Review Novel “99 Cahaya di Langit Eropa”


Sebelumnya, aku paling benci membaca novel. Bukan apa-apa, aku hanya malas melihat postur novel yang super tebal. Melihat wujudnya saja sudah malas, apalagi membacanya. Rasanya hanya akan bikin ngantuk.

*****

Suatu hari, aku berkunjung ke rumah seorang adik tingkat, di daerah Sawojajar. Tak kusangka, dia adalah penyuka novel. Bahkan kalo boleh aku mengatakan, dia telah terjangkit virus novelisme. Aku melihat sendiri rak buku di kamarnya dipenuhi dengan puluhan -bahkan mungkin ratusan (aku tak tau)- novel berjajar rapi. Belum hilang rasa heranku melihat satu per satu judul novel di rak itu, dia segera menyodoriku satu novel bersampul hijau, “99 Cahaya di Langit Eropa”. Aku terdiam sejenak. “Aku harus membaca novel setebal ini? Oh Tuhan…,” batinku. Yach, akhirnya dengan berat hati kuterima novel pinjaman itu. Tapi aku mengatakan satu hal padanya, aku tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat, karena aku masih harus menyelesaikan skripsi. Itulah alasan paling logis menurutku yang bisa kukatakan padanya.

Berminggu-minggu novel itu bertengger di rak bukuku. Terapit di antara buku-buku jurnalistik. Seakan-akan dia berteriak, “Hey, baca aku!!” Aku tak mempedulikannya. Buku Analisis Wacana bersampul hitam ini lebih menuntut untuk segera diselesaikan. Karena buku inilah yang lebih berkontribusi bagi kelulusanku, daripada novel tebal yang hanya berisi dongeng.

Setelah sekian lama -mungkin berbulan-bulan- aku menelantarkan novel pinjaman itu, akhirnya suatu hari aku mencoba untuk membukanya. Lalu aku mulai membacanya, lembar demi lembar, hingga berujung pada terlelapnya mataku. Kupikir sudah lama sekali aku membacanya, ternyata belum sampai 1/10 dari keseluruhan isinya. Huh, aku menyerah!

Di lain hari, kulanjutkan proses membacaku yang seperti siput ini. Aku bahkan rela membawanya ke Jakarta, saat menghadiri Konferensi Intelektual Muslimah, demi bisa mengkhatamkannya segera. Sedikit demi sedikit aku mulai menemukan ‘rasa’ dari novel ini.

*****

Rupanya novel ini bukanlah dongeng. Ini adalah kisah nyata, yang diambil dari pengalaman Hanum Salsabiela Rais (puteri Amien Rais) dan suaminya, Rangga Almahendra, saat menempuh pendidikan doktoral di Wina, Austria. Novel ini bercerita tentang perjalanan menjelajahi Wina – Paris – Cordoba – Granada – Istanbul. Sebuah perjalanan menembus batas peradaban. Bukan perjalanan biasa, karena pada setiap tempat yang terjejaki, mereka menemukan kilauan cahaya Islam yang tertutupi debu sejarah. Subhanallah!

Sungguh, aku baru sadar bahwa di Paris ada tempat yang jauh lebih menyilaukan daripada Eiffel. Tempat-tempat itu antara lain, Musee de Louvre yang menyimpan lukisan Bunda Maria dengan hijab bertuliskan ‘La ilaha illallah’, Arc de Triomphe du Carrousel yang membentuk garis imajiner searah kiblat Mekkah, serta Le Grande Mosquee de Paris yang pernah menyelamatkan ratusan orang Yahudi dari pembantaian Hitler.

Sangat di luar dugaanku. Membaca novel ini, membuatku semakin cinta dengan Islam. Bukannya bosan, aku justru mendapatkan semangat baru darinya. Novel ini tak hanya berkisah, tapi juga menunjukkan bukti-bukti bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia. Jauh sebelum Eropa bangkit, dan tentunya, sebelum orang-orang Barat menyebarkan fitnah terorisme kepada kaum muslimin, melalui tragedi 9/11. Novel ini juga mengingatkan kepadaku bahwa sebelum Mezquita menjadi Gereja Kathedral terbesar di Cordoba, ia adalah sebuah masjid. Pun sebelum Hagia Sophia menjadi museum bersejarah di Istanbul, ia adalah gereja yang kemudian diubah menjadi masjid oleh Mohammad Al-Fatih dalam penaklukan Konstantinopel.

Inilah sisa-sisa peradaban Islam yang kilaunya semakin meredup. Maka jangan pernah memadamkannya. Nyalakan cahaya yang lebih terang untuk membuatnya semakin bersinar. Keyakinanku semakin membaja, bahwa peradaban Islam akan bersinar kembali. Insyaallah!

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur [24] : 55)

One thought on “Review Novel “99 Cahaya di Langit Eropa”

  1. Novel yang bukan dongeng sangat perlu dibaca, terutama bila memiliki rujukan yang benar bukan karangan belaka. seringkali kita terjerumus dalam kehidupan yang salah akibat salah membaca novel.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s