Keanehan yang Aneh di Negeriku


Negeriku ini, sungguh aneh. Negeri kaya, tapi rakyatnya miskin. Buktinya, sumber daya alam negeri ini melimpah ruah. Hutan, hasil laut, pertanian, maupun tambang terhampar luas. Namun, di sisi lain, ternyata masih banyak rakyat di negeri ini yang hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak keluarga yang tak mampu penuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Makan dari mengais sampah, hingga kelaparan yang berujung pada kematian. Saat pembagian zakat, banyak rakyat yang berjejal mengantri hingga harus mengorbankan nyawa satu-satunya. Semua itu dilakukan hanya demi mengisi perutnya yang kosong dan keroncongan. Sungguh miskin rakyat di negeriku.

Tapi, aku bingung. Ada juga yang mengatakan, negeri ini miskin dan rakyatnya kaya. Buktinya, kekayaan alam yang dimiliki oleh negeriku ini telah dikeruk oleh asing. Lebih tepatnya, diserahkan dengan sukarela. Freeport yang awalnya berbentuk gunung emas, kini telah diukir oleh perusahaan asing hingga menjadi lembah. Emas yang terkandung di dalam perut bumi negeriku telah berpindah kepemilikan. Belum lagi tambang minyak, yang kini dkuasai oleh Exxon Mobile. Inilah potret kemiskinan negeriku. Harta negeriku dirampas oleh asing. Namun, walaupun negeriku miskin, ternyata rakyatnya kaya. Wakil rakyatnya saja bisa membangun gedung baru dengan biaya 1,1 Triliun. Belum lagi kunjungan ke luar negeri dalam rangka studi banding yang menghabiskan biaya tak sedikit pula. Bahkan, tahanan saja bisa liburan ke Bali. Ruang tahanannya juga lebih mewah dari rumah, ada pendingin ruangan (AC) nya juga. Ditambah ribuan rakyat negeriku yang mampu membayar jutaan rupiah untuk menghadiri konser musik. Kaya sekali rakyat di negeriku.

Dilema. Dua pernyataan yang berbeda, tetapi sama-sama terjadi di negeriku. Semua fakta tersebut memang merupakan gambaran dari kondisi di negeri Indonesia ini. Negeri kaya tapi miskin, rakyat kaya tapi miskin. Dua realitas yang berlawanan, tapi terjadi secara bersamaan. Sungguh aneh kan?

Di kala rakyat tertawan oleh perompak Somalia, negeriku bagaikan negeri yang sangat miskin, hingga tak sanggup dan harus berpikir panjang untuk menebus nyawa rakyatnya. Di kala pendidikan menjadi kebutuhan rakyatnya, negeriku mengharapkan pemakluman dengan mengurangi subsidi bagi pendidikan. Di kala rakyat sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM), negeriku justru mencabut subsidi minyak. Namun, di saat yang bersamaan, negeriku yang ku kira miskin ini ternyata mampu membiayai para wakil rakyatnya untuk membangun gedung, pelesiran, dan nonton video porno. Jadi, sebenarnya negeriku ini miskin atau kaya ya?

Demikian pula rakyat di negeriku. Di satu sisi, ada rakyat di negeriku yang mampu mengenyam pendidikan hingga taraf paling tinggi sekalipun. Namun, di sisi lain ada pula rakyat yang tidak pernah merasakan pendidikan sama sekali dikarenakan tidak sanggup membayar biaya pendidikan yang melambung tinggi. Di satu sisi, rakyat di negeriku bisa merasakan pengobatan professional dengan alat yang serba canggih. Namun, di sisi lain ada juga yang tak mampu menebus sebutir obat pun, hingga tak pernah tersentuh oleh yang namanya pengobatan. Di satu sisi, ada rakyat yang selalu makan mewah hingga perutnya membuncit kekenyangan. Namun, di sisi lain masih ada rakyat yang tak pernah makan hingga perutnya membuncit karena busung lapar. Ironis.

Keanehan lain di negeriku ini adalah kebijakan yang tidak tepat sasaran. Pusat perzinaan (pelacuran) justru dijadikan devisa negara. Rakyat yang menjadi ‘pembantu’ di luar negeri justru dijuluki sebagai pahlawan devisa. Kreatifitas yang tidak bermutu (seperti video Briptu Norman, Sinta-Jojo yang diungguh di YouTube) justru dibanggakan dan diberi imbalan beasiswa. Sedangkan para pemenang olimpiade dengan ide-ide brilliantnya, banyak yang ditelantarkan, tidak terurus. Begitu pula sarjana yang siap menerapkan ilmunya, malah tidak disediakan lapangan pekerjaan. Akibatnya jumlah pengangguran meningkat. Sehingga memaksa rakyat untuk bekerja menjadi pelaku tindak kriminal. Salah siapa?

Ditambah lagi satu keanehan lain, untuk menyambut kedatangan artis luar negeri yang konser di negeriku ini, dikerahkan seribu pasukan pengaman. Sedangkan untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya yang tertawan perompak, belum juga dikirim pasukan penyelamat. Apa-apaan ini?!

Saya yakin, Bapak Presiden yang memimpin negeriku ini bukanlah orang miskin. Gajinya saja 62 juta per bulan. Tapi ternyata gaji tersebut diperoleh dari hasil pajak yang dikenakan pada rakyatnya sendiri. Berarti, Bapak Presiden di negeriku ini sebenarnya lebih miskin dari rakyatnya. Buktinya, untuk memperoleh gaji bulanan saja, Bapak Presiden tersebut harus ‘meminta-minta’ kepada rakyatnya. Tapi kok gaya bener Bapak Presiden yang digaji dari uang rakyat ini. Sampai-sampai ketika lewat jalanan, semua rakyatnya disuruh menyingkir. “Ingat pak, kami yang menggaji anda!”

Huft… Entah, apa yang sedang terjadi di negeriku ini. Semuanya serba aneh. Apa mungkin karena tidak diterapkannya aturan Allah di negeriku ini? Sehingga menyebabkan Pengatur alam ini murka. Apa mungkin karena negeriku masih mempertahankan aturan Kapitalisme yang berpandangan sekuler? Sehingga semua hanya diukur dengan materi semata, tanpa mengaitkannya dengan standar Sang Pencipta.

Padahal, sadarkah kita? Sesungguhnya dua kalimat syahadat yang telah kita ucapkan dan yakini, yang mengantarkan kita untuk berislam, itu adalah janji kita. Bahwa dengan mengucap dan menyakini syahadat tersebut, berarti kita telah berjanji untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya pencipta sekaligus pengatur hidup kita. Lalu, kenapa kita masih ragu untuk menjadikan Dienullah (Islam) sebagai satu-satunya solusi atas berbagai permasalahan dan keanehan yang menimpa negeri ini? Mari kembali pada jalan Islam!

Wallahua’lam bish showab.

 

[Zakiya El Karima]

One thought on “Keanehan yang Aneh di Negeriku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s