Review Novel “99 Cahaya di Langit Eropa”

Sebelumnya, aku paling benci membaca novel. Bukan apa-apa, aku hanya malas melihat postur novel yang super tebal. Melihat wujudnya saja sudah malas, apalagi membacanya. Rasanya hanya akan bikin ngantuk.

*****

Suatu hari, aku berkunjung ke rumah seorang adik tingkat, di daerah Sawojajar. Tak kusangka, dia adalah penyuka novel. Bahkan kalo boleh aku mengatakan, dia telah terjangkit virus novelisme. Aku melihat sendiri rak buku di kamarnya dipenuhi dengan puluhan -bahkan mungkin ratusan (aku tak tau)- novel berjajar rapi. Belum hilang rasa heranku melihat satu per satu judul novel di rak itu, dia segera menyodoriku satu novel bersampul hijau, “99 Cahaya di Langit Eropa”. Aku terdiam sejenak. “Aku harus membaca novel setebal ini? Oh Tuhan…,” batinku. Yach, akhirnya dengan berat hati kuterima novel pinjaman itu. Tapi aku mengatakan satu hal padanya, aku tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat, karena aku masih harus menyelesaikan skripsi. Itulah alasan paling logis menurutku yang bisa kukatakan padanya.

Berminggu-minggu novel itu bertengger di rak bukuku. Terapit di antara buku-buku jurnalistik. Seakan-akan dia berteriak, “Hey, baca aku!!” Aku tak mempedulikannya. Buku Analisis Wacana bersampul hitam ini lebih menuntut untuk segera diselesaikan. Karena buku inilah yang lebih berkontribusi bagi kelulusanku, daripada novel tebal yang hanya berisi dongeng.

Lanjut membaca

Revolusi Pendidikan Indonesia di Tangan Mahasiswa

Bulan Mei selalu menarik untuk membahas tentang pendidikan. Setiap setahun sekali bangsa ini rutin menyelenggarakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), yang jatuh bertepatan pada tanggal 2 Mei. Namun, sungguh keterlaluan jika pendidikan hanya kita bicarakan tiap peringatan Hardiknas saja. Karena, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan salah satu elemen penting yang akan menentukan masa depan generasi bangsa ini selanjutnya. Maka sudah seharusnya kita membawa tema pendidikan ini dalam setiap kesempatan, tentunya tidak hanya pada 2 Mei saja.

Ketika berbicara terkait pendidikan, ada dua hal yang layak untuk dikritisi, yaitu sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan. Dilihat dari sarana dan prasarana, pendidikan di Indonesia hingga saat ini dapat dikatakan masih jauh dari adanya sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gedung-gedung sekolah yang rusak dan tidak layak pakai. Bahkan yang sangat memprihatinkan, ada sekolah yang terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kandang kambing, karena keterbatasan sarana gedung yang dimiliki.

Dari segi kualitas pun ternyata tidak jauh berbeda. Kualitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari predikat unggul. Ini dapat dilihat dari banyaknya lulusan pendidikan tinggi yang ternyata tidak mampu menyelesaikan permasalahan bangsa. Para sarjana di negeri ini banyak yang justru menampakkan polah yang sama sekali tidak mencerminkan kaum terdidik, seperti korupsi, tawuran, narkoba, dan kriminal lainnya. Bukannya mencetak generasi unggul yang kritis, pendidikan di negeri ini malah melahirkan generasi pragmatis yang hanya ingin berpikir serba praktis. Sehingga dapat dikatakan pendidikan saat ini telah menyimpang dari tujuan awal yang seharusnya sebagai pencetak generasi bermoral dan berakhlak mulia.

Problematika pendidikan yang terjadi di negeri ini merupakan dampak dari sistem Kapitalisme.
Sistem inilah yang menjadikan manusia hanya berorientasi pada materi. Para capital (pemilik modal) telah memanfaatkan pendidikan sebagai lahan bisnis untuk menghasilkan uang. Persis dengan apa yang dikatakan oleh Peter McLaren bahwa dalam dunia Kapitalisme, sekolah adalah bagian dari industri, sebab sekolah adalah penyedia tenaga kerja atau buruh bagi industri. Maka wajar jika dalam Kapitalisme, pendidikan hanya ditujukan untuk memperoleh gelar, ijasah, dan pekerjaan, tanpa berorientasi pada ilmu. Lanjut membaca

Generasi Cemerlang dari Peradaban Gemilang

Bocah kecil itu sedang meminta-minta di bawah terik matahari. Ia dan beberapa temannya mulai mendatangi satu per satu kendaraan yang berhenti di lampu merah. Wajahnya sumringah, seperti tak ada beban. Semua itu ia lakukan demi terpenuhinya uang receh di kantongnya yang sudah usang. Uang yang jumlahnya tak seberapa itulah yang menjadi penentu hidupnya hari ini.

Plat merah pun datang. Dengan penuh harap bocah kecil itu menghampiri sedan hitam mengkilap yang terhenti di sampingnya. Berharap kan mendapatkan tambahan rezeki untuk makan siang adik. Namun, apa yang terjadi? Kaca gelap mobil itu tak sedikitpun bergeser. Sang bocah terus menunggu dengan sabar. Berharap ada yang membukakan kaca untuk menyodorkan kepingan uang. Bocah itu terus berdiri hingga lampu hijau menyala, dan plat merah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sekeping uang pun untuk sang bocah.

Begitulah ironi yang terjadi di negara ini. Bocah kecil yang tak mampu mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi, terpaksa menjadi pengemis di jalanan. Ia harus berpanas-panasan membanting tulang demi mendapatkan recehan uang. Di saat yang sama, ada seorang pejabat pemerintahan bermobil mengkilap, yang telah merasakan nikmatnya pendidikan hingga yang sangat tinggi sekalipun. Rentetan gelar pun tersemat di antara namanya.

Namun siapa sangka, ketika dihadapkan pada anak-anak jalanan, si pejabat hanya bisa berkata, ”Dasar anak-anak malas! Bisanya cuma minta-minta, tidak mau bekerja!”. Dan ucapan itu ternyata tak pernah diiringi dengan upaya serta langkah nyata untuk memperbaiki nasib anak bangsa yang dikatakan ‘malas’ tersebut. Sekali lagi, padahal si pejabat adalah orang yang berpendidikan tinggi. Lalu apa gunanya gelar sarjana Ilmu Sosial, sarjana Ekonomi, sarjana Hukum, sarjana Politik, sarjana Kedokteran, jika ternyata tak sedikitpun berguna bagi perbaikan bangsa? Lanjut membaca

Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa

Agenda besar Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa ini lahir di tengah keprihatinan terhadap kondisi generasi muda di Indonesia, negeri dengan penduduk mayoritas muslim, namun ajaran Islam yang luhur tidak terlihat membentuk peradaban bangsa ini.

Konferensi ini sangat istimewa karena di dalamnya ada persembahan karya untuk perbaikan bangsa yang berasal dari tangan perempuan-perempuan pilihan. Yakni kaum intelektual perempuan muslim yang mendedikasikan hidupnya untuk perubahan, karena sebuah keyakinan bahwa di tangan perempuan-lah generasi cemerlang akan terlahir.
Karya monumental ini terangkum dalam sebuah BUKU yang berjudul :
“Jalan Baru Intelektual Muslimah (Visi Politik Pembebas Generasi)”
Sebuah karya yang dipersiapkan sebagai jawaban atas pencarian solusi terhadap rusaknya generasi yang dihasilkan oleh sistem pendidikan pragmatis. Harapannya karya ini bisa memberi inspirasi bagi para intelektual perempuan di semua bidang untuk berjuang bersama bahu membahu melahirkan generasi cemerlang menuju negara yang besar, kuat dan terdepan.

Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dengan bangga mempersembahkan :

Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa

Ahad, 20 Mei 2012, mulai pukul 08.00-15.30 WIB

Bertempat di Graha Sabha Widya, Komplek Wisma Makara, Universitas Indonesia.

Peran Wanita dalam Kebangkitan Bangsa

Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi

Berangkat dari sebuah hadits yang mengatakan bahwa, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan betapa mulianya Islam dalam memandang seorang wanita yang diibaratkan sebagai perhiasan dunia paling baik. Namun, ternyata kondisi realitas justru bertentangan dengan hal itu. Wanita saat ini telah mengalami keterpurukan. Kasus-kasus pelecehan seksual, trafficking, penyiksaan, kerap dialami oleh wanita. Tidak hanya itu, dalam sistem Kapitalisme dengan kondisi ekonomi yang mencekik saat ini, juga memaksa wanita untuk membanting tulang. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para pengusaha dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat luas untuk wanita. Tentu, dengan syarat berpenampilan menarik. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka modal tenaga dan tekad pun jadi. Alhasil, banyak wanita yang berduyun-duyun mendaftarkan diri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Pahlawan devisa, begitulah pemerintah menyebutnya. Dengan bangga dan tanpa rasa berdosa, hampir setiap tahun pemerintah memberangkatkan ratusan bahkan ribuan wanita untuk menjadi budak di negeri orang (baca: TKW). Para wanita yang menjadi TKW tersebut tentunya bukanlah atas dasar sukarela. Namun, mereka bekerja karena himpitan ekonomi keluarga. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa wanita untuk turut melakukan pekerjaan berat, demi mendapatkan penghasilan (uang) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Walaupun taruhan yang harus mereka bayar tidak sedikit pula, siksaan dari majikan, pelecehan seksual, bahkan tak sedikit dari mereka yang harus kehilangan nyawa. Semua itu rela mereka lakukan demi uang. Lanjut membaca

Perempuan dan Perubahan

Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi (Ketua Gempita)

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa, “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila perempuannya buruk, maka buruk pulalah negara itu.” Hadits tersebut menggambarkan betapa peran perempuan sangat penting, bahkan dalam kehidupan bernegara. Perempuan dijadikan tolok ukur baik buruknya suatu negara. Kenapa bisa demikian?

Secara kuantitas, ternyata dari 6,5 milyar penduduk dunia 3,23 milyar-nya adalah perempuan. Itu berarti 49 persen penduduk dunia adalah perempuan. Hal ini menunjukkan betapa signifikannya peran perempuan, sekaligus semakin mengukuhkan bahwa perempuan adalah salah satu pilar kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa. Secara kualitas, perempuan juga menempati posisi paling strategis sebagai pencetak generasi bangsa. Suatu generasi unggul pasti terlahir dari rahim perempuan unggul. Maka kualitas generasi suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas para perempuannya.

Jika perempuan menjadi penentu kondisi suatu bangsa, maka bagaimanakah kondisi perempuan di Indonesia saat ini? Ternyata perempuan Indonesia masih mengalami keterpurukan dalam segala bidang kehidupan. Dalam hal ekonomi, perempuan masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok yang harganya semakin melangit. Tercatat sebanyak 22,77 juta jiwa perempuan Indonesia miskin, masih banyak perempuan yang tinggal di rumah kumuh, atau bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Belum lagi ditambah biaya kesehatan yang semakin meningkat, yang menyebabkan masyarakat miskin tidak bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Kesempatan mengenyam pendidikan juga sama sulitnya karena biaya pendidikan yang melambung tinggi. Dampaknya sebanyak 5,3 juta perempuan Indonesia masih buta huruf. Perempuan Indonesia juga masih belum terjamin keamanannya di ruang publik. Hal itu bisa dilihat dari masih maraknya pelecehan seksual, penyiksaan, serta perdagangan perempuan. Lanjut membaca

Sandiwara Kebebasan di Negeri Demokrasi

Tak terasa kita telah memasuki tahun baru 2012. Mungkin sedikit mendebarkan, karena ada yang sempat meramalkan bahwa di tahun 2012 ini akan terjadi kiamat. Banyak orang yang panik. Merasa belum siap menghadapi pengadilan Allah yang Maha Adil. Para koruptor pusing memikirkan nasibnya karena belum sempat bertaubat dan meminta maaf kepada seluruh rakyat yang dirugikan. Para wakil rakyat pun gelisah karena sering tidur pulas saat sidang soal rakyat. Terlebih para penguasa juga tak bisa tidur nyenyak karena takut mendapat azab Allah atas kelalaian terhadap amanahnya dalam memimpin rakyat. Namun, tak berselang lama, ternyata si peramal yang menyebarkan ‘hot issue’ tersebut terlebih dahulu menemui kiamat sughra-nya alias mati. Maka rumor menakutkan itupun sedikit demi sedikit mulai terlupakan.

Alih-alih bertaubat, para koruptor di negeri ini justru semakin menjadi-jadi. Artalyta, Gayus Tambunan, Nunun, serta sederet nama lain, mulai bermunculan sebagai ‘artis baru’ dunia korupsi. Bahkan Nazaruddin tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mantan bendahara umum Partai Demokrat itupun juga tak mau ketinggalan dan turut berpartisipasi sebagai artis dalam dunia perkorupsian ibukota. Wajah mereka selalu bertengger di berbagai media massa. Kelakuan mereka selalu menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Kicauan mereka pun selalu menuai kontroversi panjang yang membosankan. Semua mata tertuju pada ‘artis baru’ tersebut. Banyak ‘paparazi’ yang mengikuti mereka. Seolah ingin mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Hingga saat berlibur ke Bali, si Gayus harus rela melakukan penyamaran agar tidak tertangkap kamera. Inilah resiko menjadi artis.

Tak hanya itu, Artalyta pun dengan malu-malu memamerkan ruang tahanan VIP nya. Kasur springbed, AC, hingga salon kecantikan ada di dalamnya. Bahkan, setiap saat dia dapat melakukan rapat di dalam sel. Keluarganya pun bebas berkunjung dan menginap di sana. Hal ini ternyata tak jauh berbeda dengan nasib rekannya sesama artis, Nazaruddin. Artis ini mendapat perlakuan khusus dari kepolisian, dengan diijinkan sholat Idul Fitri di luar tahanan. Padahal di saat yang sama, puluhan tahanan lain tidak diperbolehkan keluar dari area tahanan. Selain itu, ada juga artis bernama Nunun, yang mengaku hilang ingatan saat ditanya terkait tindakannya. Ah, tidak usah heran lah, namanya juga artis. Kalau masalah akting mah sudah banyak makan garam. Lanjut membaca

Melawan Pertentangan

Ini bukan tentang suatu tawaran, melainkan sebuah pilihan dan konsekuensi keimanan.
Tentang sebuah janji yang menuntut bukti.
Kesaksian ‘La ilaha illallah’ bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Dan aku telah mengucapkannya, meyakininya.
Tak cukup manis di bibir saja, namun harus terwujud dalam amal nyata.
Maka telah kuputuskan pilihan hidupku, tuk bergabung dalam barisan pejuang Syariat-Mu.

Tak tepat jika kalian anggap kami apatis.
Karena solusi yang kami tawarkan bukanlah solusi pragmatis, melainkan solusi ideologis yang bersumber dari Qur’an dan Hadits.
Sedangkan perubahan yang kami inginkan juga bukanlah perubahan lokal (saja), melainkan perubahan secara global.
Maka jangan pula kalian menganggap kami hanya membual.

Khilafah yang kami serukan bukanlah ide utopis.
Mungkin kalian kurang kritis, hingga tak mampu melihat bahwa ini sungguh realistis.
Karena ini adalah janji Ilahi, yang tertuliskan dalam kitabus syar’i.
Maka harus kami yakini, dan cukup janji inilah yang menguatkan perjuangan kami.
Sebagai bukti atas keimanan yang hakiki.

 

- Zakiya El Karima -

Sekeping Harapan di Padang Iman

Dia telah memilih jalan hidupnya. Bertahan dalam masa lalunya yang kelam. Hatiku berontak, menolak. Namun, entah kenapa, mulutku hanya terdiam membisu. Tak ada sepatah katapun terlontar dari lisan ini. Dingin, kaku, jantungku berdegup kencang. Amarahku membuncah dalam diam. Hingga dia pun berlalu meninggalkanku.

“Ah, lagi-lagi aku tak mampu mencegahnya!” keluhku pada diriku sendiri.

Ini bukan pertama kalinya jiwaku terguncang. Aku bosan dengan hidupku selama ini. Berkumpul dengan kawan-kawan baik yang selalu berbuat jahat. Rasanya ingin sekali aku lari, meninggalkan manusia-manusia yang telah kukenal sejak enam tahun lalu itu. Komunitas pecandu narkoba, pemabuk, pencopet, kumpulan para pemalas. Arrrghh… Aku benci kalian!

“Sudahlah, Tuhan itu Maha Pengampun. Seberapa banyak pun dosa yang kau lakukan, Dia pasti sudi membersihkan dosamu,” batinku.

***

Kejadian yang kualami dua minggu lalu benar-benar berhasil membuatku gelisah hingga detik ini. Merasa selalu diawasi dan dikejar oleh sosok hitam pencabut nyawa. Dua minggu lalu aku ditabrak oleh seorang perempuan berkerudung besar yang mengendarai sepeda motor. Saat itu aku juga sedang naik motor, sambil asyik menikmati alunan lagu dengan headset yang menyumbat kedua telingaku.

Tanpa kusadari, posisi motor yang kukendarai telah berada di tengah jalan. Banyak yang membunyikan klakson untuk memperingatkanku. Namun, rupanya suara nyanyian di telingaku lebih keras daripada suara klakson kendaraan di belakangku. Aku pun tak mendengarnya. Akibat kecerobohanku itulah, sebuah motor menabrakku. Aku tersungkur di tepi jalan. Walau jelas itu salahku, tapi aku tetap menghujat perempuan yang menabrakku itu.

“Astaghfirullah…” ucap perempuan itu kaget.

“Mbak, gak punya mata ya? Saya ga ngapa-ngapain tiba-tiba ditabrak!” teriakku marah. Lanjut membaca

Kamboja Terakhir

Bukankah bermimpi itu adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan, menyenangkan, dan tidak beresiko? Bayangkan saja, ketika kau bermimpi kemudian mimpimu tersebut tidak terwujud. Apakah kau merugi? Sama sekali tidak! Ah, namanya juga mimpi.

Maka suatu hari kuputuskan untuk merencanakan mimpi-mimpiku. Di bawah langit yang teduh, aku berjalan seorang diri. Berlalu tanpa mempedulikan puluhan nyawa yang kulewati. Sisa-sisa air hujan semalam masih tampak bergelantungan di dahan. Kabut tipis pun menyelimuti alam, menghalangi pemandangan gunung di hadapanku.

“Andai saja hari ini aku bisa melihat wajah gunung yang berjejer itu. Aku selalu ingin pulang jika melihatnya,” gumamku lirih.

Tak terasa, aku pun telah menjauh dari kerumunan orang-orang itu. Kini aku berada di sebuah tempat yang rindang, sejuk, dan sepi. Sebagian orang selalu mengatakan tempat ini mencekam, tapi tidak bagiku. Ini adalah tempat yang sangat indah. Tak tampak satu orang pun di tempat ini. Aku sendirian. Walau sebenarnya tidak, karena aku yakin di sini pasti sangat ramai, hanya saja aku tak mampu menyaksikan keramaian itu. Mataku masih normal.

Segera kusandarkan tubuhku di bawah pohon Kamboja yang sedang berbunga. Wanginya menggodaku untuk memetik sebagian bunga dari tangkainya. Namun, belum sampai tanganku menggapai tangkai, seseorang mencegahku dengan menepuk pundakku. Aku pun terkejut olehnya. Segera ku balikkan badanku untuk melihat sosok yang mengagetkanku itu. Sepi, tak ada siapapun di belakangku. Kulemparkan pandanganku ke setiap sudut kompleks pemakaman ini. Nihil, tetap tak kutemukan.

(bersambung…)

Cahaya di Balik Api

Oleh: Rizki Amelia Kurniadewi

Pagi ini tak seperti biasanya. Sejak pagi, kota yang telah lembab ini diguyur hujan deras. Aku pun harus mengurungkan niat untuk jalan-jalan ke kampus. Hari minggu begini sudah menjadi kebiasaan bagi mahasiswa sepertiku untuk refreshing dari kepenatan tugas-tugas kuliah dan organisasi. Bisa ku bayangkan suasana kampus saat hari minggu. Pastinya lebih nyaman dari hari-hari biasanya. Orang-orang terlihat lebih santai. Tanpa tas ransel, tanpa setumpuk paper, tanpa map, tanpa kemeja, dan yang paling penting tanpa sepatu. Ya, inilah momen yang paling ku sukai, berjalan dengan memakai kaos oblong dan celana cingkrang, serta sandal jepit khas anak kos. Oh, andai saja hari ini aku melakukannya.

Sesekali ku tengok ke luar jendela. Langit masih mendung, sedangkan tetesan hujan ini tampaknya tak sedikitpun berkurang. Ku lirik jam dinding di kamarku. Jarum pendek menunjuk pada angka 6, dan jarum panjang di angka 11. “Masih pagi sekali,” gumamku sambil menghela napas. Ku balikkan badanku dan kembali ke kasur. Lalu ku rebahkan tubuhku di atas spon tipis ini. Namun, saat mataku mulai sedikit terpejam, tiba-tiba ada suara memanggilku.

“Mas Lana!!! Mas Lana!!!” teriak seseorang di depan kamar.

Aku pun terpaksa bangkit dari tidurku, dan bergegas membukakan pintu kamar.

“Eh, ada apa Rid?” sambutku dengan rambut yang masih berantakan.

“Wah, sampeyan ternyata masih tidur ya mas? Maaf lho mas, saya sudah ganggu,” Farid merasa bersalah.

“Ah, nggak kok. Aku cuma tiduran aja, nggak tidur beneran,” jawabku sambil tertawa.

“Begini mas, aku mau pinjam buku kuliah sampeyan mas. Minggu depan kan sudah mulai kuliah pertamaku, jadi harus dipersiapkan. Mas punya buku apa aja? Mungkin aja ada yang sama,” ungkap Farid dengan gaya khas mahasiswa baru. Kami pun segera terlarut dalam perbincangan hangat seputar kampus, lebih tepatnya tentang mahasiswa baru. Lanjut membaca

Sukses itu…

Rumusan sukses menurut saya :

  • Sukses adalah ketika saya berhasil melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah dengan ikhlas, sehingga Allah ridho terhadap apa yang saya lakukan.
  • Sukses adalah ketika saya berhasil menghilangkan rasa tidak percaya diri dan segala pikiran negatif yang bersarang di benak saya, yang membuat saya terpenjara dalam sikap fatalis.
  • Sukses adalah ketika apa yang belum bisa saya lakukan kemarin telah mampu saya lakukan hari ini.
  • Sukses adalah ketika saya semakin dekat dengan Allah, dan keimanan saya semakin bertambah kuat.
  • Sukses adalah ketika saya bisa menundukkan hawa nafsu dari pikiran maupun indera saya.
  • Sukses adalah ketika saya bisa menyampaikan kebenaran kepada orang lain hingga dia paham dan mau berubah pada jalan yang benar. (zakiyaelkarima)