Sekeping Harapan di Padang Iman


Dia telah memilih jalan hidupnya. Bertahan dalam masa lalunya yang kelam. Hatiku berontak, menolak. Namun, entah kenapa, mulutku hanya terdiam membisu. Tak ada sepatah katapun terlontar dari lisan ini. Dingin, kaku, jantungku berdegup kencang. Amarahku membuncah dalam diam. Hingga dia pun berlalu meninggalkanku.

“Ah, lagi-lagi aku tak mampu mencegahnya!” keluhku pada diriku sendiri.

Ini bukan pertama kalinya jiwaku terguncang. Aku bosan dengan hidupku selama ini. Berkumpul dengan kawan-kawan baik yang selalu berbuat jahat. Rasanya ingin sekali aku lari, meninggalkan manusia-manusia yang telah kukenal sejak enam tahun lalu itu. Komunitas pecandu narkoba, pemabuk, pencopet, kumpulan para pemalas. Arrrghh… Aku benci kalian!

“Sudahlah, Tuhan itu Maha Pengampun. Seberapa banyak pun dosa yang kau lakukan, Dia pasti sudi membersihkan dosamu,” batinku.

***

Kejadian yang kualami dua minggu lalu benar-benar berhasil membuatku gelisah hingga detik ini. Merasa selalu diawasi dan dikejar oleh sosok hitam pencabut nyawa. Dua minggu lalu aku ditabrak oleh seorang perempuan berkerudung besar yang mengendarai sepeda motor. Saat itu aku juga sedang naik motor, sambil asyik menikmati alunan lagu dengan headset yang menyumbat kedua telingaku.

Tanpa kusadari, posisi motor yang kukendarai telah berada di tengah jalan. Banyak yang membunyikan klakson untuk memperingatkanku. Namun, rupanya suara nyanyian di telingaku lebih keras daripada suara klakson kendaraan di belakangku. Aku pun tak mendengarnya. Akibat kecerobohanku itulah, sebuah motor menabrakku. Aku tersungkur di tepi jalan. Walau jelas itu salahku, tapi aku tetap menghujat perempuan yang menabrakku itu.

“Astaghfirullah…” ucap perempuan itu kaget.

“Mbak, gak punya mata ya? Saya ga ngapa-ngapain tiba-tiba ditabrak!” teriakku marah.

“Maaf mbak, saya benar-benar tidak sengaja. Mbak tidak apa-apa kan?” jawabnya sambil meminggirkan motornya dan menolongku untuk bangun.

“Saya ga mau tau, ini saya lecet-lecet. Sampeyan harus ganti rugi!” teriakku sambil tetap bernada marah.

“Sekali lagi saya minta maaf mbak. Insyaallah saya akan ganti rugi. Tapi maaf, saya sekarang sedang terburu-buru karena ada ujian. Jadi sementara saya beri kartu nama saya dan uang secukupnya. Dua jam lagi setelah saya selesai ujian, mbak bisa menghubungi saya,” ungkap perempuan itu sambil membuka dompetnya dan menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan serta selembar kartu nama. Aku menerimanya. Perempuan itupun berlalu.

“Bodoh sekali tu cewek. Padahal aku ga kenapa-kenapa malah dikasih uang dua ratus ribu. Lumayan…”, gumamku sambil tertawa.

Aku melanjutkan perjalananku. Motor ini kulajukan lebih kencang. Aku tak tahu tujuan perjalananku hari ini. Aku hanya ingin menjauh sejenak dari keramaian manusia. Terutama orang tuaku yang selalu membuatku tertekan. Mereka hanya menuntutku untuk sempurna, tanpa mau menyisakan waktu sedikit saja untuk memperhatikanku. Hatiku bergejolak, hingga melelehkan air mataku untuk menetes.

Perjalanan ini sungguh tidak terencana. Dan tanpa kusangka, aku telah sampai pada jalan yang tak pernah kukenal sebelumnya. Namun terus kulajukan motorku menapaki jalan yang asing ini. Mendung mulai gelap dan rintik hujan mulai berjatuhan. Hingga akhirnya aku sadar, bahwa aku benar-benar tersesat.

“Tuhan, tolong aku!” gumamku panik.

Rintik hujan semakin deras mengguyurku. Aku buta arah, tak tahu jalan mana yang harus kutempuh. Namun, kuputuskan untuk tetap melaju ke depan, tak berbalik arah. Hujan semakin deras. Tubuhku pun basah kuyup. Jalan yang kulalui semakin sepi. Aku mulai bimbang. Aku tak ingin mati di tengah jalan ini. Maka segera kutentukan tujuan perjalananku untuk pulang ke Malang.

Saat kebimbangan merasuk dalam benak, kutemukan papan petunjuk arah di tepi jalan. Di papan itu tertulis nama kota tujuanku dengan arahnya. Lega rasanya. Kekhawatiranku berkurang karena telah menemukan petunjuk arah. Aku pun terus mengikuti petunjuk arah tersebut, hingga akhirnya sampailah aku di kotaku, Malang. Selamat, tanpa tersesat.

Aku pun bersyukur, lalu merenung dan mulai berpikir. Perjalanan yang kutempuh ternyata sama dengan perjalanan hidup manusia. Manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk satu tujuan, beribadah kepada Allah. Ketika manusia telah mengetahui tujuan hidupnya, maka mereka pun berlomba-lomba untuk mencapai tujuan hidupnya itu. Manusia harus fokus pada tujuan hidupnya, yaitu ibadah. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada banyak jalan yang terbentang di hadapan mereka.

Namun, ternyata tidak semua jalan itu mampu mengantarkannya pada tujuan hidupnya. Sehingga manusia pasti membutuhkan petunjuk arah atau peta dalam perjalanan hidupnya agar ia tidak tersesat. Dengan peta inilah manusia dituntun untuk sampai pada tujuan perjalanan hidupnya. Jika manusia senantiasa berpegang teguh dan taat pada peta yang benar, ia pun akan sampai di tempat tujuan dengan selamat tanpa tersesat.

Sesungguhnya dalam perjalanan hidup ini, petunjuk yang benar itu telah diberikan oleh Allah, yaitu berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka, jalan mana yang harus ditempuh untuk sampai dengan selamat pada tujuan hidup manusia? Tidak lain adalah jalan yang sesuai dengan petunjuk Allah yang Maha Benar. Jalan yang merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pengalaman perjalanan yang penuh makna itu tak dapat kulupakan. Sesampainya di rumah, kuambil kartu nama yang diberikan oleh perempuan yang menabrakku tadi. Ternyata dia adalah mahasiswi di kampus yang sama denganku. Kubalik lembar kartu nama itu. Kutemukan sebuah tulisan apik berwarna merah di sana.

“Siapakah yang menjamin Anda hidup sampai Dzuhur, jika Allah menakdirkanmu mati sekarang?”

Aku terdiam. Tubuhku gemetar, menggigil. Mati? Aku bahkan tak pernah memikirkan tentang kematian sebelumnya. Namun, perjalananku hari ini benar-benar telah menyadarkanku untuk merasakan bahwa kematian itu sangat dekat denganku.

***

            Motor ini kuhentikan di depan sebuah rumah berpagar cokelat. Seorang perempuan berkerudung lebar menyambutku. Zahra, nama perempuan itu. Ia adalah perempuan yang pernah menabrakku dulu. Sekarang, dia telah menjadi kawan baruku. Darinya aku belajar banyak hal tentang agama. Dia yang membantuku melepaskan masa laluku yang kelam. Melangkah pada jalan baru yang lebih bermakna. Jalan ini yang sedang kutapaki, jalan Islam.

“Zahra, ini uangmu yang dulu pernah kamu berikan padaku,” ucapku sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan.

“Uang apa ini, Nurul?” tanya Zahra kepadaku.

“Ini uang yang dulu kamu berikan saat kamu menabrakku. Sebenarnya aku tidak mengalami kerugian apapun, aku berbohong kepadamu. Jadi, kamu tidak perlu memberikan uang ini,” jawabku sambil tersenyum.

Demi waktu, perjalanan hidupku baru saja kumulai. Aku telah meninggalkan teman-temanku yang tak mau berubah. Mereka tetap memilih untuk tetap bergelut dengan kemaksiatan. Kawan, karena hidup adalah pilihan, maka aku telah memutuskan pilihanku. Aku memilih untuk menjadi orang-orang yang beruntung, yang selalu berjalan pada jalan kebenaran, jalan yang diridhai-Nya. Itulah jalan Islam.

Aku sadar bahwa jalan kebaikan dan kemaksiatan tak akan pernah bersatu. Karena ujung kedua jalan tersebut berbeda, satu berujung surga, satu berujung neraka. Walaupun saat ini jalanku berbeda dari teman-teman lamaku, tapi aku punya satu harapan. Semoga suatu saat nanti kalian pun juga menemukan jalan baru seperti yang aku tempuh saat ini.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s