Aku Mencintaimu Karena Uang


“Aku ngga tau kenapa dulu aku bisa milih pekerjaan ini. Padahal aku sadar bahwa pekerjaan ini sangat tidak dianjurkan dalam agamaku. Biarin deh! Tuhan kan Maha Pengampun. Dia pasti memaklumi alasanku bekerja di sini. Tuhan tuh ngga ribet. Ngga kayak orang-orang yang pernah aku temui pas jaman kuliah dulu. Apa-apa ngga boleh. Pake celana ngga boleh, nyoblos pas pemilu ngga boleh, pake klenik (adat Jawa) ngga boleh. Heran, ribet banget ya! Hidup cuma sekali aja kok dibikin ribet. Mending mati aja kalo kayak gitu.”

“Tapi, bukannya kamu dulu juga meneriakkan hal yang sama dengan mereka ya? Masih ingat ngga? Pas kamu ngajakin teman-temanmu buat ikut kajian. Trus jelasin ke mereka tentang pakaian muslimah, jilbab dan kerudung, tentang penerapan Islam secara kaffah, dan ketidakbolehan mengambil hukum di luar Islam.”

“Cukup! Itu dulu. Sekarang tidak!”

“Secepat itukah pemahamanmu luntur?”

“Oke, aku paham pakaian yang benar tuh jilbab dan kerudung. Tapi, balik lagi kan, Tuhan tuh ngga membebani hamba-Nya kok. Jadi, sebenarnya esensi dari perintah Tuhan itu kan menutup aurat. Masalah mau pake celana, rok, atau jilbab, itu bisa disesuaikan perkembangan jaman.”

“Tau ngga apa yang barusan kamu katakan itu pemikirannya siapa?”

“Ya, aku tau, ini pemikiran liberal.”

“Apakah Islam mengajarkan seperti itu?”

“Entahlah, aku bingung. Ini semua gara-gara pekerjaanku.”

One thought on “Aku Mencintaimu Karena Uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s