Dahsyatnya Kekuatan Ruhiyah


Tidak pernah terpikir, bahkan tidak logis mungkin. Seorang rela meninggalkan kesenangan dunia, dan (katanya) hanya untuk mencari bekal akhirat. Seluruh harta, tenaga, pikiran, dan waktu yang dimilikinya dihabiskan untuk sesuatu yang hasilnya tidak tampak sekarang. Apa itu? Pahala, ridha Allah, surga. “Ah, mimpi aja tuh! Melakukan sesuatu yang sia-sia itu,” pikirku dulu.

Di jaman Kapitalisme gini, apa bisa kita berharap dari sesuatu yang tidak ada hasilnya? Semua orang mencari-cari uang untuk bertahan hidup. Semua orang mengharapkan keuntungan untuk menumpuk harta. Nah, ini malah ada orang yang membagi-bagikan uang, menyedekahkan harta. Dan alasannya pun sangat tidak logis, untuk mendapatkan balasan surga. Apa pula itu? Surga itu kan tidak tampak. Mana bisa dia merubah garis kehidupan kita? Ada-ada saja.

Coba perhatikan, setiap kelulusan perguruan tinggi, lapangan-lapangan pekerjaan selalu dipenuhi oleh para sarjana yang mencari kerja. Mereka rela berdesak-desakkan, hingga berpanas-panasan, demi mendapatkan pekerjaan. Inilah fakta, bagaimana orang berebut pekerjaan. Sudah bisa ditebak, orientasi mereka adalah untuk mendapatkan uang. Uang, uang, dan uang! Karena itulah, sangat aneh jika ada orang yang justru menghabiskan hartanya untuk “tabungan akhirat”.

Namun, kondisi itu memang ada. Orang-orang dengan idealisme kuat, rela mengorbankan semua yang mereka miliki hanya untuk kepentingan agama-Nya. Mereka yakin bahwa Allah akan membalas semua yang telah mereka korbankan. Mereka butuh uang, tapi hal itu tidak lantas menjadikan mereka “gila” tanpa uang. Uang yang mereka dapatkan, mereka sisihkan untuk kepentingan agama Allah. Tenaga, pikiran, dan waktu yang mereka punya, selalu mereka gunakan untuk kepentingan dakwah Islam.

Hal inilah yang disebut sebagai kekuatan ruhiyah. Kekuatan tanpa batas yang mampu merubah sesuatu yang tidak logis menjadi logis, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan sesuatu yang utopis menjadi realistis. Kok bisa?? Ajaib, pasti pake sihir atau dukun tuh! Ya enggak lah! Hohoho…

Kekuatan ruhiyah ini datang dari keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Ia dibangun berdasarkan prinsip perintah dan larangan Allah swt. Kekuatan ini lahir dari kesadaran seorang muslim atas hubungannya dengan Allah, Dzat yang Maha Mendengar, Dzat yang Maha Melihat, dan Maha Tahu seluruh perbuatan manusia, baik yang terlihat ataupun tidak, serta Dzat yang akan meminta pertanggungjawaban atas semua perbuatan manusia.

Kita bisa bercermin pada saudara-saudara kita di Palestina, yang tiap hari harus menghadapi tank-tank Israel. Dalam kondisi terjajah seperti itu, anak-anak kecil di Palestina justru dengan semangatnya berusaha melempari tank-tank tersebut walaupun hanya dengan menggunakan batu-batu kecil. Kalau kita pikir, tidak akan mungkin bisa mengalahkan tank-tank besar tersebut dengan batu kecil. Namun, hal itulah yang terjadi. Mereka sadar bahwa Israel adalah musuh umat Islam yang ingin merebut tanah Palestina, sehingga harus diperangi. Kenapa mereka tidak gentar menghadapi tank-tank besar tersebut? Karena mereka yakin bahwa Allah akan selalu hadir dengan pertolongannya.

Begitu juga yang terjadi pada saudara-saudara kita umat Islam di Bangladesh, yang harus berhadapan dengan pemerintahan yang kejam. Orang-orang yang menyerukan Islam di sana akan dipenjara. Namun, keadaan ini tidak lantas menjadikan para pengemban dakwah di sana diam. Hal ini sama sekali tidak menghambat mereka untuk tetap menyampaikan Islam ke tengah umat. Walaupun banyak dari mereka yang akhirnya dimasukkan ke dalam penjara, tapi hal tersebut tidak menjadikan alasan bagi mereka untuk menghentikan arus dakwah. Bahkan, ketika di dalam penjara pun mereka justru mendakwahi para narapidana yang ada di dalamnya, hingga terbentuk halqah-halqah. Subhanallah! Inilah kondisi yang diceritakan oleh salah satu ikhwah yang saya temui di jejaring facebook. Tanpa kekuatan ruhiyah, hal ini tidak akan mungkin terjadi.

Atas dasar kekuatan ruhiyah ini pula, ada sebagian orang yang memilih untuk tidak pacaran. Ahh, bilang aja nggak laku! Ups, jangan salah! Mereka cantik-cantik dan cakep-cakep lho… Lagi-lagi karena kekuatan ruhiyah inilah yang menjadikan mereka begitu teguh dengan pendiriannya. Mereka menghindari pacaran, karena Allah melarang hal tersebut. Lantas, apakah mereka tidak menikah?? Tentu saja tidak, mereka tetap menikah. Kan menikah itu sunnah Rasul, dan dapat menyempurnakan separo dien (agama) Allah. (*berbinar-binar*). Hanya saja, cara yang mereka tempuh untuk menuju pernikahan itu yang berbeda. Bukan dengan pacaran, melainkan dengan ta’aruf, kemudian khitbah, dan menikah.

Gimana bisa cocok kalau tidak melakukan penjajakan dulu?? Huh, pasti pernikahan model gituan tuh cuma bertahan seumur jagung. (skeptis: mode on). Ehm..ehm.. Walaupun pacaran dua puluh tahun juga, kalau ternyata bukan jodoh, ya nggak akan jadi suami istri kok. Percaya deh! Malu nggak tuh, sudah pacaran lama, tapi ternyata gulung tikar alias bubar tanpa nikah. Intinya adalah, jodoh itu ada di tangan Allah. (bijaksana: mode on).

Satu lagi perintah yang simple tapi cukup berat dijalankan oleh sebagian orang, terutama muslimah, yaitu menutup aurat. Suatu hari saya bertanya kepada salah seorang teman, “Menutup aurat itu wajib lho bagi muslimah. Kapan nih mau berjilbab?”. Kemudian dia menjawab, ”Nanti saja lah, sekarang kan saya masih muda, jadi saya ingin senang-senang dulu. Nanti kalau sudah menikah saja saya baru memakai kerudung.”

“Siapa yang menjamin anda hidup sampai dzuhur, jika Allah menakdirkanmu mati sekarang?”
(Abdul Malik ibnu Umar ibnu Abdul Azis)

Kita tidak pernah tahu sampai kapan Allah memberikan hidup pada kita. Bisa saja sebelum tua kita sudah dipanggil oleh Allah. Bisa saja sebelum menikah kita sudah meninggal terlebih dahulu. Lalu bagaimana kita akan menjalankan kewajiban menutup aurat? Jika nyawa sudah terpisah dari raga, tidak ada lagi reka ulang. Ya Allah, saya belum sempat menutup aurat, jadi ijinkan saya hidup lagi agar saya bisa menjalankan kewajiban saya. Impossible alias tidak mungkin! Ketika kematian itu telah datang, maka tidak ada remidi atau perbaikan amal, yang ada hanyalah penghitungan (hisab) amal. Dan sesungguhnya satu-satunya teman sejati yang bisa menyelamatkan kita di yaumil hisab adalah amal kebaikan kita selama di dunia.

Pada kesempatan lain, saya menanyakan hal yang sama kepada teman saya. Namun, jawaban berbeda yang saya dapatkan. “Saya sudah tahu kalau menutup aurat itu wajib. Tapi saya merasa belum siap. Saya belum mendapat hidayah. Saya merasa kelakuan saya masih belum sempurna. Daripada saya berjilbab tapi kelakuan masih belum baik, lebih baik nanti saja, saya akan menjilbabi hati saya dulu.”

Senyum simpul pun tidak bisa saya tahan. Ini nih jawaban klasik. Nggak di SMA, nggak di kuliah, ternyata jawaban ini tetap menjadi top reason. Menjilbabi hati terlebih dahulu. By the way, sejak lahir sampai se-gede ini, saya belum pernah menjumpai orang yang jualan jilbab buat hati tuh. Hehe… Ada-ada saja! Namanya juga alasan. Kalau tidak masuk akal ya harap dimaklumi.

Tanpa kita sadari, hidayah sering dijadikan dalih kemalasan atau alasan untuk menunda-nunda suatu perbuatan baik. Hidayah seakan menjadi “kambing hitam”. Padahal sebenarnya hidayah itu sudah diberikan oleh Allah kepada kita, ada yang gratis dan ada pula yang harus diupayakan atau berjuang untuk meraihnya.

Berbeda jika suatu perbuatan dilandaskan atas kekuatan ruhiyah. Mereka yang meyakini betul dan menaati perintah Allah, hanya dengan dibacakan dalil tentang (misal) wajibnya seorang muslimah untuk mengenakan kerudung (QS. An Nur: 31) dan memakai jilbab (gamis) (QS. Al Ahzab: 59), hati mereka langsung tergerak untuk melaksanakannya.

“….. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …..” (QS. An Nur: 31)
“… Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka …” (QS. Al Ahzab: 59)

Banyak teman saya yang pada awalnya termasuk gadis tomboy, tapi setelah mengetahui kedua ayat tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk memakai jilbab dan kerudung. Walaupun pada awalnya mereka menghadapi tertawaan dari teman-temannya. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadikannya berkecil hati, dan tetap mampu mempertahankan pakaian muslimah tersebut hingga saat ini. Subhanallah! Tentunya hal ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kekuatan ruhiyah yang mengiringinya.

Demikian dahsyatnya kekuatan ruhiyah ini, hingga mampu “memaksa” orang pendiam seperti saya (ehm..ehm) untuk membuka mulut, berkoar-koar menyerukan penerapan sistem Islam ke tengah umat. Juga memaksa “orang rumahan” (lagi-lagi) seperti saya, untuk sering-sering “menampakkan diri” di jalanan demi menyerukan Islam kepada umat serta muhasabah terhadap penguasa.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berpegang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi ) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

Mulai saat ini, marilah kita melakukan perbuatan atau amalan atas dasar kekuatan ruhiyah. Karena, inilah kekuatan yang paling kuat, lebih tahan lama, dan bersifat jangka panjang. Hanya dengan kekuatan ruhiyah inilah, ridha Allah akan kita dapatkan. Dengan kekuatan ruhiyah ini pula, keyakinan kita bahwa syariah Islam dalam bingkai Khilafah akan tegak di tengah umat, akan tetap menancap di dalam hati kita. Biarlah orang mengatakan perjuangan ini utopis. Suatu saat nanti, mereka akan melihat, betapa dahsyatnya kekuatan ruhiyah, sehingga mimpi yang mereka katakan utopis itu akan terwujud menjadi sebuah realita yang benar-benar realistis. Yakin, bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Tetaplah istiqamah di jalan dakwah, wahai para perindu kemenangan! Allahu Akbar!!!

Wallahua’lam bish showwab.

 

[Zakiya El Karima]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s