukan?

Negeri Demokrasi ini sungguh t.e.r.l.a.l.u! Kebebasan yang dijunjung rupanya tak sepadan dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang telah disepakati. Hal yang paling tampak nyata adalah apa yang telah tertulis di dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3, yang menyatakan bahwa “Bumi, dan air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Ternyata aturan ini dengan mudahnya ditabrak dan dilanggar oleh kendaraan yang bernama kebebasan.

Bagaimana tidak, kekayaan alam yang ada di belahan negeri ini bukannya diberikan kepada rakyat tapi justru diserahkan dengan sukarela kepada pihak asing. Contohnya saja Freeport, yang hingga kini telah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Jika diuangkan, jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, misalnya Rp 300.000, dikali 724,7 juta ton emas = 724.700.000.000.000 gram dikali Rp 300.000 = Rp 217.410.000.000.000.000.000. Bodohnya, prosentase bagi hasil atas penambangan ini adalah 1 persen untuk negara pemilik tanah (Indonesia) dan 99 persen untuk Freeport (AS) sebagai negara yang memiliki teknologi untuk melakukan pertambangan di sana. Miris!

Padahal, dari Emas saja, Indonesia ternyata bisa membayar utang luar negeri US$178 miliar di tahun 2009. Artinya, ini baru emas saja sudah bisa membayar utang, belum kekayaan lainnya. Masih ada batubara, besi, baja, nikel, dan minyak bumi. Jika dihitung dari penghasilan Freeport sebesar Rp 217.410 biliun tersebut akan cukup untuk memberikan subsidi kepada rakyat. Uang itu juga bisa digunakan untuk menutupi defisit APBN, juga bisa untuk membayar utang beserta bunganya. Sisanya bisa untuk pendidikan gratis, pengobatan murah, dan perumahan bagi rakyat. Sehingga, sebenarnya tidak mustahil jika negeri ini ingin mandiri dan tidak bergantung pada asing. Karena faktanya, kekayaan alam di negeri ini sangatlah melimpah ruah.

Inilah akibatnya jika aturan Allah dicampakkan dari kehidupan (baca: sekulerisme). Aturan Allah hanya dipakai dalam hal ibadah ritual saja, seperti shalat, zakat, puasa, haji. Namun, ketika mengatur Negara, mengatasi pendidikan, hingga mengelola kekayaan alam, rakyat di negeri ini ternyata lebih mempercayakan pada aturan yang dibuat oleh sekelompok manusia yang bernama ‘pejabat bejat’. Aturan itulah yang disebut ‘sistem bejat’ Demokrasi. Tak heran bila output yang dihasilkan pun akhirnya banyak menuai ‘kebejatan’ di berbagai bidang. Hukum yang bisa dibeli, jauh dari kata adil. Anak mencuri sandal dihukum lima tahun, sedangkan koruptor yang mencuri uang rakyat bertriliun-triliun masih dibebaskan berkeliaran serta diberikan fasilitas mewah di rumah tahanan. Apa-apaan ini?!

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS: Ar-Rum :41)

Sebelum kita menyalahkan siapa-siapa atas semua permasalahan di negeri ini, ternyata Allah telah dengan jelas menyebutkan dalam firman-Nya di atas, bahwa semua kerusakan yang tampak di negeri ini tidak lain adalah akibat ulah tangan manusia. Akibat kerakusan para pejabat yang tidak pernah puas dengan dunia, maka rakyat kecil pun menjadi korbannya. Apakah kita hanya akan berdiam diri melihat satu per satu saudara kita di negeri ini berguguran karena menahan lapar? Apakah kita hanya membisu menyaksikan puluhan bahkan ratusan rakyat di negeri ini diperlakukan secara tidak adil?

Dalam urusan ini, ternyata diam bukanlah emas. Diam tidak akan dapat menyelesaikan satupun permasalahan yang telah mengakar ini. Maka bergerak dan turut andil dalam perjuangan perubahan sistem, adalah satu-satunya pilihan yang layak diambil. Pastinya kita sudah muak dengan semua kebebasan dan ‘kebejatan’ di negeri Demokrasi ini. Sehingga tak ada alasan lagi bagi kita untuk mempertahankan ‘sistem bejat’ ini. Buang jauh-jauh Demokrasi dengan segala kebebasannya, dan ganti dengan sistem Islam. Bangkitlah dari kegagalan, bangkit hanya dengan Islam! Jadikan tahun 2012 ini lebih barakah dari tahun-tahun sebelumnya.

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al A’raf :96).

Wallahua’lam bish showwab.

 

– Zakiya El Karima –


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s