Cahaya di Balik Api


Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi

Pagi ini tak seperti biasanya. Sejak pagi, kota yang telah lembab ini diguyur hujan deras. Aku pun harus mengurungkan niat untuk jalan-jalan ke kampus. Hari minggu begini sudah menjadi kebiasaan bagi mahasiswa sepertiku untuk refreshing dari kepenatan tugas-tugas kuliah dan organisasi. Bisa ku bayangkan suasana kampus saat hari minggu. Pastinya lebih nyaman dari hari-hari biasanya. Orang-orang terlihat lebih santai. Tanpa tas ransel, tanpa setumpuk paper, tanpa map, tanpa kemeja, dan yang paling penting tanpa sepatu. Ya, inilah momen yang paling ku sukai, berjalan dengan memakai kaos oblong dan celana cingkrang, serta sandal jepit khas anak kos. Oh, andai saja hari ini aku melakukannya.

Sesekali ku tengok ke luar jendela. Langit masih mendung, sedangkan tetesan hujan ini tampaknya tak sedikitpun berkurang. Ku lirik jam dinding di kamarku. Jarum pendek menunjuk pada angka 6, dan jarum panjang di angka 11. “Masih pagi sekali,” gumamku sambil menghela napas. Ku balikkan badanku dan kembali ke kasur. Lalu ku rebahkan tubuhku di atas spon tipis ini. Namun, saat mataku mulai sedikit terpejam, tiba-tiba ada suara memanggilku.

“Mas Lana!!! Mas Lana!!!” teriak seseorang di depan kamar.

Aku pun terpaksa bangkit dari tidurku, dan bergegas membukakan pintu kamar.

“Eh, ada apa Rid?” sambutku dengan rambut yang masih berantakan.

“Wah, sampeyan ternyata masih tidur ya mas? Maaf lho mas, saya sudah ganggu,” Farid merasa bersalah.

“Ah, nggak kok. Aku cuma tiduran aja, nggak tidur beneran,” jawabku sambil tertawa.

“Begini mas, aku mau pinjam buku kuliah sampeyan mas. Minggu depan kan sudah mulai kuliah pertamaku, jadi harus dipersiapkan. Mas punya buku apa aja? Mungkin aja ada yang sama,” ungkap Farid dengan gaya khas mahasiswa baru. Kami pun segera terlarut dalam perbincangan hangat seputar kampus, lebih tepatnya tentang mahasiswa baru.

Farid adalah mahasiswa baru yang tinggal di kontrakanku. Dia diterima di jurusan Teknik Elektro. Satu fakultas denganku, tapi beda jurusan. Masih teringat jelas di benakku, dulu saat dia pertama kali mendatangi rumah ini sendirian. “Mas, di sini masih ada kamar kosong?” begitu dia bertanya kepadaku. Padahal di rumah ini sudah penuh, tak ada lagi kamar kosong untuk penghuni baru. Namun, di luar dugaanku ternyata Farid tetap memaksaku untuk mengatakan ‘ada’. “Saya butuh tempat singgah untuk sementara waktu selama ospek mas. Terserah saya mau ditempatkan di mana saja. Asalkan saya bisa tinggal di rumah ini. Karena saya sudah kehabisan tempat kos.” Aku tidak tega mendengarnya. Akhirnya aku pun mempersilakannya. Seorang kawanku harus rela mengungsi sementara waktu dari kamarnya, untuk ditempati oleh Farid.

Waktu cepat sekali berlalu. Hingga ada salah satu kawan yang telah lulus dan pulang. Hal itu rupanya disambut baik oleh Farid, karena dengan begitu dia mendapatkan ruang baru untuk ditempatinya.

*****

Kuliah semester tiga di Teknik Mesin ternyata tidak sepadat yang ku bayangkan sebelumnya. Ini masih ringan menurutku. Entah kenapa, aku tak betah berlama-lama dengan ketidaksibukan ini. Hingga akhirnya ku putuskan untuk menambah jumlah organisasi yang ku ikuti. Aku pun menggabungkan diri dalam sebuah organisasi besar di kampusku. Organisasi yang telah lama ku impikan sejak dulu sebelum aku menjadi seorang mahasiswa. Organisasi yang begitu seringnya mengatakan bahwa mahasiswa adalah agent of change (agen perubah). Organisasi yang biasanya dihuni oleh orang-orang yang menurutku sangat idealis. Walaupun terlepas apakah idealisme mereka itu benar atau salah, tapi yang ku tahu orang-orang di dalam organisasi ini sering menampakkan diri dan berperan aktif dalam aksi demo. Ya, aku bergabung dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Hari-hari selanjutnya ku lewati dengan lebih sibuk. Dua organisasi yang ku ikuti ini cukup menguras energiku. Sudah bisa ditebak konsekuensi apa yang harus ku terima. Selain nilaiku anjlok, aku juga mulai jauh dari adik-adik kontrakanku, termasuk Farid. Aku hanya dapat bertemu dan berinteraksi dengan mereka saat berangkat bersama untuk sholat Maghrib di Musholla, dan ketika ada kajian setelah Maghrib di kontrakan. Selain kedua waktu itu, aku jarang sekali berkumpul dengan mereka. Farid juga tak sering lagi menyambangi kamarku. Dia lebih memilih untuk berkumpul dengan teman-teman seangkatannya.

*****

Suatu malam, aku halqah (mengkaji Islam) bersama Ahsan dan mas Sukri. Sudah menjadi agenda di kontrakanku untuk halqah tiap seminggu sekali. Hal ini merupakan salah satu agenda dakwah di kontrakan binaan kami. Mas Sukri terlihat bersemangat memimpin halqah malam ini. Dia menjelaskan tentang hakikat penciptaan manusia. Bahwa manusia itu diciptakan dengan disertai akal. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan akal itulah, manusia dapat membedakan perbuatan baik dan buruk. Bahwa manusia diciptakan di dunia ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Hingga dijelaskan pula tentang uqdhatul kubro, yang berisi tiga pertanyaan besar yang harus dipecahkan oleh manusia, yaitu 1) dari mana manusia berasal?, 2) untuk apa manusia hidup?, dan 3) akan ke mana manusia setelah mati? Ketiga pertanyaan inilah yang mampu mengantarkan manusia pada tujuan hidup yang sesungguhnya sebagai hamba Allah.

Malam semakin larut. Ahsan sudah mulai terlihat mengantuk. Mas Sukri sepertinya memahami hal ini, sehingga ia pun mengakhiri halqah malam ini. Namun, rupanya kami bertiga masih tergoda untuk melanjutkan obrolan. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kuliah hingga urusan rumah. Tiba-tiba Ahsan menceritakan sesuatu.

“Mas, tau nggak? Farid pacaran lho. Kemarin aku lihat dia jalan sama cewek. Tapi ceweknya pake kerudung kok, berarti nggak apa-apa ya mas?” tuturnya.

“Hah? Masa sih? Ah, aku nggak percaya! Soalnya nggak ada bukti apapun,” jawabku sambil menyandarkan punggung di tembok.

“Walaupun ceweknya berkerudung, tetap aja yang namanya pacaran itu tidak boleh. Kamu yakin kalau cewek yang bersama Farid itu pacarnya?” tutur khas ‘orang tua’ meluncur dari mulut mas Sukri.

“Yakin lah mas, lawong dia sendiri yang cerita ke aku kalau dia sudah punya pacar,” jawab Ahsan meyakinkan.

Karena malam sudah sangat larut, akhirnya kami pun menyudahi percakapan ini. Belum ada konklusi dari percakapan kali ini. Hanya obrolan yang belum jelas faktanya.

*****

Keesokan paginya. Seperti biasa, aku bersiap pergi ke kampus. Hari ini aku harus berangkat pagi, karena ada praktikum. Aku adalah orang yang tak terlalu memperhatikan penampilan untuk pergi ke kampus. Orang-orang yang sudah sangat mengenalku akan menghafal benda-benda yang tidak pernah absen dari diriku. Jaket hitam dan jam tangan hitam. Mereka biasa menyebut dua benda itu dengan sebutan ‘icon Maulana’. Selain kedua benda tersebut, aku tak begitu mempermasalahkannya.

“Lana, aku berangkat bareng ya?” teriak Dika dari lantai atas.

“Oke bro! Ku tunggu di bawah. Cepetan ya!” balasku sambil mengenakan sepatu.

Aku pun segera menaiki ‘Revo’ ku. Tak lama kemudian Dika menghampiriku, dan langsung memposisikan tubuhnya di belakangku.

“Semuanya, kami berangkat ya… Assalamu’alaikum!” teriak kami dari luar rumah.

“Iya, hati-hati. Wa’alaikumussalam!” terdengar jawaban samar dari dalam rumah. Motor pun kulajukan dengan cepat.

Tak lama kemudian, kami telah sampai di kampus. Dika sudah ku turunkan di depan gedung megah yang bertuliskan Fakultas Ilmu Administrasi. Tinggal aku seorang diri memarkir motor di tempat parkir Fakultas Teknik. Hari masih terlalu pagi, sehingga parkiran yang biasanya penuh ini masih terlihat longgar. Saat aku akan beranjak dari parkiran, tiba-tiba mataku melihat sebuah pemandangan yang mengejutkan. Sepasang muda-mudi sedang berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram) di gazebo. Sepertinya aku mengenali sosok laki-laki itu. Aku pun mendekati mereka. Astaghfirullah, ternyata Farid! Ku putuskan untuk menghampirinya.

“Assalamu’alaikum,” sapaku sambil ku tepuk pundak Farid.

“Eh, wa’alaikumussalam,” jawab Farid kaget.

“Lagi ngapain rid pagi-pagi sudah di kampus?” tanyaku tanpa mempedulikan cewek yang duduk di depan Farid.

“Mmm… Ini mas, ngerjain tugas kelompok,” jawabnya dengan tetap gelisah.

“Oh, iya rid, kebetulan nih ketemu kamu di sini. Temenin aku ke gedung Mesin yuk. Masih sepi di sana, aku takut. Gosipnya kan gedung itu agak serem,” ku tarik tangan Farid.

“Maaf ya mbak, Farid nya ku pinjam dulu,” terpaksa aku berpamitan dengan cewek itu.

Setelah kami berjalan agak jauh dari gazebo, Farid pun bertanya padaku dengan wajah bete.

“Sejak kapan sih mas, sampeyan jadi penakut gini? Perasaan dulu sudah pernah ketemu hantu mesin fine-fine aja, malah sampeyan ajak kenalan tu hantu. Iya kan?”

“Itu kan dulu rid. Sekarang jadi agak trauma sejak dia minta ditraktir bensin. Tau aja dia kalau BBM sekarang lagi naik. Bisa bangkrut donk aku,” jawabku asal sambil tertawa. Farid pun hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Aku belum berani memarahi Farid terkait cewek tadi. Aku masih perlu bukti lain hingga benar-benar bisa meyakinkanku bahwa mereka pacaran.

“Ya sudah rid, kamu boleh balik. Ini sudah banyak anak-anak kok. Maaf ya sudah merepotkanmu. Terimakasih banyak! Oh iya rid, lain kali kalau mengerjakan tugas ngajak teman lain ya. Jangan hanya berduaan, takutnya yang ketiga adalah setan,” kataku sambil menggoda.

“Sip mas! Kapan-kapan aku ngajak sampeyan saja. Pergi dulu ya mas. Assalamu’alaikum!” Farid pun berlalu pergi.

*****

Pagi telah lewat. Kini siang menghampiri dengan hangatnya mentari. Aku duduk di teras masjid kampus, menunggu seorang adik tingkat, Alvin namanya. Sebuah lembaga kerohanian Islam Fakultas telah mengenalkanku padanya sekitar sebulan yang lalu. Hingga suatu ketika aku mengajaknya hadir dalam sebuah Seminar. Dari situlah aku mengajaknya ngaji, dan ternyata dia pun sudah berniat untuk itu. Kegembiraanku tak dapat kuungkapkan. Alhamdulillah ya Allah… Hari ini adalah pertemuan ketigaku dengannya untuk mengkaji Islam.

Jam tanganku telah menunjukkan pukul 12.45 wib. Masih ada waktu 15 menit, ku gunakan untuk membaca buku referensi. Tak lama kemudian, Alvin pun datang.

“Assalamu’alaikum. Mas, sudah nunggu lama ya? Maaf, ini saya baru selesai kuliah,” kata Alvin sambil menyalamiku.

“Wa’alaikumussalam. Nggak apa-apa kok, saya juga belum terlalu lama nunggunya,” jawabku sambil tersenyum.

Aku dan Alvin pun segera tenggelam dalam diskusi hangat yang membicarakan seputar ilmu Allah. Namun, bagaimanapun juga ilmu Allah itu sangatlah luas. Sebanyak apapun kita mengkajinya, maka itu barulah sedikit bagian darinya. Diibaratkan bagaikan mencelupkan ujung jari ke dalam air laut lalu mengangkatnya kembali. Air laut itu diibaratkan luasnya ilmu Allah, sedangkan air yang masih tersisa di jari kita itulah ilmu yang kita kaji. Subhanallah…

Alvin terlihat sangat bersemangat mengkaji Islam. Hal ini bisa ku lihat dari banyaknya pertanyaan yang ia tanyakan padaku.

“Mas, hukumnya boncengan motor sama cewek itu gimana sih mas? Saya kan ikut organisasi umum nih, dan di sana ikatan persaudaraan antar anggotanya sangat kuat. Nggak peduli cewek cowok mas. Jadi kalau ke mana-mana gitu boncengan cewek cowok sudah biasa. Termasuk saya juga. Trus gimana menurut mas?”

“Boleh kok boncengan cewek cowok, asalkan itu mahram kita atau yang masih ada hubungan saudara dengan kita. Kalau teman di organisasi, apakah mereka mahram kita? Iya yang cowok, tapi yang cewek?” ungkapku.

“Ya memang bukan sih mas. Tapi saya pas bonceng itu nggak ada perasaan apa-apa kok mas, ya cuma teman aja. Kan yang nggak boleh itu kalau ada perasaan yang tidak wajar kan mas?” imbuhnya.

“Kamu bisa menjaga perasaan kamu, tapi apakah kamu bisa menjamin bahwa cewek yang kamu bonceng itu juga bisa menjaga perasaannya? Lebih baik kamu cari amannya saja. Jadi kalau ke mana-mana kamu pilih boncengan dengan sesama cowok saja,” jelasku sambil menepuk bahu Alvin.

Alvin sepertinya belum dapat menerima penjelasanku. Aku bisa melihat dari raut mukanya yang masih tersirat ketidaksetujuan. Namun, aku yakin dia akan berpikir, dan kuharap dia akan berubah.

Tak lama kemudian, adzan Ashar berkumandang. Kami pun hening sejenak untuk mendengarkan adzan. Setelah itu, barulah ku tutup majelis kecil ini. Lalu kami turut sholat berjamaah. Selesai sholat, kami berpisah setelah terlebih dahulu membuat kesepakatan waktu untuk kajian selanjutnya.

“Ahad sore insyaallah saya kosong mas,” Alvin menawarkan hari sambil membuka kalender di ponselnya.

“Oke, insyaallah kita ketemu lagi Ahad sore di masjid sini ya?” jawabku.

“Iya mas. Saya pamit dulu ya mas. Assalamu’alaikum!” Alvin pun menyalamiku.

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya!” ungkapku membalas salamnya.

Entah kenapa, sejak kehadiran Alvin, aku jadi semakin bersemangat menambah tsaqofah Islam. Organisasi yang ku ikuti pun sedikit demi sedikit mulai terabaikan. Apalagi setelah aku tahu bahwa idealisme orang-orang di dalam organisasi tersebut tidak sepenuhnya ku sepakati. Aku mulai bosan. Dulu aku sangat semangat masuk organisasi kampus, tapi sekarang aku punya semangat baru yang bisa ku tularkan kepada orang lain, yaitu semangat untuk mengkaji Islam.

Aku pun pulang. Sampai di gang kontrakan, terpaksa ku hentikan motorku. Bukan karena kehabisan bensin ataupun macet. Melainkan karena ku lihat lagi pemandangan di depan kontrakan. Masih dengan tokoh yang sama, Farid dan cewek berkerudung. Mereka duduk berdua dengan santainya.

“Bener-bener keterlaluan!” bisikku lirih.

Namun, aku tetap berusaha menjaga emosiku. Ku lajukan motorku mendekati kontrakan. Kali ini aku lebih memilih diam. Setelah memarkir motor, aku langsung masuk rumah tanpa menyapa Farid.

Tak lama, Farid pun masuk rumah. Aku tetap berkelakuan seperti biasa dan menyapanya.

“Rid, besok Sabtu nggak ada kuliah kan? Ikut kajian yuk!” ajakku.

“Males ah mas, hari Sabtu besok aku mau jalan-jalan sama teman-teman sekelas,” jawabnya sambil berlalu tanpa menatapku.

Aku mengerutkan dahi. Tidak biasanya Farid menjawab seperti ini. Sejak awal dia memang tidak pernah mau ku ajak kajian, tapi biasanya dengan alasan kuliah atau mengerjakan tugas. Nah, baru kali ini dia mengatakan kata ‘males’. Namun, aku mencoba untuk tidak su’udzon pada Farid.

*****

Akhirnya tiba juga penghujung pekan. Sabtu malam minggu. Malam ini, aku, Dika, Ahsan, mas Sukri, dan mas Adhim akan pergi ke kajian. Karena lokasinya cukup jauh dari kontrakan, akhirnya kami mengendarai motor. Setelah sholat Maghrib, kami segera berkemas.

“Dika, kamu bareng aku aja ya? Sekalian ntar kamu beliin bensin. Oke?” kuacungkan jempol ke arah Dika.

“Apa?!! Okelah kalau begitu! Resiko jadi orang baik, nggak bisa nolak permintaan,” jawab Dika sambil mengelus dada.

“Wahai para sesepuh, silakan kalian berboncengan ria. Aku akan naik motor sendirian saja karena aku masih muda. Siapa tau nanti ada bidadari yang naik di belakangku, kan lumayan,” Ahsan pun tak mau kalah menimpali.

“Ahsan, kalau nanti ada yang tiba-tiba naik di belakang kamu, sepertinya itu bukan bidadari tapi si manis jembatan Soekarno-Hatta,” celetuk mas Adhim diiringi tawa kami, kecuali Ahsan yang hanya meringis.

Kami pun berangkat. Suasana kota Malang di malam minggu memang selalu ramai. Maksiat berjamaah di mana-mana. Sepanjang perjalanan kami selalu beriringan, karena memang hanya mas Adhim dan mas Sukri yang sudah tahu lokasinya. Aku dan Ahsan ngibrit di belakangnya.

Sekitar 15 menit kemudian, kami pun sampai di lokasi. Terlihat sebuah ruangan luas berbentuk kotak dengan empat pintu yang diisi penuh oleh para ikhwan (laki-laki). Di tembok depan ruangan itu tertempel spanduk bertuliskan ‘Halqah Akbar Malam Minggu’. Subhanallah… Biasanya malam minggu itu identik dengan jalan-jalan, pacaran, nonton film, dan maksiat lainnya. Tapi ternyata ada gitu yang memperingati malam minggu dengan pengajian. Keren kan?

Setelah memarkir motor, kami pun masuk ke dalam ruangan. Ratusan kursi di ruangan ini telah diisi penuh oleh orang-orang. Tak ada yang tersisa.

“Eh, kita duduk di mana nih?” tanya mas Sukri sambil clinguk’an mencari kursi yang kosong.

“Tuh masih ada sisa kursi buat kita,” jawabku santai sambil menunjuk pada lima kursi kosong di barisan paling depan.

Semua mata kawanku langsung tertuju pada kursi yang kutunjuk. Kompak mereka mengerutkan dahi dan kaget setelah melihat kursi tersebut.

“Hah?! Yang bener aja. Itu kan kursi buat undangan terhormat. Lihat tuh bentuk kursinya aja beda dari yang lain,” ujar Dika tidak setuju. Namun, tiba-tiba dia menghentikan bicaranya saat melihat keempat kawannya ternyata sudah berjalan menuju kursi tersebut. Dika pun hanya melongo menyaksikan kenekatan kami. Tapi tak ada pilihan lain bagi Dika, selain ikut kami duduk di kursi ‘kehormatan’.

“Kita ini memang orang-orang terhormat,” bisik Ahsan kepada Dika sambil membusungkan dadanya.

Tidak ada yang aneh ketika kami duduk di depan, kecuali pandangan para peserta termasuk para pemateri terhadap kami berlima. Kami pun mengkondisikan seperti tidak terjadi apa-apa.

“Sudahlah, simpan dulu rasa malu kalian, daripada kita berdiri di belakang selama dua jam,” bisik mas Adhim.

“Baiklah, aku manut saja pada sesepuh,” ujar Ahsan sambil tetap bergaya cool. Dika menunduk malu dengan muka merah, sedangkan aku dan mas Sukri tak bisa menahan tertawa.

“Ini pengalaman paling memalukan. Tak akan ku ulangi lagi,” gumam Dika di dekatku.

“Tenang, lain kali kita duduk di kursi pemateri di depan tuh,” jawabku sambil tertawa.

Acara pun dimulai. Semua peserta begitu serius mendengarkan materi kajian yang disampaikan oleh para pemateri.

“Islam itu agama yang benar, karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Benar. Sehingga tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Kalau masih ada orang yang meragukan kebenaran Syariat Islam, berarti keimanannya patut dipertanyakan. Karena secara tidak langsung dia telah mengingkari ke-Maha Sempurnaan Allah. Jika ada orang yang masih meragukan bahwa Syariat Islam mampu menyelesaikan segala problematika umat, maka keimanannya wajib diragukan pula. Karena secara tidak langsung dia telah meragukan ke-Maha Kuasaan Allah,” demikian salah satu materi yang disampaikan.

Semakin malam, kajian ini rupanya semakin panas. Terbukti dengan banyaknya peserta yang kipas-kipas. Namun, sebelum ruangan ini kebakaran (oleh mabda), pembawa acara akhirnya menutup kajian ini. Tepat pukul 21.00 wib acara pun selesai.

Kami langsung melaju pulang dengan tetap beriringan. Saat melewati jalanan yang gelap, mas Adhim meneriaki Ahsan.

“Ahsan, hati-hati ya. Motor kamu nggak tambah berat kan?” ujarnya sambil tertawa.

Ahsan yang mendengar hal itu langsung tancap gas dan berada di barisan kedua.

“Mas Adhim, jangan bikin aku merinding donk!” Ahsan pun ketakutan. Kami semua menertawakan Ahsan.

Kami pun melewati kawasan yang ramai maksiat. Orang-orang pacaran, mabuk, judi, dan lain-lain. Tiba-tiba Dika berteriak menyapa seseorang yang dikenalnya.

“Farid…………..!!!” teriaknya.

Mas Sukri langsung mengerem mendadak motornya. Ahsan yang mengantuk kaget dan ikut berhenti. Aku pun otomatis menyesuaikan dua motor di depanku. Kami semua berhenti dan menoleh pada Dika.

“Loh, kenapa ini kok berhenti semua?” tanya Dika tanpa rasa bersalah.

“Heh! Teriakan kamu tadi yang membuat kami berhenti mendadak!” bentakku pada Dika.

“Dika, kamu tadi manggil siapa?” teriak mas Sukri.

“Oalah, Farid mas. Itu lho, aku lihat Farid di sana,” Dika pun menunjuk keramaian di pinggir jalan.

Kami pun akhirnya berbalik arah dan menuju keramaian tersebut. Ternyata benar, ada Farid di sana. Aku yang telah lama menyimpan emosi terhadap perbuatan Farid, segera menghampiri Farid.

“Rid, lagi ngapain di sini?” bentakku pada Farid.

“Loh, mas Lana kok bisa ada di sini?” jawabnya kaget.

“Ayo pulang!” aku pun menarik tangan Farid dan memaksanya pulang. Farid tampak pasrah. Akhirnya kami berenam pulang berboncengan.

Sejak kejadian malam itu, aku tidak peduli lagi terhadap Farid. Aku kecewa dengannya. Tidak ada perubahan perilaku darinya. Dia tetap pacaran, bahkan bertambah parah. Hampir satu semester aku tak bertegur sapa dengannya. Aku berpikir bahwa Farid tidak bisa diharapkan untuk menjadi orang baik. Dia pun tak berani bicara denganku. Hingga suatu hari Farid memutuskan untuk pindah dari kontrakan kami. Aku sama sekali tidak keberatan, dan justru bersyukur.

*****

Hari berganti hari, bulan berganti bulan,  tahun berganti tahun. Tak terasa, empat tahun telah kujalani di kampus ini. Aku pun akhirnya mengkhatamkan kuliahku, setelah sebelumnya mas Adhim dan mas Sukri telah mendahuluiku. Setelah wisuda, aku pun pindah ke Surabaya untuk bekerja. Sedih rasanya harus berpisah dengan kawan-kawan di Malang. Terutama kawan-kawan di kontrakan yang sering menemaniku dalam setiap peristiwa.

“Mas Lana, jaga diri baik-baik ya di sana. Kalau merindukanku, missedcall aja, nanti akan ku balas dengan missedcall,” canda Ahsan dengan wajah serius.

“Iya, insyaallah suatu saat kita akan bertemu lagi ya…” ungkapku terharu.

“Amin…” jawab Ahsan dan Dika bersamaan. Aku pun meninggalkan mereka, dan berangkat ke Surabaya dengan naik motor.

*****

Baru sepuluh bulan aku bekerja, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Aku merindukan kawan-kawanku di Malang. Aku merindukan kehangatan suasana bersama mereka. Aku rindu dengan suasana dakwah kampus. Iseng, ku missedcall Ahsan. Terdengar nada sambung dari Wali yang berjudul ‘Cari Jodoh’. Aku pun hanya tersenyum mendengarnya. Tak lama kemudian Ahsan ganti me-missedcall-ku. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang hingga 10 kali. Padahal aku berniat untuk menelepon dia, tapi dia tidak pernah mengangkat teleponnya, dan selalu membalas teleponku hanya dengan sebuah missedcall. Akhirnya ku kirimkan pesan singkat ke nomornya.

“Assalamu’alaikum. Ahsan, teleponnya diangkat donk. Aku mau ngomong.”

Kemudian datang balasan dari Ahsan.

“Oh, sampeyan telepon beneran ta mas? Tak kirain cuma missedcall. Kan dulu perjanjiannya gitu. Ya udah, sampeyan telepon lagi, akan ku angkat.”

Setelah itu aku pun meneleponnya lagi dan baru diangkat. Kami saling meluapkan rasa rindu. Ahsan banyak bercerita tentang kawan-kawan di Malang. Dika sudah lulus dua bulan lalu, dan kini dia telah pulang ke kampung halamannya.

“Mas Adhim masih di sini kok mas. Dia kerja di Malang,” cerita Ahsan.

“Aku ingin main ke Malang, San!” keluhku.

“ Oh iya, minggu depan ada Kongres Mahasiswa Islam di sini. Sampeyan ke sini pas itu aja mas, pasti semua pada ngumpul,” Ahsan menyarankan.

“Iya deh, insyaallah minggu depan aku ke sana,” janjiku pada Ahsan.

“Masih ingat tradisi di sini kan mas? Kalau berkunjung harus membawa oleh-oleh,” kata Ahsan sambil tertawa. Aku pun berpamitan dan menutup telepon.

*****

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku mengemasi barang-barang dan bersiap berangkat ke Malang. Tetap dengan jaket hitam dan jam tangan hitam. Tapi ada tambahan aksesoris, sepatu mengkilap berwarna hitam. Minggu pagi ini aku pun berangkat ke Malang dengan mengendarai ‘Revo’.

Dua jam kemudian aku telah sampai di kota Malang. Kota perjuanganku sejak empat tahun yang lalu. Aku datang dengan disambut hawa dingin yang menyejukkan. Ku pikir ini sudah cukup terlambat untuk datang ke Kongres. “Pasti semuanya sudah pada ke sana,” batinku. Akhirnya ku putuskan untuk langsung menuju lokasi Kongres.

Setelah ku parkir motorku, aku pun segera turut berbaur dengan ratusan mahasiswa. Ku hirup hawa perjuangan di sini. Mahasiswa, agent of change! Ku amati sekeliling ruangan ini. Mataku pun tertuju pada salah satu mahasiswa yang memegang bendera hitam bertuliskan ‘La Ilaha illa Allah’. Seorang pemuda yang dengan lantang meneriakkan takbir berkali-kali. Ku lihat dari kejauhan. Sepertinya aku mengenalinya. Ku kedipkan mataku berkali-kali. Aku pun mencoba lebih memfokuskan pandanganku. Sosok itu… Farid! Ya, itu Farid! Aku pun mendekatinya untuk lebih memastikan.

“Farid?!” sapaku sambil menepuk pundaknya.

“Ya?” jawabnya sambil membalikkan badannya.

“Mas Maulana?!” ungkapnya dengan kaget.

Kami pun berpelukan. Aku tak bisa menahan air mata kebahagiaanku, begitu pula Farid. Setelah acara selesai, kami pun berkumpul di jalan. Ahsan dan mas Adhim juga turut berkumpul bersama kami. Kami berempat melepas rindu dengan berbagi cerita. Aku masih penasaran dengan proses perubahan Farid.

“Rid, sejak kapan kamu jadi seperti ini?” tanyaku.

“Sejak lima bulan yang lalu mas,” jawabnya.

“Dia berhasil ditaklukkan oleh sesepuh kita, mas!” kata Ahsan sambil merangkul mas Adhim.

“Iya mas, aku disadarkan sama mas Adhim. Jujur, aku kecewa dengan sampeyan mas Lana. Sampeyan dulu hanya marah-marah dan membenciku, tapi tak pernah memberitahuku bahwa perbuatanku itu salah,” kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Farid bersamaan dengan air mata di kedua pelupuk matanya.

Hatiku terpukul dengan kata-kata Farid. Hingga aku pun tak sanggup berkata apapun. Aku hanya bisa menangis dan memeluk erat tubuh Farid.

“Tak apa mas, semuanya sudah terjadi. Alhamdulillah aku telah memilih jalan dakwah ini dan memutuskan untuk meninggalkan masa laluku yang kelam,” ujar Farid menenangkanku.

“Terimakasih ya Allah, Engkau masih berikan secercah cahaya keimanan di balik api permusuhan yang sempat meletup di antara aku dan Farid,” ungkapan kebahagiaanku tak bisa kututupi.

“Simpan dulu rasa malu kalian. Mari kita berpelukan!” ajak mas Adhim. Kami berempat pun berpelukan di tengah jalan raya.

Tanpa sepengetahuan kami, ada wartawan yang diam-diam mengabadikan momen ini. Di esok harinya, foto kami telah menjadi headline di sepotong episode perjalanan dakwah kampus.

*****

2 thoughts on “Cahaya di Balik Api

  1. aku mau nangis mba, betapa persaudaraan yang diikat oleh ikatan akidah ini sangat kuat. semoga Allah menjadikan kita manusia-manusia yang terus saling mengingatkan. tidak menjadi sosok maulana yang tidak solutif tapi menjadi sosok Adhim yang terus bergerak masif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s