Tentang Mereka


Semua tentang mereka,
yang kutemui di sebuah perantauan kecil,
tak jauh dari tempat asalku.
Semua tentang mereka,
yang sempat mewarnai rasa sepiku,
saat tak seorang pun yang kukenal,
di perantauan kecil ini.
Semua tentang mereka,
yang mengajariku arti hidup,
di tengah masyarakat yang beragam.
Semua tentang mereka,
yang kukenal tak lama,
dengan pertemuan tak kusangka,
dan perpisahan tak kuharap.
Semua tentang mereka,
yang rela berbagi waktu,
untuk sekedar bertanya kabar.
Semua tentang mereka,
yang pernah mengisi lembaran kisah hidupku,
walau singkat,
namun sangat berarti.
Semua tentang mereka,
yang bertemu sejenak,
dan berpisah untuk selamanya.

Malang, 8 April 2011

“Nenek sudah dipanggil Allah…,” pesan singkat yang masuk di ponselku pagi itu sangat mengagetkanku. Beribu penyesalan pun menghinggapi hatiku. Kenapa tidak dari dulu aku mengunjunginya? Tak terasa air mata pun menetesi pipi. Segera aku memasuki kamar tengah. Kubaringkan tubuhku di kasur, dan akupun mulai menangis beralaskan bantal.

Hari itu adalah hari ketiga setelah pernikahan kakakku. Aku masih berada di rumah untuk membantu ibuku menyambut tamu yang belum juga surut. Pagi itu aku meniatkan diri untuk mengunjungi sosok yang telah kuanggap nenek. Aku ingin berfoto bersamanya, karena sejak enam bulan lalu setelah magangku selesai, aku belum pernah bertemu dengannya.

*****

Awal bulan Agustus 2010 lalu aku magang di Radar Kediri. Karena tidak memungkinkan jika harus pulang ke rumahku di Nganjuk, maka orangtuaku pun mencarikanku rumah kos yang dekat dengan tempatku magang. Awalnya kami menemukan sebuah rumah kontrakan yang berisi dua orang pegawai salon. Lokasi rumah tersebut cukup strategis dan ideal menurut orangtuaku. Sebenarnya aku sedikit meragukan lingkungan orang-orang di rumah ini, tapi aku tidak tega melihat ayah dan ibuku yang telah bersusah payah mengantarkanku. Sehingga akupun mengiyakannya. Namun, tampaknya ayah membaca pikiranku. Ayahpun menjanjikan kepada pemilik rumah tersebut untuk memberikan keputusannya dua hari kemudian.

Kami pun berjalan memasuki sebuah gang di seberang jalan, mencari rumah kos yang lebih layak. Saat kami sampai di ujung gang, kami melihat sebuah rumah besar. Tampak beberapa gadis berkerudung berseragam sekolah memasuki rumah tersebut dan bergiliran mencium tangan seorang nenek yang duduk di kursi ruang tamu. Ayahku pun menghampiri pintu rumah tersebut dan bertanya kepada penghuninya tentang rumah kos.

“Permisi bu, rumah kos di sekitar sini di mana ya?” tanya ayahku.

“Di sini menerima kos, kebetulan masih ada kamar yang kosong,” nenek itupun berdiri dan mempersilakan kami masuk.

Kami pun masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah mengatur posisi duduk, mataku mulai mengamati sekeliling ruangan itu. Lemari tua yang berisi foto haji, beberapa kitab suci Al-Qur’an, serta hiasan. Suasana Islami benar-benar tercermin di dalam rumah tersebut.

“Jadi, anak kami ini akan magang di Radar Kediri, dan mencari tempat kos yang dekat,” tutur ibuku menjelaskan.

“Alhamdulillah, di sini masih ada kamar yang kosong. Kos di rumah saya ini insyaallah terjaga, karena tidak boleh membawa pacar. Di sekitar sini banyak kos-kosan yang laki-laki bebas masuk, sedangkan kalau di sini saya tidak membolehkan,” jelas sang nenek.

Ayah dan ibuku terlihat lega mendengarnya. Mereka pun menatapku menunggu keputusan dariku, dan aku pun menganggukkan kepala tanda setuju. Akhirnya kami pun sepakat untuk menyewa satu kamar di rumah tersebut. Ternyata selain aku, ada beberapa anak SMK yang kos di rumah tersebut yang juga sedang magang di tempat yang sama dengan tempatku magang.

Hari pertama tinggal di rumah kos ini, aku belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku. Akupun memutuskan untuk pulang ke rumahku di Nganjuk. Perjalanan kurang lebih satu jam rupanya cukup menyita waktuku. Sehingga pada hari-hari selanjutnya aku mulai membiasakan untuk tinggal di rumah kos, karena tugas liputan di tempat magang mulai berdatangan.

Rumah kos ini memang bangunan tua. Hal itu terlihat dari barang-barang kuno yang terpajang di dalamnya. Seperti di kamar yang aku tempati, semua barangnya adalah barang ‘jadul’. Meja rias, kasur, serta lemari kecil, semua terbuat dari kayu yang berhiaskan ukiran klasik.

“Mbak!” teriakan dan ketukan pintu mengagetkan dan membuyarkan lamunanku tentang barang-barang klasik. Suara nenek memanggilku dari luar kamar. Aku beranjak dari kasur dan segera membukakan pintu kamarku.

“Ini dimakan dulu,” nenek pun segera menyodorkan sepiring nasi dengan sayur dan lauk pauk serta segelas teh hangat kepadaku.

“Loh, kok repot, nek?” ujarku dengan bingung bercampur sungkan.

“Tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri,” kata nenek sambil tersenyum.

“Ayo, dimakan dulu,” lanjut nenek sambil meninggalkanku.

“Makasih, nek!” jawabku.

Wah, tahu aja nenek kalau aku sedang lapar. Tanpa dikomando, akupun segera menyantap habis makanan tersebut.

“Allahuakbar… Allahuakbar…!!” suara adzan Maghrib terdengar dari mushola di depan kosku. Saat aku hendak mengambil air wudhu, rupanya nenek sudah berkemas dengan mukena dan sajadahnya untuk pergi sholat ke mushola. Lalu, aku dan adik-adik kosku sholat bersama di ruangan kecil dalam rumah yang memang disediakan untuk sholat. Sedangkan nenek turut sholat berjamaah di mushola depan rumah. Walaupun usianya sudah lanjut, nenek kosku tidak pernah meninggalkan sholat wajib. Bahkan setiap Maghrib dan Subuh, nenek selalu ikut sholat berjamaah di mushola depan rumah.

[Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s