Ini Kisahku, Bukan Kisahmu, atau Kisah Kalian


“Baiklah bu, insyaallah saya akan balik ke Malang hari Sabtu pagi,” ucapku pada ibu, suatu siang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nganjuk. Ibuku terlihat lega, karena dapat berkumpul lebih lama denganku.

“Busyettt!!! Ini rumah sakit apa stasiun??” gumamku kaget saat melewati jajaran orang yang duduk menunggu antrian. Ibuku hanya tersenyum. Kami pun turut berbaur duduk di kursi yang masih kosong. Satu per satu orang mulai dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan, kemudian keluar dengan membawa obat atau resep dokter. Aku berusaha mengintip kegiatan yang terjadi di dalam ruangan. Namun, seorang bapak paruh baya segera menutup pintu rapat-rapat.

“Ada apa sih bu di dalam? tanyaku penasaran kepada ibu.

“Nanti juga kamu tahu,” jawab ibuku singkat.

“Rizki Amelia Kurniadewi!” panggil seorang bapak dari balik pintu ruangan berlabel “Poli Mata”. Aku pun bergegas masuk ruangan kecil tersebut dengan ditemani ibuku.

(Kisah selengkapnya dapat anda saksikan dengan menggunakan lorong waktu. Atur waktu pada tanggal 27 Januari 2011, pukul 11.00 WIB. Sekian dan terimakasih. Selamat mencoba! Semoga sukses! Bila sakit berlanjut, hubungi dokter di RSUD terdekat)

Bukan itu yang ingin kuceritakan!

Jadi, begini cerita sebenarnya…

Di luar rencanaku semula, ternyata hari Jumat pagi aku harus kembali ke Malang. Setelah mendapat ijin dari kedua orangtuaku, ayahku memesankan travel untukku. Jumat pagi pun aku berangkat ke Malang dengan naik mobil berwarna oranye bertuliskan Travel Pos. Bersama enam orang penumpang lainnya, aku siap dikirim ke Malang. Aku duduk di bangku paling belakang. Sendirian. Baguslah, tempat dudukku sangat luas membentang dari kanan ke kiri. Anggap saja mobil sendiri. Hehe…

Travel melaju dengan cepat. Pak sopir terlihat sangat handal mengemudikannya. Jalan sempit pun berhasil dilaluinya dengan sukses. Sepertinya rombongan kami akan sampai Malang lebih awal. Benar saja, baru pukul 8.00 WIB, travel telah menjajaki jalanan terjal Pujon.

Alunan lagu “Aku Dirimu” dari Nanda Nasyid pun mulai bernyanyi di telingaku. Menggambarkan perasaanku ingin cepat sampai di Malang. Namun, tiba-tiba, travel yang kutumpangi ini berhenti di tepi jurang. Sontak semua penumpang kaget dan bertanya-tanya, “Kok berhenti pak?”. Pak sopir pun menjawab, ”Macet.” Segera kumatikan MP3 di ponselku, dan kucopot headshet yang terpasang di telingaku. Aku mengamati kegelisahan pak sopir dan beberapa penumpang lainnya.

Aku pun teringat perdebatanku dengan ibuku beberapa hari lalu. Aku berusaha meyakinkan ibuku agar mengijinkanku menaiki motor ke Malang. Tapi tampaknya ibuku tak ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya, setelah beberapa bulan lalu aku berhasil kabur ke Malang dengan motor Mio.

“Jalanan ke Malang itu sepi dan melewati hutan. Bagaimana kalau tiba-tiba motormu macet di tengah jalan? Mau minta tolong siapa?” tutur ibuku.

“Sebelum berangkat saya akan memastikan semuanya baik-baik saja,” jawabku meyakinkan.

Namun, ibuku tetap tidak membolehkanku. Aku baru menyadari, setelah travel yang kutumpangi ini macet di tengah jalan. Di tepi jurang tepatnya. Tak terlihat satu pun rumah penduduk di sekitar sini. Hanya ada dinding batu di sebelah kanan dengan hutan di atasnya, dan jurang serta belukar di sebelah kiri. Ditambah sinyal ponsel yang sangat lemah. Lengkap sudah ketakutanku.

“Mau minta tolong siapa?” kata-kata ibuku terus menghantui benakku.

Tak lama kemudian, sopir travel yang handal itu pun berhasil menyelamatkan travelnya. Setelah sekitar lima belas menit menunggu, mesin yang macet itu dapat disembuhkan. Akhirnya perjalanan kami berlanjut hingga sampai di Malang dengan selamat. La hawla wala quwwata illa billah.

*********************

Kadang aku berpikir, orangtuaku sangat berlebihan menjagaku. Kadang aku berpikir, mereka tidak sayang padaku. Hingga tidak memberikan kebebasan padaku seperti anak-anak lainnya. Aku tak boleh ini, aku tak boleh itu. Sekarang aku sadar, bahwa mereka berbuat demikian karena khawatir padaku. Mereka sayang padaku. Buktinya, hingga detik ini aku masih diberikan kebebasan  untuk mengkaji Islam, memakai jilbab, ikut masyirah, serta kegiatan dakwah lainnya. Aku bersyukur diberikan orangtua yang sangat menyayangiku. Maka aku tak ingin mengecewakan mereka. Uhibbukum fillah…

Percayalah bu, saya akan tetap menaiki motor di Malang, walaupun itu motor pinjaman. Hehe… (bandel banget ni anak?)


[Zakiya El Karima]
29/1/11     6.58 a.m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s