Menulis itu… Menyenangkan!!!


Kenapa kita menulis? Katakan dengan tegas, “Saya menulis karena saya cinta menulis, saya butuh menulis, dan saya harus menulis!”

Menulis merupakan salah satu kontribusi kita untuk mengubah dunia, sehingga menulis ini akan berguna bagi diri kita sendiri. Menulis bukanlah untuk media, melainkan untuk diri sendiri. Namun, tidak bisa dinafikkan bahwa menulis akan selalu membutuhkan media untuk menyampaikan tulisan kita ke tengah masyarakat. Kadang, sulit bagi kita memasukkan tulisan ke media. Ditolak lagi, ditolak lagi. Bagaimana solusinya? Buat media sendiri. Memangnya mereka saja yang bisa punya media, lalu seenaknya menolak tulisan kita? Tunjukkan bahwa kita juga bisa membuat media. Pilihlah media yang tidak mahal, bahkan kalau bisa gratis. Blog misalnya. Dengan adanya blog, maka tulisan kita tidak akan tertolak lagi. Masukkan saja tulisan kita pada blog tersebut, dan manusia dari seluruh dunia dapat membacanya.

Ada beberapa hal yang dapat mendukung aktivitas menulis, diantaranya:

1. Banyak Membaca
Membaca dan menulis bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Menulis ibarat memasak, sedangkan membaca ibarat mencicipi masakannya. Membaca dapat memperkaya pengetahuan kita. Hal itu akan berpengaruh pada kualitas tulisan yang kita tulis. Orang yang banyak membaca pasti bisa menulis. Sehingga menulis mewajibkan kita untuk membaca. Untuk menulis 1 artikel saja kita perlu membaca 10 buku referensi.
Misalnya, ketika kita akan menuliskan sebuah artikel tentang Palestina, maka sebelumnya kita perlu membaca hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Palestina, kondisi geografis Palestina, pahlawan-pahlawan yang pernah ada di Palestina, dan lain-lain. Tidak perlu kita datang langsung ke Palestina untuk melihat kondisi Palestina. Namun, hanya dengan membaca kita dapat menggambarkan suasana di Palestina.

2. Banyak Nonton
Pengetahuan juga dapat kita peroleh dari film ataupun tayangan televisi. Sehingga menulis pun juga mengharuskan kita untuk banyak nonton.

3. Banyak Nongkrong
Nongkrong di sini tentunya adalah nongkrong yang positif. Banyak bergaul dan berkawan dengan orang-orang positif. Misalnya, nongkrong membicarakan berita yang sedang hangat, dan lain-lain. Hal tersebut juga akan menambah pengetahuan kita.

4. Memiliki isi kepala
Isi kepala dalam artian idealisme, yaitu pemikiran Islam. Untuk menulis, maka idealisme mutlak diperlukan, agar tulisan yang kita hasilkan lebih berbobot.

Tips-tips menulis ala Nur Fajarudin, S.Pd alias mas Fajar:

1. Tulis tema yang paling anda senangi
Awali menulis dari hal-hal kecil yang anda pahami. Pilihlah bidang (tema) yang paling anda kuasai, atau bisa disesuaikan dengan jurusan kuliah anda.

2. Bebaskan pena anda menari
Kadang kesulitan dalam menulis itu timbul karena banyaknya aturan-aturan yang mengekang. Maka, lepaskan sejenak belenggu aturan penulisan tersebut. Biarkan tulisan anda mengalir. Tabrak semua peraturan!

3. Sering gunakan kata kerja
Dengan sering memakai kata kerja dalam tulisan, maka pembaca akan benar-benar tergambar dan merasakan apa yang kita tuliskan.

4. Jangan sungkan menggunakan istilah daerah
Istilah-istilah daerah dapat menghidupkan tulisan anda. Misal, penggunaan bahasa Jawa, bahasa Madura, Kalimantan, dan lain-lain.

Rumus menulis versi Akhmad Adiasta alias mas Dias:

ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

1. Amati : Cari keunggulan tulisan dan daya tarik serta kekurangannya.
2. Tiru : Ciptakan keunggulan dan rasa sama dari tulisan yang anda amati.
3. Modifikasi : Berikan sesuatu yang baru, munculkan karakter dan gaya anda.

Dalam mengarungi medan tulis-menulis, adakalanya permasalahan itu muncul. Bagaimana jika suatu ketika ide kita macet di tengah jalan? Maka hal tersebut dapat kita atasi dengan membuat kerangka tulisan (outline). Sehingga memudahkan kita untuk memfokuskan tulisan kita. Lalu bagaimana cara agar orang tertarik membaca tulisan kita? Maka awali ketertarikan tersebut dari judul. Pilihlah judul yang bombastis, yang dapat membuat penasaran pembaca, sehingga akhirnya mereka membaca tulisan kita. Pilih juga tema yang dirasa melibatkan pembaca. Dalam artian, pembaca seakan masuk dalam tulisan kita. Hal ini biasanya diterapkan dalam cerita pendek (cerpen). Kisah yang diceritakan dalam cerpen haruslah kisah yang banyak juga dialami oleh pembaca, sehingga pembaca merasa terlibat dalam cerita tersebut.

Untuk mengasah kemampuan menulis kita, maka penting juga bagi kita untuk bergabung dalam forum kepenulisan. Karena dengan forum tersebut, kita dapat saling bertukar pengalaman menulis dengan para penulis lainnya.

Tanamkan bahwa menulis adalah bagian dari hidup kita!
Apapun ide yang ada di dalam benak kita, tulislah!
Apapun kejadian yang kita alami, tuliskan!
Ubah dunia dengan tulisanmu!



*) Tulisan ini saya rangkum dari materi Training Kepenulisan “Mengubah Dunia dengan Pena”, yang diselenggarakan oleh BKLDK dan BDM Al-Hikmah UM, pada tanggal 28 Januari 2011 pukul 13.00 WIB di Aula Perpustakaan Pusat UM Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s