Ukhuwah Fillah


Subhanallah, hujan ini turun tak kusangka. Setelah sebelumnya udara panas menyelimuti tengah malam ini, tiba-tiba rintik hujan pun mengguyur genting di seberang jendela kamarku. Disusul kilatan petir, menambah suasana mencekam kesendirianku di ruangan tak berbintang ini. Hey, rintik hujan semakin deras. Panasnya malam tersapu oleh dinginnya hawa hujan. Ingin sekali ku pejamkan mataku yang mulai sayu.

Lalu bersembunyi di balik selimut tebal. Namun, aku punya rencana lain. Ingin ku habiskan penghujung malam ini dengan menuliskan kisah penghapus lara. Dan malam ini akan menjadi malam ke-sekian kalinya aku berkhalwat dengan laptop kesayanganku.

***************

Beberapa hari lalu, aku menyaksikan seorang adik yang tertunjuki hidayah. Walaupun aku tak begitu mengenalnya, dan mungkin dia juga tak begitu mengenalku. Namun, aku sering melihatnya di kampus. Kemeja dan celana jeans berpadu dengan gaya tomboy. Itulah Amy, sebelum pertemuan terakhirku hari itu.

Di sebuah toko buku, ku lihat sosok yang tak asing lagi bagiku. Seorang akhwat berkerudung dan berjilbab melemparkan senyumnya. Sosok itulah yang sebelumnya sering kulihat di kampus. Namun, sekarang tidak lagi dengan kemeja dan celana jeans. Jilbab dan kerudung menghiasi tubuhnya yang tinggi. Pakaian syar’i memang lebih menenangkan bagi orang yang memakai serta orang yang melihatnya. Kemudian, seorang kawan menyapanya, “Selamanya kan?”. “Insyaallah”, kata-kata itu terucap dengan yakin dari mulut Amy, melegakan orang yang mendengarnya.

Ya, itulah Amy. Satu di antara sekian banyak muslimah yang telah menentukan pilihan hidupnya. Pilihan untuk menapaki jalan yang sesuai dengan aturan Allah. Pilihan untuk menutup aurat secara sempurna, dengan memakai jilbab (gamis) dan kerudung. Subhanallah.

Sejenak kemudian, entah kenapa, mataku mulai berkaca-kaca. Ku sembunyikan wajahku dari kawanku. Bukan, bukannya aku sedih melihat Amy telah menemukan hidayah. Aku bahagia. Lalu kenapa air mata ini tiba-tiba berontak tak terbendung ingin menetes? Rupanya aku teringat pada orang-orang dekatku, yang hingga hari ini belum juga menutup aurat secara sempurna. Ya Allah, betapa lemahnya diriku sampai tak bisa menyadarkan mereka?

Teruntuk kawan dekatku,
Maafkan aku masih membiarkanmu dalam ketidaktaatan,
Tapi, bukankah hidup itu pilihan?
Aku tak pernah rela ketika engkau bercerita tentang pacarmu,
Sehingga aku pun mengingatkanmu bahwa pacaran itu dimurkai Allah,
Sedangkan menikah adalah pilihan yang tepat,
Kau pun rupanya telah memahaminya,
Aku tahu kau jauh lebih pandai dariku,
Karena kau telah terbina lama dengan pendidikan Islam,
Sedangkan aku hanya mengenyam pendidikan umum,
Namun, aku kecewa dengan ketidakkonsistenanmu,
Kau masih belum terikat sepenuhnya dengan kerudungmu,
Bahkan kau berani melepasnya di luar rumah,
Aku tak mungkin membiarkanmu,
Tapi kau tak pernah menghiraukanku,
Hatiku tersentak,
Selemah inikah imanku?
Hingga mencegahmu berbuat maksiat saja aku belum mampu,
Tapi, bukankah hidup itu pilihan?
Tahukah kau kawan?
Setulus hati,
Aku kecewa dengan pilihan hidupmu saat ini,
Ku harap suatu saat nanti kau akan berubah,
Walau bukan melalui tanganku.

 

Fastabiqul Khairat (FK), awal 20 Feb’11 (12.04 am)
Saat tetesan hujan mulai mereda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s