Sepotong Episode


Irama musik mengalun lirih. Seakan menegaskan kepada bintang yang bertaburan di langit, bahwa hari semakin larut. Aku duduk, menyelinap di antara keramaian manusia. Tertunduk tersandar ransel hitam. Syaza tengah sibuk membuka catatannya, di sebelahku. Mereka, tiga orang yang baru kukenal, masih bersenang-senang dengan mobilnya. Sedangkan Fajar, tampak menyendiri di samping pagar. Menikmati lika-liku mobil yang merambat di arena.

Lilin itu menyala remang, di tengah meja panjang yang terhampar di depan sebuah kolam. Hening. Hanya terdengar suara alunan musik menenangkan. Tak lama, empat piring terserak di atas kayu. Raut mukaku tak padam, sejak jarum jam tak berdetak mundur. Secercah cahaya di langit-langit awan ini pun tak begitu menakjubkan. Bagiku. Mungkin tidak bagi yang lain.

Fajar enggan berkomentar. Dia masih menyimpan sebuah buku di dalam tasnya. Syaza tak juga beranjak. Karena malam ini belum berakhir. Dua orang di depanku, tetap dengan pendirian mereka, tak mau makan malam. Sedangkan bapak yang baik itu, masih menganggap detik ini lambat.

Hingga saat itu tiba. Kegelapan ini pun mampu diakhiri. Lampu-lampu tersembur di antara air yang tenang. Malam menjadi lebih berwarna. Senyum kagum terlintas di setiap diri. Namun, gemerlap ini tak kunjung usai. Justru baru saja dimulai. Dan kami pun bergegas menyeretkan langkah. Menjauh dari gelap yang terang.

 

[Zakiya El Karima]

~ukhuwah itu indah, lebih indah dari mata air cahaya~

5 thoughts on “Sepotong Episode

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s