Cuplikan Kisah Kasih di Sekolah


“Tyas!!!” teriakku sambil melambaikan tangan pada sosok gadis berkerudung yang berjalan di depanku. Tyas menoleh ke arahku, namun tampaknya dia tidak menyadari keberadaanku. Keningku berkerut seketika. “Sombong sekali anak itu!” ucapku lirih. Aku pun melanjutkan langkah menyusuri lorong yang penuh dengan siswa-siswi berseragam pramuka.

Namaku Aima. Saat ini aku duduk di bangku kelas XI SMA Negeri 2 Kotabayu. Dua bulan lalu usiaku genap 17 tahun. Di usia ‘sweetseventeen’ ini, aku mendapat hadiah teristimewa dari ibuku, tiga paket seragam sekolah, abu-abu putih, pramuka, dan baju khas. Yang membuat baju-baju ini istimewa adalah karena ukurannya yang panjang. Itu artinya, mulai hari ini, 2 Maret 2006, aku akan memakai kerudung ke sekolah. Sebuah impian yang dari dulu sangat kuinginkan, akhirnya terwujud juga.

Banyak kisah saat SMA, terutama setelah aku membuka lembaran baruku dengan pakaian muslimah yang menutup aurat. Berawal dari hari ini, aku kemudian dipertemukan dengan beberapa sahabat, Tyas, Sari, Ani, dan Nisa. Mereka sahabat-sahabatku yang dulunya tidak pernah dekat denganku, bahkan beberapa diantaranya belum pernah kukenal sebelumnya. Namun, sebuah majelis telah mempertemukan kami. Majelis yang menyejukkan akalku, menentramkan jiwaku, dan menenangkan hatiku. Di sinilah kami bertemu dan saling mengenal. Di sinilah kami berkumpul. Di sinilah kami menjalin persahabatan. Di sini, di dalam sebuah surau kecil yang teduh, tak jauh dari sekolah kami. Surau itu bernama Mutmainah.

Surau penuh kenangan, yang telah menjadi saksi perjalanan kisah persahabatan kami. Kisah yang tak selalu menyenangkan, tapi juga tak selalu menyedihkan. Suka duka kami lalui bersama. Ada tawa, ada tangis. Gembira dan juga sedih. Ingatkah kalian, saat kalian berhasil membuatku menangis haru? Sandiwara sidang yang unik. Kalian tiba-tiba marah padaku. Dan saat perasaan jengkelku muncul, kalian menanggalkan topeng kemarahan itu dan menggantinya dengan tawa ceria. Sebuah buku bersampul merah, ikhlas kalian persembahkan untukku. Aku tak mampu membendung bulir air mata. Terimakasih sahabat, atas kebaikan yang telah kalian berikan.

Sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
Saat kulihat surau itu menyibak lembaran masa yang indah
Bersama sahabatku…
Setiap sudut surau itu menyimpan kisah
Kadang kurindu cerita yang tak pernah hilang kenangan
Bersama mencari cahayaMu…
Sepotong episode masa lalu aku
Episode sejarah yang membuatku kini
Merasakan bahagia dalam DienMu
Merubah arahan langkah di hidupku

(Edcoustic – Sepotong Episode)

 

[to be continue…]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s