PRAGMATIS : Kapitalisme Membunuh Idealismeku


**********
Matahari bersemangat menampakkan sinarnya ke bumi. Di tengah teriknya udara kota Malang siang itu, tampak puluhan mahasiswa berdiri di jalan, membawa spanduk dan bendera, sambil mengangkat kepalan tangan kirinya. Para aktivis mahasiswa itu pun meneriakkan yel-yel dengan kompak.

“Tolak… Tolak… Tolak BHP… Tolak BHP sekarang juga…!!!”, suara gaduh mahasiswa terdengar merdu di depan gedung Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Malang.

Gedung yang awalnya sepi tersebut mendadak ramai oleh teriakan demo dari puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Eksekutif Mahasiswa se-Malang Raya.

“Saudara-saudaraku mahasiswa, sebentar lagi kampus kita akan di-BHP. Itu artinya, negara berlepas tangan dari pembiayaan pendidikan tinggi. Biaya sepenuhnya akan diserahkan kepada swasta, saudara-saudara! Sehingga kampus kita tidak ada bedanya dengan perusahaan-perusahaan besar. Yang apabila terjadi pailit, maka kampus kita tercinta akan mengalami yang namanya gulung tikar alias bangkrut, saudara-saudara! …”, dengan semangat berkobar seorang mahasiswa lantang meneriakkan orasi di depan para demonstran lainnya.
——————————————
Namaku Pandu Pamungkas. Mahasiswa Fakultas Hukum pada salah satu kampus negeri di kota Malang. Ini adalah gambaran kegiatanku selama menjadi aktivis mahasiswa. Jalanan menjadi kampus keduaku. Aksi demo, orasi, mengkritisi kebijakan pemerintah, yang menurutku sering menyengsarakan rakyat. Kenapa aku memilih jalan ini? Karena aku adalah mahasiswa, intelektual yang dicetak untuk memberikan perubahan kepada rakyat. Mahasiswa adalah agent of change. Inilah jalan hidupku.
——————————————
“Kriiiiiiing….. Kriiiiiiing………….,” suara ponsel berdering.
“Hallo!”, jawab Pandu dengan nada bangun tidur.
“Hai! Gimana kabar loe? Sibuk apa sekarang?”, suara pemuda seumuran Pandu menjawab dari seberang.
“Hah? Siapa nih?”, masih dengan nada ngantuk.
“Ya ela, baru tiga bulan lulus aja udah sombong loe boy! Ini gue Farid! Teman seperguruan di FH dulu. Masih ingat kan?”
“Oh, Farid Ardiansyah? Iya iya aku ingat. Farid si Wapres itu kan?”
“Masih ingat aja nih pak menteri KP! (tertawa) Gimana kabarnya? Sibuk apa sekarang?”
“Kabar alhamdulillah baik. Sampai sekarang aku masih di rumah aja, belum kerja. Kamu sekarang dimana, Rid?”
“Aku sih udah kerja boy. Di salah satu LSM Hukum di Jakarta. Loe udah coba melamar kerja kan boy?”
“Wah, selamat ya kamu udah dapat kerja. Aku masih cari-cari kerja nih. Iya ya, ga terasa udah jadi pengangguran selama tiga bulan. Harus banyak istighfar nih kayaknya.” (tertawa)
(tertawa) “Tobat boy! Anak istri mau loe kasih makan apa? Ya udah ya boy. Good luck aja!”
(telepon ditutup) Tut!

Pandu termenung menatap foto-foto wisudanya di dinding kamar. Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh, membuyarkan lamunan Pandu.

Klontanggggggggg………………..”
“Pandu……………….!!!!”, suara ibu dari arah dapur.
Inggih bu, wonten nopo?”, Pandu menghadap ibunya.
“Sampe kapan dirimu arep dadi pengangguran terus, Le?, tanya ibunya dengan sedikit marah.
Inggih bu, insyaallah mbenjing kulo badhe golek kerjo datheng Jakarta.”

**********
Keesokan harinya Pandu pun telah tampak bersiap dengan semangatnya. Dengan membawa tas ransel warna hitam yang berisi surat-surat untuk melamar kerja, dan baju ganti, Pandu bersiap untuk berangkat mencari kerja. Sebelum berangkat, dia tidak lupa berpamitan dan memohon restu kepada ibunya.

Sing ati-ati yo Le! Ibu cuma iso nggawani duit sak mene,” kata ibunya sambil memberikan 2 lembar uang seratus ribuan.
Inggih Bu, mboten nopo-nopo,” jawab Pandu sambil memasukkan uang tersebut ke dalam dompetnya.

Pandu meninggalkan rumahnya sambil melambaikan tangan kepada ibunya, dan menaiki angkot yang membawanya ke stasiun. Beberapa saat kemudian, Pandu pun sampai di stasiun.

“Mau kemana mas?”, tanya seorang laki-laki tua yang tiba-tiba ada di belakang Pandu.
“Eh, mau ke Jakarta pak,” jawab Pandu dengan kaget.
“Mau cari kerja ya?”, tanyanya.
“Loh, kok tau?”, Pandu balik bertanya sambil keheranan.
(tersenyum) “Hati-hati di Jakarta, banyak pekerjaan jahat yang terlihat baik. Jadi, lihatlah suatu pekerjaan dengan hati nuranimu,” pesan bapak tersebut sambil menepuk pundak Pandu dan berlalu.

Mendengar nasehat dari bapak tak dikenal tersebut, Pandu hanya diam dan bertanya-tanya. Namun, di tengah rasa penasarannya itu, kereta pun tiba. Pandu segera naik ke dalam gerbong 7, dan berbaur dengan puluhan penumpang lainnya.

**********
Setelah menempuh perjalanan hampir seharian, akhirnya Pandu sampai di kota Metropolitan, Jakarta. Kota yang penuh dengan kesibukan dan kemacetan.

Di sebuah masjid, Pandu beristirahat dan membersihkan diri. Kemudian Pandu mulai mendatangi gedung demi gedung untuk melamar pekerjaan. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun perusahaan yang membutuhkan tenaga Pandu. Dari pagi hingga siang Pandu berjalan, rasa lapar pun menyerang. Hingga akhirnya Pandu memutuskan untuk singgah di sebuah warung kecil di pinggir jalan raya.

“Bu, nasi campur 1 sama es teh,” pesannya sambil duduk, menaruh tas ranselnya, dan menyandarkan punggungnya pada tembok.

Setelah selesai makan, Pandu masih duduk dalam posisi yang sama. Dia sedang memikirkan ke mana lagi harus mencari pekerjaan. Di tengah perenungannya itu, ada suara berisik dari jalanan di seberang warung tempatnya makan. Pandu mengintip dari jendela warung, tampak puluhan orang yang sedang berdemo di depan pabrik sepatu. Pandu segera membayar uang makannya, dan bergegas mendatangi demo tersebut. Pandu pun menghampiri salah satu demoranstran.

“Ada apa ini pak?”, tanyanya.
“Kami buruh pabrik sepatu ini mas. Kami menuntut dikembalikannya pekerjaan kami, karena tiba-tiba saja kami semua di-PHK,” jawab bapak tersebut.
“Apa alasan mereka memecat bapak?”
“Dengar-dengar sih, banyaknya produk Cina yang masuk ke Indonesia, menyebabkan boss kami menutup pabriknya, dan beralih menjadi pedagang. Sehingga semua buruh di pabrik ini diberhentikan,” jelasnya.
“ACFTA,” bisik Pandu pelan.

Rupanya keterangan dari salah satu demonstran itu, menggerakkan jiwa keaktivisan Pandu untuk memperjuangkan keadilan. Pandu pun berjalan dengan tegap memasuki pabrik sepatu tersebut. Walaupun sempat dihadang oleh petugas keamanan, tapi akhirnya dia bisa meyakinkan orang-orang yang ada di situ, sehingga diperbolehkan masuk. Di dalam pabrik, Pandu menemui boss dari pabrik sepatu tersebut.

“Maaf pak, saya memang bukan siapa-siapa di sini. Saya bukan buruh, saya hanya orang yang kebetulan lewat dan melihat para buruh berdemo. Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak. Tega sekali bapak memecat mereka? Mereka punya keluarga pak. Dan satu-satunya sumber penghasilan mereka adalah dari pabrik sepatu ini. Jika bapak memecat mereka, lantas dari mana lagi mereka bisa mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga mereka?”, Pandu mengeluh di depan boss pabrik.

“Anak muda, ini adalah keputusan perusahaan. Kamu tidak berhak mengatur saya. Jadi, sekarang juga silakan keluar dari ruangan saya!”, bentak laki-laki berkacamata tersebut.

Pandu pun digelandang keluar oleh petugas keamanan. Pandu hanya bisa pasrah, tidak dapat melakukan apa-apa.

“Oh, masalah apa lagi ini?! Negeri yang penuh masalah!”, teriaknya dengan emosi sambil berjalan meninggalkan kerumunan demonstran.
Kemudian Pandu menapaki jalan di sepanjang trotoar, menengok kanan kiri, mencari tulisan “Lowongan Kerja”. Nihil. Tak ada satu pun perusahaan yang ramah padanya. Sampai malam pun datang. Pandu tidak tahu lagi di mana dia harus menginap. Uang dua ratus ribu yang diberikan ibunya mulai menipis.

“Bagaimana jika sampai besok aku belum mendapatkan pekerjaan?”, tanyanya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Pandu teringat pada salah satu kenalannya di Jakarta, Beni. Pandu pernah mengenalnya saat aksi hari Korupsi di bundaran HI Jakarta, tahun lalu. Saat itu ribuan mahasiswa dari seluruh pelosok negeri ini berkumpul untuk melakukan aksi.

Segera Pandu mengambil ponsel dari sakunya. Dicarinya nama Beni dalam kontak teleponnya.

“Ketemu! Beni – Jakarta.”

Dengan lincah jari-jari Pandu mulai mengetik pesan singkat :
Beni, ini Pandu Pamungkas dari Malang. Kita dulu pernah bertemu pas aksi hari korupsi di Bundaran HI. Masihkah kau mengingatku?
Lalu dikirimlah pesan singkat tersebut ke nomor Beni. Tak lama kemudian, Beni menelepon Pandu. Mereka pun tampak bercakap-cakap lewat telepon.

Singkat cerita, Pandu memutuskan untuk tinggal sementara di tempat Beni. Malam itu juga, Beni menjemput Pandu di kawasan Monas. Lalu mereka pun berboncengan motor menuju rumah kos Beni. Sekitar 15 menit kemudian, mereka pun sampai.

Setelah banyak mengobrol, baru diketahui bahwa ternyata Beni yang masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Politik ini, merupakan aktivis Nasionalis di salah satu LSM. Pandu pun tidak sungkan menceritakan kepada Beni tentang pengalamannya seharian mencari kerja di kota Jakarta.

“Wah, kamu salah kalau mencari kerja di Jakarta. Ini adalah kota yang keras. Orang mau makan aja harus banting tulang dulu. Lapangan kerja di Jakarta mah sudah dipenuhi oleh para koruptor!”, ungkap Beni sambil tertawa.

“Kalau kamu terus menjadi orang baik, jangan harap kamu bisa bertahan hidup di kota ini. Kota ini sudah kotor, teman! Jadi jangan sungkan lagi untuk menambah kekotorannya,” imbuh Beni meyakinkan sambil menepuk pundak Pandu. Pandu hanya terdiam mendengar kata-kata temannya.

[bersambung sewaktu-waktu]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s