Kamboja Terakhir


Bukankah bermimpi itu adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan, menyenangkan, dan tidak beresiko? Bayangkan saja, ketika kau bermimpi kemudian mimpimu tersebut tidak terwujud. Apakah kau merugi? Sama sekali tidak! Ah, namanya juga mimpi.

Maka suatu hari kuputuskan untuk merencanakan mimpi-mimpiku. Di bawah langit yang teduh, aku berjalan seorang diri. Berlalu tanpa mempedulikan puluhan nyawa yang kulewati. Sisa-sisa air hujan semalam masih tampak bergelantungan di dahan. Kabut tipis pun menyelimuti alam, menghalangi pemandangan gunung di hadapanku.

“Andai saja hari ini aku bisa melihat wajah gunung yang berjejer itu. Aku selalu ingin pulang jika melihatnya,” gumamku lirih.

Tak terasa, aku pun telah menjauh dari kerumunan orang-orang itu. Kini aku berada di sebuah tempat yang rindang, sejuk, dan sepi. Sebagian orang selalu mengatakan tempat ini mencekam, tapi tidak bagiku. Ini adalah tempat yang sangat indah. Tak tampak satu orang pun di tempat ini. Aku sendirian. Walau sebenarnya tidak, karena aku yakin di sini pasti sangat ramai, hanya saja aku tak mampu menyaksikan keramaian itu. Mataku masih normal.

Segera kusandarkan tubuhku di bawah pohon Kamboja yang sedang berbunga. Wanginya menggodaku untuk memetik sebagian bunga dari tangkainya. Namun, belum sampai tanganku menggapai tangkai, seseorang mencegahku dengan menepuk pundakku. Aku pun terkejut olehnya. Segera ku balikkan badanku untuk melihat sosok yang mengagetkanku itu. Sepi, tak ada siapapun di belakangku. Kulemparkan pandanganku ke setiap sudut kompleks pemakaman ini. Nihil, tetap tak kutemukan.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s