Dari Dies Natalis Menuju Perubahan Kampus


5 Januari merupakan hari libur lokal bagi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang. Walaupun tanggal tersebut tidak tercetak merah di kalender, namun sudah menjadi “adat” dari tahun ke tahun menjadikan tanggal tersebut sebagai cuti bersama mahasiswa UB. Pasalnya, pada tanggal tersebut kampusku berulang-tahun. Praktis, segala kegiatan perkuliahan tidak aktif, karena seluruh pejabat dan pegawai kampus harus melakukan “ritual” upacara bersama.

Teringat dua tahun lalu, saat dies natalis UB ke-46, tepatnya tahun 2009. Mungkin hari itu menjadi hari yang sangat istimewa bagi UB, karena bertepatan dengan kunjungan orang nomor wahid di negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang lebih sering dikenal dengan panggilan SBY. Berbagai persiapan pun dilakukan oleh para pejabat kampusku, demi memberikan sambutan terbaik bagi sang tuan. Dan aku berada di antara mereka.

Sehari sebelum kedatangan SBY, kampus di-sterilkan, rektorat dikosongkan, dan mahasiswa diliburkan. Tidak cukup itu, gosipnya regu bersenjata juga telah disiapkan untuk menjaga keamanan presiden. Aku sampai merinding saat berjalan-jalan di kampusku kala itu. Suasana sepi dan mencekam. Ke-parno-anku pun muncul, dan membayangkan banyak mata yang mengintaiku dari balik gedung-gedung kosong yang ku lewati.

“Maaf mbak, hari ini kampus disterilkan, tidak ada yang boleh masuk kampus,” hadang seorang berseragam tentara.

“Tapi saya mau gladi bersih untuk acara besok, Pak!” belaku.

“Oh, kalau begitu silakan masuk dengan meninggalkan KTM di sini,” ujarnya sambil meminta KTM ku.

Aku pun masuk dan berjalan di sepanjang trotoar teknik. Tampak beberapa gerombolan tentara bersenjata di sudut-sudut jalan yang mengawasi dan menanyaiku. Aku sangat merasakan kegelisahan mereka, ketika melihatku dengan pakaian yang sering mereka identikkan sebagai teroris. Namun, aku tak peduli dan tetap berjalan menuju Samanta Krida (Sakri) untuk mengikuti gladi bersih acara orasi ilmiah SBY esok hari.

Aku tak habis pikir, kenapa pengamanan untuk seorang presiden saja begitu ketatnya? Sampai menghambat beberapa mahasiswa yang akan mengerjakan tugas di kampus. Hal ini menunjukkan ketakutan seorang pemimpin di tengah rakyatnya sendiri. Aneh kan? Seperti ada sekat tebal yang memisahkan presiden dari rakyatnya. Pantas saja rakyatnya juga tidak pernah merasa aman di bawah kepemimpinannya. Menurutku sih begitu. Padahal seorang Khalifah saja rela menyamar sebagai orang biasa, demi mendekati rakyatnya, untuk menyaksikan secara langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya. Kontras!

Hari istimewa itu pun tiba. Semua gerbang kampus ditutup kecuali gerbang FE, sehingga memaksaku berjalan lebih jauh untuk memasuki kampus. Proses masuk pun dilakukan dengan sangat ketat. Hanya orang-orang yang membawa undangan yang diijinkan masuk ke kampus. Aku pun sampai di Sakri. Untuk masuk gedung itupun semua orang harus melewati alat detektor logam. Superketat!

Di dalam ruangan telah dipenuhi orang-orang ber-jas dan berdasi. Tak lama kemudian, presiden SBY datang. Seluruh orang berdiri untuk menyambutnya. Aku pun berusaha naik ke tempat yang lebih tinggi agar dapat melihat sosok pemimpin tersebut. Tampak SBY dan istrinya berjalan menuju podium dengan dikepung oleh tentara bersenjata, kemudian di belakangnya berjajar barisan para menteri.

Orasi pun dimulai. SBY berdiri di depan peserta, dan menyampaikan orasi dengan gayanya yang khas. Demi mendengar secara jelas orasi tersebut, aku pun berpindah duduk di ruangan tempat duduk atas paling depan. Beberapa wartawan pun bergerombol di depan, untuk meliput dan merekam orasi presiden. Tak sengaja pandanganku tertuju pada ruangan tempat duduk di seberang tempatku duduk, yang tak seorangpun duduk di sana. Ruangan tersebut tertutup tirai. Karena penasaran, aku tetap mengamatinya. Hingga tak sengaja mataku menemukan sesuatu yang bergerak-gerak di dalam ruangan tersebut. Rupanya, ruangan itu sengaja dikosongkan dari peserta, karena digunakan sebagai tempat para tentara berjaga dengan senapannya. Masyaallah! Aku pun mulai parno lagi.

Selembar kertas dan ballpoint telah berada di tanganku. Aku tak ingin melewatkan orasi ilmiah ini, sehingga kucatat hal-hal penting yang kudengar. Setelah beberapa menit kudengarkan orasi tersebut, keningku mulai berkerut. Kuhentikan menulis. Kusandarkan punggungku pada kursi.

“Ini orasi apa kampanye sih?” batinku.

“Kampanye banget ya!” ungkap beberapa orang di sebelahku sambil tertawa lepas.

Saat itu memang sedang musim kampanye menjelang pilpres 2009. Dan ternyata, SBY pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut untuk berkampanye di depan para petinggi kampusku. Walah………….

*****

Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 6 Januari 2011, sehari setelah dies natalis UB ke-48. Ketika aku berjalan di depan perpustakaan kampus, kulihat spanduk besar terpasang. Spanduk bertuliskan kata-kata bijak (kalo tidak salah bunyinya seperti ini), “Memadukan Langkah Untuk Mewujudkan UB Menjadi World Class Entrepreneur University. Akhirnya ketahuan juga bahwa kampusku sedang menuju World Class University (WCU). Sepengetahuanku, inilah spanduk pertama yang menyerukan WCU secara terang-terangan di tengah kampus. Namun, tahukah kalian? Para pengemban ideologi Islam yang tergabung dalam Divisi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Chapter Kampus UB, telah menyerukan hal ini jauh sebelum tertempelnya spanduk tersebut. Subhanallah!

Tepat! Setelah seminar WCU berhasil terlaksana dengan sukses pada 20 Desember 2010, para pengemban ideologi tersebut melanjutkan dengan acara temu aktivis kampus pada tanggal 8 Januari 2011. Masih dengan pembahasan yang sama, yaitu tentang WCU. Hanya orang-orang yang merindukan perubahan lah yang bersedia hadir dalam forum ini. Benar saja! Walaupun banyak lembaga-lembaga kampus yang diundang, hanya beberapa perwakilan saja yang berkenan hadir. Sedangkan yang lain, aku tak tahu apa alasan mereka tak datang.

“Keinginan UB menjadi WCU bagaikan angan-angan tinggi. Kampus ini masih perlu banyak perbaikan dari segi fasilitas, dosen, maupun mahasiswanya,” ungkap seorang perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).

“Tidak ada salahnya jika UB menjadikan WCU sebagai standar. Tapi jika harus Barat yang dijadikan standar WCU ini, saya tidak sepakat. Karena kita orang Islam, maka seharusnya kita berkiblat pada Islam, bukan Barat. Mungkin ke depan kita bisa menciptakan WCU Islam,” papar seorang aktivis Kerohanian Islam.

“Saya heran, Indonesia ini dihuni oleh mayoritas Muslim, tapi kenapa aturan yang diterapkan justru bukan aturan Islam?” tanya perwakilan dari LPM.

Hal itu kemudian dijawab oleh salah satu perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), “Itu disebabkan karena orang-orang yang sadar hanyalah sedikit. Kita bisa lihat dari jumlah keseluruhan mahasiswa UB, hanya beberapa orang saja yang hadir di dalam forum ini.”

Maka, benarlah apa yang disampaikan dalam sebuah buku yang berjudul “Reformasi vs Revolusi”, bahwa manusia tidak akan berpikir untuk melakukan perubahan kecuali jika dia memahami bahwa dalam kehidupannya terdapat realita yang rusak atau buruk, atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Perubahan memerlukan kesadaran intelektual (al-wa’yu al-fikriy), yang meliputi kesadaran realita (kondisi) yang dijalani dan kesadaran realita pengganti.

Aktivitas untuk melakukan perubahan ini sangat sulit, sehingga menuntut kerja keras dan pengorbanan yang amat besar. Tidak sembarang orang bisa melakukan perubahan kecuali orang yang kuat dan berjiwa besar saja, dan memiliki pemikiran cemerlang serta penginderaan yang tajam atau peka. Perubahan tidak akan diterima oleh orang-orang yang tolol, pemalas, dan lemah akalnya. Mari menjadi mahasiswa agen perubahan revolusioner!

Wallahua’lam bish showab.

 

[Zakiya El Karima]

Selesai pada 11 Januari 2011 pukul 7.25 am, di kamar kontrakan Fastabiqul Khairat, saat lagu Demi Masa-nya Raihan berkumandang di headphone. Beberapa menit sebelum akhirnya listrik padam dan laptopku tewas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s