Karnaval Momen yang Merugikan ??


**********
Saat ini kita telah memasuki bulan Agustus. Bulan yang selalu identik dengan perayaan. Ya, karena di bulan ini terdapat satu momen yang ‘dikultuskan’ oleh sebagian besar warga Indonesia. Apalagi kalau bukan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di mana-mana kita akan mudah menemukan keramaian untuk menyambut hari kemerdekaan ini. Rasanya selalu ada yang kurang jika belum menyaksikan atau bahkan mengikuti lomba tujuh belas agustusan. Perayaan terbesar di setiap kota biasanya adalah karnaval, atau apalah orang menyebutnya, pawai, bazar, dan lain-lain.

Beberapa waktu yang lalu, jalan Dhoho Kediri ditutup. Bagi pendatang seperti saya pasti akan kebingungan, karena satu-satunya jalan yang dihafal baru itu. Kalau jalan tersebut ditutup, lantas saya harus lewat mana? Saya pun ngomel dalam hati. “Siapa sih yang mau lewat? Sampai jalannya harus ditutup.” Namun, tak lama kemudian saya menemukan jawabannya. Pawai anak-anak menyambut hari kemerdekaan. Hmmm………

Beberapa waktu kemudian ketika saya pulang ke Nganjuk, lagi-lagi saya dilarang keluar rumah gara-gara jalannya ditutup. Ada apakah gerangan? Ternyata sama saja, karnaval. Namun, kali ini saya tidak ngomel, tapi justru ikut menonton. Loh?

Start karnaval dimulai di depan Stadion Anjuk Ladang. Separo jalan telah dipenuhi oleh para peserta karnaval. Mobil-mobil yang dihias, orang-orang yang didandani beraneka ragam, dan yang paling menarik perhatian saya, peserta perempuan dalam karnaval tersebut hampir semua dirias dengan mengenakan pakaian adat jawa alias kemben.

Kenapa mereka rela didandani seperti itu? Apa mereka tidak malu? “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya,” teriak seorang narator karnaval mengiringi tema Batik yang diusung oleh salah satu peserta karnaval. Oh, mungkin itu alasan mereka. Tapi, kalau saya pikir lagi, kita itu kan manusia yang beradab, manusia yang dikaruniai akal untuk berpikir. Lantas, apakah tidak ada sedikit pun rasa malu, ketika kita disuruh memakai baju yang menampakkan sebagian tubuh kita (baca: aurat) di depan ratusan khalayak? Lagipula, Allah juga telah memerintahkan kita untuk menutup aurat kan? Itulah sebabnya saya menyebut karnaval ini tidak lain hanyalah sebagai ‘ajang umbar aurat’.

Kembali saya terpikir, kira-kira berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan untuk menyelenggarakan karnaval ini? Jutaan pastinya. Padahal di sekitar area tersebut juga masih tampak orang dengan pakaian kumuh yang duduk di jalan dan meminta-minta. Betapa ironisnya. Seorang pengemis disuguhi pertunjukan ‘uang yang dihamburkan’. Jumlah uang yang didapatkan oleh pengemis pun sangat jauh lebih minim jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk karnaval. “Nanti kalau saya memberi uang, saya takut kena undang-undang yang katanya dilarang memberikan uang pada pengemis.” Itukah alasan anda? Susah juga.

Perlu diketahui pula, karnaval yang berlangsung di Nganjuk pada Sabtu (7/8) lalu, dimulai pukul 14.00 wib. Ketika saya meninggalkan area pertunjukan tersebut, waktu telah menunjukkan pukul 15.00 wib, sedangkan baru empat peserta yang diberangkatkan. Satu jam baru empat peserta yang tampil. Padahal masih ada puluhan antrian peserta dibelakang. Kira-kira karnaval ini akan selesai jam berapa ya? Sudah bisa ditebak, karnaval ini akan berakhir hingga maghrib. Apa yang anda pikirkan? Apakah sama dengan pikiran saya? Kalau saya berpikir, berarti para peserta dan penonton setia karnaval tersebut insyaallah telah meninggalkan sholat ashar.

Dengan melihat realita yang ada, apakah kita masih layak mempertahankan budaya ini? Budaya menampakkan aurat yang bertentangan dengan aturan Ilahi. Budaya boros yang (seharusnya) tidak pantas dilakukan oleh Negara miskin (seperti Indonesia). Budaya meninggalkan kewajiban sholat yang tidak patut dikerjakan oleh orang-orang yang tinggal di Negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Lalu, siapakah yang salah? Siapakah yang layak saya omeli? Siapakah oh siapakah? Tidak lain adalah sistem Kapitalisme yang diterapkan di Negara ini, serta orang-orang yang masih tetap istiqamah memperjuangkan sistem korup tersebut.

[Zakiya El Karima]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s