Hilangnya Ruang Terbuka Hijau di Kampusku


Malang- Mahasiswa jurusan Biologi Universitas Brawijaya (UB) demo menolak pembangunan gedung FIB tujuh lantai di area Ruang Terbuka HIjau (RTH), Jumat (8/10). Adanya gedung baru itu, otomatis menghilangkan RTH seluas 400 m2. Pembangunan tersebut mengancam keberadaan laboratorium biologi dasar (lab. Biodas) yang merupakan laboratorium terbuka berisi berbagai tanaman-tanaman endemik Indonesia. Dalam pembangunannya, beberapa orang pekerja proyek merusak sejumlah tanaman yang ada di lab tersebut.

Padahal selain berfungsi sebagai tempat praktikum, lab biodas juga termasuk RTH yang berfungsi untuk menyerap air hujan, penghasil oksigen, serta menjaga ekosistem. Pembangunan gedung ini dinilai telah melanggar Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mengatur bahwa setiap gedung bangunan harus memiliki RTH minimal 30 persen.

ANALISIS :

Kenapa bisa terjadi??

Praktik penebangan pohon di area Ruang Terbuka Hijau (RTH) ini bukanlah kasus pertama yang terjadi di kampus UB. Sebelumnya, pohon-pohon lebat yang ada di depan lapangan rektorat juga telah dibabat habis dan disulap menjadi bundaran UB. Kalau dipikir, apa sih fungsi dari bundaran tersebut?? Buat background foto-foto. Mempercantik kampus, tapi membuatnya semakin panas. Bila dibandingkan dengan pohon-pohon yang dulu berjajar membentuk taman rindang itu, menurut saya itu sangat jauh lebih bermanfaat daripada sekedar bundaran UB.

Beberapa waktu kemudian, pohon-pohon di dekat stadion UB juga ditebangi untuk pembangunan gedung FISIP tercinta.  Pohon-pohon kayu pun harus rela tergantikan oleh pohon-pohon besi dan beton alias bangunan yang tinggi menjulang. Selain itu, ternyata pohon-pohon hijau yang ada di dekat FK juga digunduli untuk dibangun gazebo. Bagaimana tidak panas?

Terakhir, yang baru-baru ini sedang terjadi adalah penghilangan RTH di kawasan jurusan Biologi. RTH seluas 400 m2 yang merupakan laboratorium biologi dasar yang berisi berbagai tanaman-tanaman endemik Indonesia itu dialih fungsikan untuk pembangunan gedung FIB. Pantas saja setiap hujan, UB selalu banjir. Karena pepohonan yang menyerap air hujan telah dibabat habis.

Jika ditelusuri, hal ini tidak lepas dari status UB sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Sejak dibatalkannya UU BHP, UB mendeklarasikan dirinya sebagai kampus BLU. Sama statusnya dengan beberapa kampus elit di Indonesia, seperti ITS, IPB, dan lain-lain. Negara mengurangi subsidi bagi pendidikan tinggi. Dengan kata lain, UB telah diswastanisasi, tidak lagi dibiayai oleh Negara, tapi dibiayai oleh swasta. Sehingga kampus harus mencari dana sendiri (secara mandiri) untuk mampu “bertahan hidup”. Salah satunya adalah dengan menaikkan uang gedung atau SPP mahasiswa. Salah duanya adalah dengan menerapkan kebijakan stiker parkir, dengan membayar Rp. 50.000,- per semester untuk sepeda motor, dan Rp. 100.000,- per semester untuk mobil. Pembangunan RS Brawijaya, ruko UB, yang sempat diwarnai kontroversi karena dinilai tidak mengantongi ijin. Penerimaan maba pun juga sarat kepentingan. Mulai tahun ini, jalur PSB dan SNMPTN diperkecil porsinya. Sedangkan jalur-jalur yang menggunakan uang, seperti SPMK, dan lain-lain, justru diperbesar. Melihat realitas ini, beberapa orang tua mahasiswa pun turut berpendapat, “Apa bedanya kampus negeri dengan kampus swasta? Jika ternyata malah lebih mahal kampus negeri. Kalau begitu mending di kampus swasta saja, lebih murah dan fasilitasnya lebih lengkap dan bagus.”

Lalu apakah ada hubungannya dengan penebangan pohon?? Jelas. Dengan status BLU sekaligus Entrepreneurship University (EU) yang disandang UB, maka ke depannya UB akan dijadikan sebagai kampus pariwisata. Hal inilah yang menyebabkan pohon-pohon ditebangi, dan dialih fungsikan sebagai taman-taman maupun gedung-gedung bertingkat. Pendidikan dikomersilkan.

Jika ditengok ke atas lagi, ternyata kebijakan semacam ini tidak bisa lepas pula dari sistem yang diterapkan di Negara Indonesia saat ini. Kapitalisme, yang menilai segala sesuatu dengan materi. Sehingga orientasi sistem ini adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya berupa materi. Maka tak heran jika segala aspek kehidupan (politik, sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dll) sangat kental dengan kapital. Mengerucut pada sistem pendidikan. Pendidikan kita hari ini sedang diprivatisasi. Pendidikan yang harusnya ditanggung oleh Negara, kini telah dikuasai oleh swasta. Pendidikan semakin mahal. Korbannya (lagi-lagi) adalah orang-orang miskin yang tidak berduit.

Pendidikan yang mahal ini ternyata dibarengi dengan sikap apatis mahasiswa. Kurikulum pendidikan saat ini lebih dipadatkan, sehingga mahasiswa tidak sempat mengikuti kegiatan organisasi. Akibatnya, mahasiswa tidak mau tahu terhadap lingkungannya. Mereka lebih disibukkan dengan tugas kuliah. Itulah kenapa banyak juga diantara kita yang (mungkin) sampai saat ini tidak tahu tentang isu penghilangan RTH. Kemudian juga, kenapa yang melakukan aksi hanya mahasiswa dari HIMABIO yang jumlahnya tidak seberapa? Padahal kalau misal BEM FMIPA atau EM UB yang menuntut ke rektorat, pasti kekuatannya akan lebih besar. Namun, itu tidak terjadi. Kenapa? Sekali lagi ini membuktikan bahwa mahasiswa hari ini telah teracuni oleh virus apatis. Sampai kapan kita tidak peduli dengan lingkungan kampus kita? Apakah menunggu sampai kampus ini tenggelam, baru kita akan meneriakkan konservasi pohon??

[Zakiya El Karima]

3 thoughts on “Hilangnya Ruang Terbuka Hijau di Kampusku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s