Manfaatkan Kekuatan Media Massa, Belajar dari Sebuah Film


Sinopsis Film Changeling

Pada bulan Maret 1928, seorang ibu (single parent) yang bernama Christine Collins kehilangan anak semata wayangnya yang bernama Walter Collins. Walter hilang di rumahnya setelah ditinggal bekerja oleh Christine. Mengetahui anaknya hilang, Christine segera melaporkannya kepada polisi. Namun, polisi menolak untuk mengirimkan petugas ke rumah Christine. Polisi hanya mau menindaklanjuti kasus anak hilang setelah 24 jam hilang. Sebab, menurut kepolisian, kebanyakan anak hilang akan kembali keesokan harinya. Christine kecewa dengan keputusan kepolisian yang menolak untuk melakukan pencarian Walter sore itu juga.

Keesokan harinya, polisi mendatangi rumah Christine untuk menanyakan ciri-ciri anaknya yang hilang. Namun, hingga dua minggu berlalu, Walter belum juga ditemukan. Berita duka tersebut sampai juga kepada Pastur Gereja Presbyterian St. Paul, Gustav Briegleb. Dalam siaran radio di depan jamaat gerejanya, Gustav mengajak semua orang untuk turut mendoakan Christine. Gustav juga meyakinkan kepada jamaatnya bahwa kepolisian Los Angeles berstatus sebagai kepolisian terkejam, terkorup, dan berkinerja terburuk di Rocky Mountains.

20 Juli 1928, Kapten J.J. Jones dari Divisi Anak-anak Lincoln Park, menemui Christine di tempat kerjanya. Menurutnya, Walter ditemukan masih hidup di De Kalb, Illinois. Mendengar kabar tersebut, Christine pun menangis terharu karena senang. Christine kemudian diantar ke stasiun untuk bertemu dengan Walter. Banyak wartawan berkumpul untuk menyambut pertemuan dua ibu anak tersebut. Kepala Polisi, James E. Davis pun menyambut kedatangan Christine dan memberikan pernyataan positif kepada media tentang kinerja kepolisian yang telah berhasil menemukan anak hilang.

Namun, saat seorang anak yang disebut-sebut sebagai Walter turun dari kereta, Christine kaget. Anak tersebut ternyata bukanlah Walter. Kapten Jones berusaha meyakinkan Christine bahwa anak tersebut adalah Walter yang telah mengalami perubahan fisik karena hilang selama lima bulan. Christine masih tidak percaya. Dia yakin bahwa anak tersebut bukanlah Walter. Setelah diyakinkan berulang kali oleh Jones, akhirnya Christine pun mau menerima anak tersebut. Media segera memotret Christine dan Walter palsu tersebut, dan memberitakan keberhasilan penemuan anak hilang oleh kepolisian. Citra kepolisian pun terangkat.

Setelah beberapa hari tinggal dengan Walter palsu, Christine menemukan beberapa bukti bahwa anak tersebut bukan Walter. Diantaranya, anak tersebut telah disunat, padahal Walter belum sunat. Lalu Christine juga mengukur tinggi badannya dan ternyata selisih beberapa inchi lebih pendek dari tinggi Walter asli. Christine pun menggugat ke kepolisian. Namun, Kapten Jones justru menganggap Christine lari dari tanggungjawab sebagai seorang ibu karena tidak mengakui anaknya sendiri. Jones kemudian menugaskan dokter Tarr untuk meyakinkan Christine mengenai perubahan fisik Walter.

Christine tetap tidak percaya, hingga di suatu hari Pastur Gustav mengajak bertemu. Gustav meyakinkan Christine bagaimana kondisi buruk kepolisian yang dipenuhi kekerasan, penyiksaan, pembunuhan, korupsi, dan intimidasi. Gustav pun bersedia menolong Christine untuk melawan kepolisian. Akhirnya Christine mulai mengumpulkan bukti tertulis dari saksi-saksi yang meyakini bahwa anak itu bukan Walter. Karena tidak ada respon baik dari kepolisian, maka Christine pun membeberkan kesalahan penemuan anak tersebut kepada media.

Akibat ulah Christine ini, nama baik kepolisian terancam. Sehingga Jones pun menjebloskan Christine ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) kode 12, dengan tuduhan menderita paranoia, delusi, dan mengingkari kenyataan. Saat di RSJ, Christine bertemu Carol yang juga pasien kode 12 (kiriman polisi). Ternyata Carol adalah juga korban kepolisian, yang akhirnya dijebloskan ke dalam RSJ. Carol pun menceritakan banyak hal kepada Christine tentang ulah licik kepolisian Los Angeles.

Sementara itu, Lester menyelidiki anak hilang yang merupakan imigran gelap dari Kanada. Lester pun berhasil menemukan seorang anak bernama Sanford Clark di Ranch Northcott Wineville, kemudian membawanya ke kantor polisi. Sanford Clark inilah yang akhirnya memberitahukan keberadaan sepupunya, Gordon Stewart Northcott, yang merupakan pembunuh anak berantai. Clark menceritakan bagaimana Gordon menculik, menyekap, menyiksa, hingga membunuhi anak-anak. Ada sekitar 20 anak yang telah dibunuh oleh Gordon, dan menurut Clark, salah satu korbannya adalah Walter Collins.

Lester sangat kaget dengan penjelasan Clark. Dia pun segera menghubungi Kapten Jones untuk melaporkan bahwa Walter termasuk salah satu korban Gordon. Jones tetap tidak mempercayainya, dan menyuruh Lester untuk merahasiakan hal tersebut. Di saat yang sama, Gustav datang ke kantor polisi dengan membawa ratusan demonstran. Gustav memaksa Jones untuk memberitahukan keberadaan Christine.

Esoknya, Gustav dan rekan-rekannya mendatangi RSJ dan memaksa petugas RSJ untuk membebaskan Christine. Gustav memberikan surat kabar kepada dokter Steele. Surat kabar tersebut berisi berita bahwa Walter diduga termasuk korban pembunuhan Gordon. Dokter Steele kaget membaca berita tersebut, lalu menyuruh Christine untuk segera meninggalkan RSJ.

Di tempat terpisah, Lester mengajak Clark ke Ranch Northcott, untuk menunjukkan penguburan mayat anak-anak yang telah dibunuh oleh Gordon. Clark pun mulai menggali tanah dan terlihat banyak tulang di sana, serta sepatu kecil. Lester pun terkejut melihat hal itu. Dia tidak meragukan lagi kesaksian Clark mengenai Gordon. Maka Lester segera menetapkan Gordon sebagai buron. Sementara itu, Gordon datang ke rumah saudaranya, untuk menumpang mandi. Ketika Gordon mandi, saudaranya segera menghubungi polisi. Rumah itu pun dikepung polisi, dan Gordon berhasil ditangkap.

Gustav, Tn Hahn (pengacara Christine), serta Christine kembali ke RSJ untuk membebaskan semua pasien dengan kode 12. Christine telah mengetahui bahwa mereka hanyalah korban polisi yang sebenarnya tidak gila, sama seperti dirinya. Carol pun berterima kasih kepada Christine.

Walter palsu yang ternyata bernama asli Arthur, berhasil dipertemukan dengan ibu kandungnya. Polisi kembali mencari muka di hadapan media dengan mengekspose keberhasilannya mempertemukan anak hilang pada ibunya. Namun, tanpa diduga, Arthur mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa polisi lah yang salah karena mengatakan Arthur sebagai Walter Collins. Mendengar hal itu, Davis segera mendorongnya untuk masuk ke dalam kereta, sehingga media tidak sempat merekamnya.

Persidangan Gordon dan Kapten J.J. Jones dilaksanakan terpisah. Sebelum persidangan J.J. Jones dimulai, Christine menyempatkan diri untuk menyaksikan sidang Gordon. Di sanalah Christine berkenalan dengan Clay, seorang ibu yang juga kehilangan anaknya. Akhirnya pengadilan menyatakan membebas tugaskan Kapten Jones, dan mengganti Kepala Polisi James E. Davis. Sedangkan Gordon dipenjara selama 2 tahun untuk kemudian menjalani hukuman gantung.

Lima tahun kemudian sejak Gordon dihukum mati, Clay menghubungi Christine untuk memberitahukan bahwa anaknya, David, berhasil ditemukan polisi dalam keadaan hidup. Di depan Lester, David menceritakan kisahnya berhasil kabur dari Ranch Northcott, bersama lima orang temannya, dan salah satunya adalah Walter Collins. Namun, mereka berlima terpisah, dan hingga saat ini, tidak ada yang tahu keberadaan serta kondisi Walter. Christine berusaha tegar, dan berharap Walter masih hidup, sebagaimana David.

Analisis

Film ini menggambarkan bagaimana kepolisian berusaha membentuk citra positif mereka di tengah masyarakat melalui media massa. Setelah sebelumnya, kepolisian dikenal dengan kondisi buruk yang dipenuhi kekerasan, penyiksaan, pembunuhan, korupsi, dan intimidasi. Maka kepolisian pun melakukan pembohongan publik dengan ditemukannya seorang anak hilang. Polisi menyuruh seorang anak mengaku sebagai Walter dan memberitakan bahwa polisi telah berhasil menemukannya. Media pun segera mengekspose, dan publik terlanjur mempercayainya. Maka seorang ibu yang tidak terima atas pembohongan itu pun menggugat, dengan memberikan bukti-bukti kepalsuan tersebut kepada media massa. Merasa terancam, kepolisian pun tak segan menjebloskannya ke dalam Rumah Sakit Jiwa.

Satu hal yang ingin saya soroti di sini adalah kekuatan media massa sebagai penyampai informasi. Media massa menempati posisi strategis di tengah masyarakat. Sehingga media massa dapat menjatuhkan maupun mengangkat citra seseorang atau lembaga. Dengan posisi strategis media massa tersebut, masihkah kita tidak ingin memanfaatkan media massa ini sebagai wasilah dalam menyebarkan kebenaran Islam, serta membuka aib sistem busuk Kapitalisme ke tengah umat? Mari bergerak!

[Zakiya El Karima]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s