Cinta Berkawan dalam Satu Jalan Kebenaran


Suratan Tuhan kita di sini…
Menapaki cerita bersama…
Cinta berkawan karna sehati…
Dalam kasih Ilahi…
(edCoustic – Berkawan)

Jika aku ditanya, kapan masa ku merasakan cinta berkawan? Maka akan ku jawab masa SMA. Ya, di masa inilah awal ku menemukan kawan-kawan yang mengajariku mencinta dan membenci karena Allah. Kawan-kawan yang tak pernah kukenal sebelumnya, bahkan kadang aku merasa takut dengan mereka. Namun, ketika kami telah diikat dalam satu pemahaman Islam, maka rasa takut itupun hilang, tergantikan oleh rasa sayang karena ikatan satu akidah. Subhanallah!

Five Fighter! Kawan, kini kita telah terpisah. Tersebar di seluruh pelosok negeri, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Akhirnya aku merasakan juga perpisahan itu. Tak enak memang, dan tentunya tak pernah kuharapkan. Tapi itulah takdir-Nya. Sebuah pertemuan akan selalu berujung pada perpisahan. Namun, hanya pertemuan dan perpisahan karena Allah lah yang berbuah manisnya surga. Sungguh nikmat karunia Allah!

Sekarang aku telah menjadi anak rantau, jauh dari orang tua. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, ketika aku harus menjalani hari-hariku dengan tidak bersama orang tua. Bapak yang selalu mengantarkanku ke sekolah. Ibu yang menyiapkan seragam dan sarapanku. Serta mas (kakak laki-laki) yang sering bertengkar denganku. Aku pasti sangat merindukan saat-saat itu. TK, SD, SMP, SMA, telah kulalui dengan sempurna. Kini, masa itu pun datang, kampus, mahasiswa, kuliah.

Di sebuah kota rantau yang dingin, aku mencoba menghangatkan diriku bersama kawan-kawan baru di kontrakan Islami. Mereka berbeda karakter. Tapi kami bisa hidup bersama hingga hari ini. Inilah cinta berkawan yang sangat luar biasa yang pernah kurasakan!

Hidup adalah pilihan. Benar, dan inilah jalan yang telah kupilih untuk kujalani. Bukan tak berhalang, tapi resiko yang menghadang harus kuhadapi. Jalan ini hanya ada dua pilihan, kebenaran atau kebathilan. Aku tak bisa memilih dua jalan sekaligus. Karena masing-masing jalan tersebut punya tujuan yang berbeda, ujungnya tak sama. Satu berujung surga, sedangkan satu yang lain berujung neraka. Tak dapat disatukan.

Maka kuputuskan untuk tetap berjalan di jalan semula. Walaupun tak lagi bersama kawan-kawan yang pernah kukenal. Aku yakin mereka semua juga masih bertahan di satu jalan kebenaran ini. Ingatlah bahwa jalan ini satu, dan berujung pada tujuan yang satu. Selama kita masih berjalan pada satu jalan, walaupun tak berjalan bersama, tapi aku yakin kita akan dipertemukan lagi di penghujung jalan ini, yaitu surga-Nya.

Jalan hidup tak akan pernah lurus…
Pasti ada salah lewati segalanya…
Tapi Tuhan tak pernah berhenti…
Membuka jendela maaf untuk kita…
(edCoustic – Jalan masih panjang)

“Ah, nikmati saja dulu masa mudamu,” celetuk salah seorang kawan di jalan yang berseberangan.

Salah besar jika kau pikir aku tidak menikmati masa mudaku saat ini. Aku justru sangat menikmatinya. Mungkin kau masih melihat kenikmatan dari sudut pandang Kapitalisme, di mana sebuah kenikmatan hanya diukur dari kesenangan yang didapat. Padahal, kenikmatan seorang Muslim jauh lebih mulia dari pada itu. Kenikmatan Muslim diukur dari keridhaan yang diberikan Allah kepadanya. Ingatlah kawan, masa muda itu mungkin, tapi mati itu pasti! Maka persiapkan dirimu menghadapi sesuatu yang pasti.

 

[Zakiya El Karima]
16/01/11      6.41 am

2 thoughts on “Cinta Berkawan dalam Satu Jalan Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s